TUGAS PASDA

NAMA:ALBERTA RANTI
NIM:IK 2016-002
SEMESTER:III

BACAAN INJIL Matius(21:28-32)

Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

RENUNGAN/HOTBAH
Selamat Pagi Pastor, Suster, Bapak, Ibu serta Saudara- Saudari Yang Terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus. Pada pagi yang cerah ini mari kita mengucapkan syukur an selalu bersyukur karena Tuhan masih mengasihani kita dan memberikan kita kesehatan.
Pada Bacaan Pertama hari ini Allah memberikan pertanyaan kepada orang-orang Israel yang mengatakan bahwa “ Tindakan Tuhan tidak tepat !” serta Allah menanyakan tindakan Ia atau tindakan mereka yang tidak tepat, Allah menegaskan kepada orang Israel “ Barangsiapa yang bersikap curang maka ia akan mati karena kecurangan yang ia lakukan.” Tetapi bila orang berdosa bertobat dan melakukan kebenaran maka ia akan menyelamatkan nyawanya. Di dalam hidup kita sering melakukan kecurangan demi mencapai apa yang kita inginkan, tetapi tanpa kita sadari kita mengorbankan banyak orang karena kecurangan kita, dan kita sama sekali tidak ingin memperdulikan hal itu bahkan dosa sekali pum karena sering orang berpikir bahwa “ Tuhan akan mengampuni Dosa saya”.
Dan Pada Bacaan Injil pada hari ini Tuhan menegur kefasikan orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat dalam sebuah cerita dimana di situ “ Ada dua orang anak yang di suruh oleh bapanya untuk bekerja di kebun anggur, Anak yang sulung mengatakan iya tetapi tidak melaksanakannya sedangkan anak bungsu mengatakan tidak mau tetapi kemudian menyesal dan pergi untuk bekerja di kebun anggur tersebut.” Di dalam hidup sering kita melakukan apa yang di perbuat oleh anak sulung tersebut kita sering menjawab Iya demi menyenangkan hati Bapa tetapi kita tidak melakukan, sesungguhnya sifat seperti itulah yang membuat Bapa kecewa. Sejenak saya teringat dengan pengalaman masa kecil saya, saya sering berkata tidak mau ketika saya di suruh oleh ibu saya, tetapi saya berdiam dan berpikir akhirnya saya melakukan apa yang diperintahkan ibu saya karena saya takut bila nanti saya dimarahi dan membuat ibu saya kecewa. Tetapi kita saya bertumbuh remaja ini saya sering menunda nunda pekerjaan dan akhirnya tidak melaksanakannya dan sering juga saya dimarahi oleh ibu saya karena sikap saya yang menunda-nunda waktu tersebut. Dengan cerita pengalaman pribadi saya serta cerita yang di sampaikan Yesus kepada orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat , Yesus menegaskan bahwa sesunguhnya mereka yang berdosa contohnya seperti pemungut cukai dan pelacur yang menyesali dan bertobat serta percaya kepada-Nya lah yang akan lebih dulu masuk kerajaan Surga, Sebab “Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, tetapi kamu tidak percaya tetapi mereka yang berdosa menyesal dan percaya kepadanya, meskipun kamu melihat nya, tetapi kamu tetaptidak menyesal daan juga tidak percaya.
Semoga Renungan singkat ini menjadi berkat serta menyadarkan kita bahwa kita Sebagai Anak Allah hendaknya melakukan apa yang diperintahkan dan percaya kepada-Nya agar kita ikut masuk menikmati kerajaan surgawi. Janganlah kita seperti orang farisi dan ahli taurat yang melihat tetapi tidak menyesal serta tidak percaya. Semoga kita dapat mewujudnyatakan Sabda Tuhan ini dalam kehidupan kita sehari- hari bukan hanya berkata iya tetapi tidak melakukannya, tetapi pergi dan lakukanlah apa yang diperintahkan Bapa. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

Iklan
Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

TUGAS PASDA

NAMA            : THERESIA LEDA MAMA

NIM                : IK 2016 015

MK                  : PASTORAL DASAR

 

Renungan Harian

Minggu Adven III

 

Lukas, 1:48-49,49-50,53-54

Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, puji dan syukur kita haturkan kehadirat Tuhan yang maha esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kita dikumpulkan kembali ditempat ini dalam keadaan sehat walafiat. Pada pagi hari  ini kita kembali disegarkan oleh firman Tuhan, injil pada hari ini menceritakan kebahagiaan dari Maria, injil pada hari ini juga mengajak kita untuk berbahagia bersama Maria dan pada masa adven ini kita diajak untuk mempersiapkan hati dan batin kita agar kita layak untuk berbahagia bersama Maria dan suaminya dalam menyambut kehadiran penyelamat kita Yesus Kristus, dalam masa adven ini juga kita diminta untuk senantiasa bertobat dan menyesali segala perbuatan kita agar kita layak menyambut Kristus yang lahir dan juga diharapakan kita memperbaiki segala tingkah laku kita segala perbuatan kita, dan kita juga diharapkan semakin berbuat baik dari hari ke hari bukan hanya pada masa adven ini, tapi dalam hari-hari hidup kita dimana pun kita berada, agar sesama yang berada disekitar kita dapat memperoleh sukacita abadi. Semoga dengan merenungkan sabda-Nya pada hari ini kita semakin mampu untuk berbuat baik dan menjadi pembawa sukacita. Amin.

 

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

PASTORAL DASAR

Tugas Pastoral Dasar

Nama :Alberta ranti
Nim :ik 2016-002
Semester:III

Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

TATA PERAYAAN SABDA HARI MINGGU BIASA XXVI TAHUN(A)

RITUS PEMBUKA
1. Perarakan Masuk (MB 676)

2. Tanda Salib
P: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin.

3. Salam
P: Semoga kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.

4. Kata Pengantar
Saudara saudari yang terkasih. Ada orang yang mudah mengatakan “ya, saya mau…”, tetapi tidak melaksanakannya. Janji tinggal janji. Dalam keidupan bersama, oran seperti itu dikatakan “ pembohong , tidak konsekuen, hanya ngomong saja.” Yang mampu mengantar kita kepada Tuhan adalah kehidupan bersama yang tidak diwarnai sikap egois , sikap yang hanya memikirkan diri sendiri. Dalam hidup bersama diperlukan sikap solider, sikap mau mengerti, sikap tenggan rasa, dan sikap saling menerima satu sama lain. Iman harus nyata dalam perbuatan.

5. Tobat Dan Permohonan
P: Saudara-saudari,di hadapan Tuhan yang kini hadir di tengah kita, marilah menyesali dan mengakui segala dosa, serta memohon ampun atas segala kekurangan kita supaya pantas bertemu dengan Dia dan layak merayakan Sabda penyelamatan-Nya.
(Hening sejenak…)
Saya mengaku, kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya kepada Allah Tuhan kita.
P: Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U: Amin.

6. Tuhan Kasihanilah (MB 716)

7. Madah Kemuliaan (MB 717)

8. Doa Pembuka
P: Marilah berdoa.
Ya Allah, Engkau menyatakan kuasa-Mu yang tak terhingga terutama dengan menyayangi dan mengasihani kami. Lipatgandakanlah rahmat-Mu atas kami agar kami mengejar hidup yang Engkau janjikan dan kelak mendapat bagian dalam sukacita surgawi. Maka kami mohon berkat-Mu lewat pengantaraan Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.
U: Amin.

LITURGI SABDA
9. Bacaan Pertama
L: Bacaan dari Kitab Yehezkiel (18 : 25-28)
Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya.Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
L : Demikianlah Sabda Tuhan.
U : Syukur kepada Allah

10. Mazmur Tanggapan

11. Alleluya/Bait Pengantar Injil
Alleluya 962
Alleluya…. Alleluya… Alleluya…
Ayat:
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, Sabda Tuhan,
Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.

12. Bacaan Injil
P : Semoga Tuhan beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.
P: Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Matius(21:28-32)
U : Dimuliakanlah Tuhan.
Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”
P : Demikianlah Injil Tuhan.
U : Terpujilah Kristus.

13. Renungan
Selamat Pagi Pastor, Suster, Bapak, Ibu serta Saudara- Saudari Yang Terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus. Pada pagi yang cerah ini mari kita mengucapkan syukur an selalu bersyukur karena Tuhan masih mengasihani kita dan memberikan kita kesehatan.
Pada Bacaan Pertama hari ini Allah memberikan pertanyaan kepada orang-orang Israel yang mengatakan bahwa “ Tindakan Tuhan tidak tepat !” serta Allah menanyakan tindakan Ia atau tindakan mereka yang tidak tepat, Allah menegaskan kepada orang Israel “ Barangsiapa yang bersikap curang maka ia akan mati karena kecurangan yang ia lakukan.” Tetapi bila orang berdosa bertobat dan melakukan kebenaran maka ia akan menyelamatkan nyawanya. Di dalam hidup kita sering melakukan kecurangan demi mencapai apa yang kita inginkan, tetapi tanpa kita sadari kita mengorbankan banyak orang karena kecurangan kita, dan kita sama sekali tidak ingin memperdulikan hal itu bahkan dosa sekali pum karena sering orang berpikir bahwa “ Tuhan akan mengampuni Dosa saya”.
Dan Pada Bacaan Injil pada hari ini Tuhan menegur kefasikan orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat dalam sebuah cerita dimana di situ “ Ada dua orang anak yang di suruh oleh bapanya untuk bekerja di kebun anggur, Anak yang sulung mengatakan iya tetapi tidak melaksanakannya sedangkan anak bungsu mengatakan tidak mau tetapi kemudian menyesal dan pergi untuk bekerja di kebun anggur tersebut.” Di dalam hidup sering kita melakukan apa yang di perbuat oleh anak sulung tersebut kita sering menjawab Iya demi menyenangkan hati Bapa tetapi kita tidak melakukan, sesungguhnya sifat seperti itulah yang membuat Bapa kecewa. Sejenak saya teringat dengan pengalaman masa kecil saya, saya sering berkata tidak mau ketika saya di suruh oleh ibu saya, tetapi saya berdiam dan berpikir akhirnya saya melakukan apa yang diperintahkan ibu saya karena saya takut bila nanti saya dimarahi dan membuat ibu saya kecewa. Tetapi kita saya bertumbuh remaja ini saya sering menunda nunda pekerjaan dan akhirnya tidak melaksanakannya dan sering juga saya dimarahi oleh ibu saya karena sikap saya yang menunda-nunda waktu tersebut. Dengan cerita pengalaman pribadi saya serta cerita yang di sampaikan Yesus kepada orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat , Yesus menegaskan bahwa sesunguhnya mereka yang berdosa contohnya seperti pemungut cukai dan pelacur yang menyesali dan bertobat serta percaya kepada-Nya lah yang akan lebih dulu masuk kerajaan Surga, Sebab “Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, tetapi kamu tidak percaya tetapi mereka yang berdosa menyesal dan percaya kepadanya, meskipun kamu melihat nya, tetapi kamu tetaptidak menyesal daan juga tidak percaya.
Semoga Renungan singkat ini menjadi berkat serta menyadarkan kita bahwa kita Sebagai Anak Allah hendaknya melakukan apa yang diperintahkan dan percaya kepada-Nya agar kita ikut masuk menikmati kerajaan surgawi. Janganlah kita seperti orang farisi dan ahli taurat yang melihat tetapi tidak menyesal serta tidak percaya. Semoga kita dapat mewujudnyatakan Sabda Tuhan ini dalam kehidupan kita sehari- hari bukan hanya berkata iya tetapi tidak melakukannya, tetapi pergi dan lakukanlah apa yang diperintahkan Bapa. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

14. Syahadat
P : Aku Percayaakan Allah Bapa yang Maha Kuasa pencipta langit dan bumi dan akan Yesus Kristus Putra-Nya yang tunggal Tuhan kita. Yang dikandung oleh Roh Kudus dilahirkan oleh Santa Perawan Maria, yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus disalibkan, wafat, dan di makamkan yang turun ketempat penantian pada hari ke tiga Ia bangkit dari antara orang mati.Ia naik ke surga duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Kuasa.dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan yang kekal, Amin.

15. Doa Umat
P: Kita semua dihimpun di dalam kerajaan keselamatan Bapa melalui Kristus Putera-Nya. Maka marilah kepada Bapa kita panjatkan doa-doa kita sebagai putra-putri-Nya yang terkasih:
L: Bagi semua umat Kristen: Semoga semua umat Kristen dipersatukan di dalam nama Yesus, sehigga dalam setiap langkah hidup ini, seluruh umat-Mu selalu mendengar Sabda Putra-Mu dan tekun melaksanakannya. Marilah kita mohon:
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Bagi para pemimpin bangsa: Semoga para pemimpin bangsa di dunia ini selalu diterangi oleh Sabda-Mu, agar setiap kebijaksanaan yang mereka ambil, mengalir dari pewartaan Kristus sendiri demi keselamatan seluruh alam semesta. Marilah kita mohon:
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Bagi para penderita: Semoga pengharapan orang-orang yang menderita mendapat peneguhan dan penghiburan berkat Warta Gembira keselamatan Kristus. Marilah kita mohon:
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Bagi kita semua: Semoga pengharapan akan kasih Kristus selalu bertumbuh sebagaimana Yohanes Pembaptis menanti-nantikan kedatangan Sang Penyelamat sehingga kita siap sedia untuk selalu melaksanakan kelembutan serta kerendahan hati-Nya dalam setiap langkah hidup ini. Marilah kita mohon:
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P: Bapa yang Mahabaik, sudilah memandang kami sebagaimana Engkau memandang Putra-Mu dengan penuh kasih sayang. Sebab Dialah Tuhan dan Pengantara kami.
U: Amin

16. Persembahan(MB 683)

17. Doa Persipan Persembahan
P : Allah ,Bapa sumber segala cinta kasih, kami mohon kapada-Mu terimalah persembahan kami dan satukanlah segala doa dan persembahan kami ini dengan berkat Karunia-Mu. Doa dan persembahan ini kami serahkan dengan perantara Tuhan kami Yesus Kristus yang bersatu dengan Dikau dan oh Kudus yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa.

18. Doa Pujian
P : Saudara-saudari terkasih, setelah menyadari karya keselamatan Allah bagi kita, marilah kita memuji Dia :
5 5 | 1 1 7 6 7 7 | 1 . 0||
P: Ter- pu- ji- lah, Eng- kau di sur- ga.
U : Ter- pu- ji- lah, Eng- kau di sur- ga.

RITUS KOMUNI
19. Tanpa Komuni
P: Saudara-saudari,
pada perayaan ini kita tidak menyambut Komuni Kudus, maka bersama dengan saudara-saudari separoki yang menyambut Komuni, marilah mengahayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita.
(Hening sejenak)

20. Bapa Kami
P : Saudara-saudari terkasih, kita telah dipesatukan oleh iman yang sama. Maka, sebagai putra-putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri.
U : Bapa kami yang ada disurga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajan-Mu jadilahkehendak-Mu diatas bumi seperti di dalam surga, berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah masukan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.

21. Doa Damai
P : Saudara-saudari, Tuhan Yesus Kristus bersabda kepada para rasul, “ Damai ku tinggalkan kepada-Mu.” Maka marilah kita mohon kepada-Nya. “Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah, iman Gereja-Mu, dan restuilah kami, supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dangan kehendak-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa
U : Amin.

22. Salam Damai
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.

23. Doa Komuni Batin
P : Saudara-saudari terkasih, Yesus bersabda, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”(Yoh.14:23). Oleh karena itu, marilah kita duduk dalam keheningan untuk menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir saat ini di sini bersama kita. Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan mengatakan:
P: Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku.
Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
U: Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku.
Jadikalah hatiku seperti hati-Mu.

RITUS PENUTUP
24. Pengumuman

25. Amanat Pengutusan
Saudara-saudari yang terkasih. Tidaklah cukup kata-kata bagus seperti yang diucapkan anak sulung dalam injil. Dia mengaku pergi bekerja di kebun, padahal tidak melaksanakan apa yang dikatakannya itu. Kita mungkin masih seperti anak sulung itu, bahkan sering menjanjikan hal-hal yang indah kepada Allah, namun kita sendiri mengingkarinya. Marilah kita selalu beusaha menyelaraskan pikiran , kehendak dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

26. Doa Penutup
P : Marilah berdoa.
Ya Tuhan semoga perayaan sabda ini memulihkan jiwa raga kami. Semoga kami, yang ikut serta dalam kenangan akan sengsara dan wafat putra-Mu, menjadi ahli waris bersama Dia dalam kemuliaan surgawi. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami.
U : Amin.

27. Mohon Berkat Tuhan
P : Saudara-saudari terkasih,
Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala, memohon berkat Tuhan.
(Hening sejenak)
P : Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U : Amin.
Sambil membuat Tanda Salib pada diri sendiri.
Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Saudara sekalian, Perayaan Sabda pada hari Minggu ini sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah.

28. Pengutusan
P : Marilah pergi, kita diutus Tuhan untuk mewartakan cinta kasih.
U : Amin.

29. Perarakan Keluar (MB 300 )

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

tugas pasda

NAMA: PIPIT  NOPA DANIEL

NIM: IK 2016 010

MK: PASTORAL DASAR

 

 

 

AKU PERCAYA

 

Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi; dan akan Yesus Kristus PuteraNya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati; yang naik ke surga, duduk disebelah kanan Allah Bapa yang maha kuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan yang kekal. Amin.

 

Kompendium menggambarkan tindakan penciptaan lengkap selama enam hari sampai pada godaan leluhur kita yang pertama (bdk. Kej 1-3). ”Ya Allah, betapa banyak perbuatan-Mu! Semuanya Kaujadikan dalam kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. Lihatlah laut itu. Besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak tidak terbilang banyaknya binatang-binatang yang kecil dan besar. Di situ, kapal-kapal berlayar dan Leviathan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya. Semuanya menantikan Engkau supaya diberi makanan pada waktunya. Apabila Engkau memberikannya, mereka mengambilnya; apabila Engkau membuka tangan-Mu, mereka dikenyangkan oleh kebaikan. Pada malam Paskah, Gereja memuji Allah karena karya Allah yang bahkan lebih indah lagi, yaitu penebusan umat manusia dan alam semesta: ”Allah yang mahakuasa dan kekal, Engkau telah menciptakan segala sesuatu dengan begitu indah dan teratur. Kini, bantulah kami untuk memahami betapa jauh lebih indahnya penciptaan baru dalam penebusan umat-Mu, pada saat kepenuhan waktu, melalui kurban Paskah kami, Yesus Kristus

Allah, yang sempurna dan penuh bahagia, berencana membagikan kebaikan-Nya dengan menciptakan manusia agar manusia ikut ambil bagian dalam kebahagiaan-Nya. Dalam kepenuhan waktu, ketika saatnya tiba, Allah Bapa mengutus Putra-Nya sebagai Penebus dan Penyelamat manusia, yang sudah jatuh ke dalam dosa, memanggil semuanya ke dalam Gereja-Nya, dan melalui karya Roh Kudus, mengangkat mereka sebagai anak-anak-Nya dan pewaris kebahagiaan abadi.Kemampuan manusia untuk mengenal Allah Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu, dan tidak tenanglah hati kami sampai kami beristirahat dalam Engkau” (Santo Agustinus)

 

Dipublikasi di Pastoral Dasar, Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

PASTORAL DASAR

NAMA            : THERESIA LEDA MAMA

NIM                : IK 2016 015

SEMESTER    : III (TIGA)

 

DOA AKU PERCAYA

AKU PERCAYA AKAN ALLAH, BAPA YANG MAHA KUASA, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI. DAN AKAN YESUS KRISTUS, PUTERANYA YANG TUNGGAL, TUHAN KITA. YANG DIKANDUNG DARI ROH KUDUS, DILAHIRKAN OLEH PERAWAN MARIA. YANG MENDERITA SENGSARA, DALAM PEMERINTAHAN PONTIUS PILATUS, DISALIBKAN, WAFAT DAN DIMAKAMKAN. YANG TURUN KETEMPAT PENANTIAN, PADA HARI KETIGA BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI. YANG NAIK KE SURGA, DUDUK DISEBELAH KANAN ALLAH BAPA YANG MAHA KUASA. DARI SITU IA AKAN DATANG MENGADILI ORANG HIDUP DAN MATI. AKU PERCAYA AKAN ROH KUDUS, GEREJA KATHOLIK YANG KUDUS, PERSEKUTUAN PARA KUDUS, PENGAMPUNAN DOSA, KEBANGKITAN BADAN, KEHIDUPAN KEKAL. AMIN

 

BAB SATU
KEMAMPUAN MANUSIA UNTUK MENGENAL ALLAH
Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu,
dan tidak tenanglah hati kami
sampai kami beristirahat dalam Engkau”
(Santo Agustinus)

  1. Apa rencana Allah untuk manusia?


    Allah, yang sempurna dan penuh bahagia, berencana membagikan kebaikan-Nya dengan menciptakan manusia agar manusia ikut ambil bagian dalam
kebahagiaan-Nya. Dalam kepenuhan waktu, ketika saatnya tiba, Allah Bapa
mengutus Putra-Nya sebagai Penebus dan Penyelamat manusia, yang sudah
jatuh ke dalam dosa, memanggil semuanya ke dalam Gereja-Nya, dan melalui
karya Roh Kudus, mengangkat mereka sebagai anak-anak-Nya dan pewaris
kebahagiaan abadi.

  1. Mengapa manusia mempunyai kerinduan akan Allah?


    Allah, dalam menciptakan manusia menurut citra-Nya, telah mengukirkan
dalam hati manusia kerinduan untuk melihat Dia. Bahkan walaupun kerinduan
ini diabaikan, Allah tidak pernah berhenti menarik manusia kepada dirinya karena hanya dalam Dialah manusia dapat menemukan kepenuhan akan
kebenaran yang tidak pernah berhenti dicarinya dan hidup dalam kebahagiaan.
Karena itu, menurut kodrat dan panggilannya, manusia adalah makhluk religius
yang mampu masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Hubungan akrab dan
mesra dengan Allah mengaruniakan martabat kepada manusia.
27-30
44-45
1-25
”Betapa besar dan sungguh agunglah Engkau, ya Allah. …
16

  1. Bagaimana mungkin manusia mengenal Allah hanya melalui terang

Dengan bertolak dari ciptaan, yaitu dari dunia dan pribadi manusia, hanya
melalui akal budinya manusia dapat mengenal Allah secara pasti sebagai asal
dan tujuan alam semesta, sebagai kebaikan tertinggi, dan sebagai kebenaran dan
keindahan yang tak terbatas.

  1. Apakah terang akal budi saja sudah memadai untuk mengenal misteri
    Allah?

Jika hanya melalui terang akal budi saja, manusia mengalami banyak
kesulitan untuk mengenal Allah. Dengan kekuatannya sendiri, manusia sungguhsungguh tidak mampu masuk ke dalam kehidupan intim misteri ilahi. Karena
itu, manusia membutuhkan pencerahan melalui wahyu; tidak hanya untuk
hal-hal yang melampaui pemahamannya, tetapi juga untuk kebenaran religius
dan moral, yang sebenarnya tidak melampaui daya tangkap akal budi manusia.
Mudah oleh semua manusia, secara pasti, dan tanpa kesalahan.

  1. Bagaimana kita dapat bicara tentang Allah?


    Lainnya, yang – meskipun terbatas – merupakan cerminan kesempurnaan Allah
sejauh itu mungkin walaupun harus kita sadari bahwa kita tidak akan pernah dapat
mengungkapkan misteri Allah yang tak terbatas.

 

Dipublikasi di Pastoral Dasar, Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Tugas pasda doa aku percaya

TUGASA :PASDA
NAMA:ALBERTA RANTI
IK:2017-002
SEMESTER:III (TIGA)
DOA AKU PERCAYA
AKU PERCAYA AKAN ALLAH, BAPA YANG MAHA KUASA, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI. DAN AKAN YESUS KRISTUS, PUTERANYA YANG TUNGGAL, TUHAN KITA. YANG DIKANDUNG DARI ROH KUDUS, DILAHIRKAN OLEH PERAWAN MARIA. YANG MENDERITA SENGSARA, DALAM PEMERINTAHAN PONTIUS PILATUS, DISALIBKAN, WAFAT DAN DIMAKAMKAN. YANG TURUN KETEMPAT PENANTIAN, PADA HARI KETIGA BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI. YANG NAIK KE SURGA, DUDUK DISEBELAH KANAN ALLAH BAPA YANG MAHA KUASA. DARI SITU IA AKAN DATANG MENGADILI ORANG HIDUP DAN MATI. AKU PERCAYA AKAN ROH KUDUS, GEREJA KATHOLIK YANG KUDUS, PERSEKUTUAN PARA KUDUS, PENGAMPUNAN DOSA, KEBANGKITAN BADAN, KEHIDUPAN KEKAL. AMIN

BAB SATU
KEMAMPUAN MANUSIA UNTUK MENGENAL ALLAH
Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu,
dan tidak tenanglah hati kami
sampai kami beristirahat dalam Engkau”
(Santo Agustinus)
1. Apa rencana Allah untuk manusia?

Allah, yang sempurna dan penuh bahagia, berencana membagikan kebaikan-Nya dengan menciptakan manusia agar manusia ikut ambil bagian dalam
kebahagiaan-Nya. Dalam kepenuhan waktu, ketika saatnya tiba, Allah Bapa
mengutus Putra-Nya sebagai Penebus dan Penyelamat manusia, yang sudah
jatuh ke dalam dosa, memanggil semuanya ke dalam Gereja-Nya, dan melalui
karya Roh Kudus, mengangkat mereka sebagai anak-anak-Nya dan pewaris
kebahagiaan abadi.

2. Mengapa manusia mempunyai kerinduan akan Allah?

Allah, dalam menciptakan manusia menurut citra-Nya, telah mengukirkan
dalam hati manusia kerinduan untuk melihat Dia. Bahkan walaupun kerinduan
ini diabaikan, Allah tidak pernah berhenti menarik manusia kepada dirinya karena hanya dalam Dialah manusia dapat menemukan kepenuhan akan
kebenaran yang tidak pernah berhenti dicarinya dan hidup dalam kebahagiaan.
Karena itu, menurut kodrat dan panggilannya, manusia adalah makhluk religius
yang mampu masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Hubungan akrab dan
mesra dengan Allah mengaruniakan martabat kepada manusia.
27-30
44-45
1-25
”Betapa besar dan sungguh agunglah Engkau, ya Allah. …
16

3. Bagaimana mungkin manusia mengenal Allah hanya melalui terang

Dengan bertolak dari ciptaan, yaitu dari dunia dan pribadi manusia, hanya
melalui akal budinya manusia dapat mengenal Allah secara pasti sebagai asal
dan tujuan alam semesta, sebagai kebaikan tertinggi, dan sebagai kebenaran dan
keindahan yang indah tak terbatas.

4. Apakah terang akal budi saja sudah memadai untuk mengenal misteri
Allah?

Jika hanya melalui terang akal budi saja, manusia mengalami banyak
kesulitan untuk mengenal Allah. Dengan kekuatannya sendiri, manusia sungguhsungguh tidak mampu masuk ke dalam kehidupan intim misteri ilahi. Karena
itu, manusia membutuhkan pencerahan melalui wahyu; tidak hanya untuk
hal-hal yang melampaui pemahamannya, tetapi juga untuk kebenaran religius
dan moral, yang sebenarnya tidak melampaui daya tangkap akal budi manusia.
Mudah oleh semua manusia, secara pasti, dan tanpa kesalahan.

5. Bagaimana kita dapat bicara tentang Allah?

Lainnya, yang – meskipun terbatas – merupakan cerminan kesempurnaan Allah
sejauh itu mungkin walaupun harus kita sadari bahwa kita tidak akan pernah dapat
mengungkapkan misteri Allah yang tak terbatas.

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

kateketik umum 16 dokumen gereja

Nama          : Sr Leonarda Berkasa TMM

Nim            : 2016 008

Semester     : II

 

DOKUMEN GEREJA KATOLIK HASIL KONSILI VATIKAN II

Konsili Vatikan II (1962 – 1965) adalah sebuah konsili ekumenis ke-21 dari Gereja Katolik Roma yang dibuka oleh Paus Yohanes XXIII pada 11 Oktober 1962 dan ditutup oleh Paus Paulus VI pada 8 Desember 1965. Pembukaan Konsili ini dihadiri oleh hingga 2540 orang Uskup Gereja Katolik Roma sedunia (atau juga disebut para Bapa Konsili), 29 pengamat dari 17 Gereja lain, dan para undangan yang bukan Katolik.

Konsili Vatikan II tersebut terdiri atas 4 sidang (yang berlangsung pada tahun 1962, 1963, 1964 dan 1965) yang menghasilkan dokumen gereja yang berjumlah 16 dokumen penting gereja Katolik, yaitu:

 

  1. Ad Gentes (Kepada Bangsa – Bangsa) adalah sebuah dekrit mengenai karya misioner gereja.
  2. Apostolicam Actuositatem (Kegiatan Kerasulan) adalah sebuah dekrit yang menjelaskan mengenai peran kerasulan awam.
  3. Christus Dominus (Kristus Tuhan) merupakan dekrit tentang peran kegembalaan Uskup dalam kehidupan gereja Katolik.
  4. Dei Verbum (Wahyu Tuhan/Ilahi) adalah konstitusi dogmatik tentang wahyu ilahi.
  5. Dignitatis Humanae (Martabat Pribadi) merupakan dekrit mengenai deklarasi kebebasan beragama.
  6. Gaudium Et Spes (Kegembiraan Dan Harapan) adalah konstitusi pastoral mengenai gereja Katolik dalam dunia dewasa ini.
  7. Gravissimum Educationis (Makna Pendidikan) adalah sebuah deklarasi mengenai pendidikan katolik.
  8. Inter Mirifica (Antara Penemuan) adalah dekrit tentang alat-alat komunikasi sosial dalam gereja.
  9. Lumen Gentium (Terang Bangsa – Bangsa) merupakan konstitusi dogmatik tentang gereja Katolik.
  10. Nostra Aetate (Dewasa Kita) merupakan dekrit mengenai sikap gereja Katolik terhadap gereja-gereja yang non-Katolik.
  11. Optatam Totius (Pendidikan Imam) adalah sebuah dekrit tentang pendidikan imam.
  12. Orientalium Ecclesiarum (Gereja Katolik Timur) adalah dekrit mengenai gereja-gereja Katolik timur.
  13. Perfectae Caritatis (Pembaharuan Hidup Kebiaraan) adalah dekrit mengenai pembaharuan yang serasi hidup kebiaraan.
  14. Presbyterorum Ordinis (Keluhuran Martabat) merupakan sebuah dekrit mengenai kehidupan dan pelayanan para imam.
  15. Sacrosanctum Concilium (Konsili Suci) adalah sebuah konstitusi mengenai liturgi kudus.
  16. Unitatis Redintegratio (Pemulihan Kesatuan) adalah dekrit yang menjelaskan tentang ekumene.

Dekret (dari bahasa Latin decernere = mengakhiri, memutuskan, menentukan) ialah perintah yang dikeluarkan oleh kepala negara maupun pemerintahan dan memiliki kekuatan hukum. Banyak konstitusi memungkinkan dekret dalam masalah tertentu, seperti pada pernyataan keadaan darurat.

Konstitusi atau Undang-undang Dasar (bahasa Latin: constitutio) dalam negara adalah sebuah norma sistem politik dan hukum bentukan pada pemerintahan negara—biasanya dikodifikasikan sebagai dokumen tertulis.

 

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

Tugas Kateketik Umum

 

Nama               : Anastasia Winarti Mardiansyah

NIM                : IK  2016 004

Semester          : II(Dua)

 

Sepuluh Perintah Allah
[Keluaran 20:1-17]

Akulah Tuhan,Allahmu,

  1. Jangan menyembah berhala,berbaktilah kepada-Ku saja,dan cintailah Aku lebih dari sagala sesuatu.
  2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.
  3. Kuduskanlah hari Tuhan.
  4. Hormatilah ibu-bapamu.
  5. Jangan membunuh.
  6. Jangan berzinah.
  7. Jangan mencuri.
  8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
  9. Jangan mengingini istri sesamamu.
  10. Jangan mengingini milik sesamamu secara tak adil.

Lima Perintah Gereja

  1. Rayakan hari raya yang disamakan dengan hari Minggu.
  2. Ikutlah Perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan,dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.
  3. Berpuasalah dan berpantanglah pada hari yang ditentukan.
  4. Mengaku-dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun.
  5. Sambutlah Tubuh Tuhan pada Masa Paskah.

Daftar 7 dosa pokok

  • Iri hati.
  • Hawa nafsu.

 

 

 

16 DOKUMEN DALAM KONSILI VATIKAN II

  1. Konstitusi Sacrosanctum Concilium (liturgi suci)
  2. Dekrit Inter Mirifica atau Dekrit tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial
  3. Lumen Gentium atau Konstitusi Dogmatis tentang Gereja
  4. Orientalium Ecclesiarum atau Dekrit tentang Gereja-Gereja Timur Katolik
  5. Unitatis Redintegratio atau Dekrit tentang Ekumenisme (Persatuan Gereja)
  6. Christus Dominus atau Dekrit tentang Tugas Pastoral Para Uskup dalam Gereja
  7. Perfectæ Caritatis atau Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius
  8. Optatam Totius atau Dekrit tentang Pembinaan Imam
  9. Gravissimum Educationis atau Pernyataan tentang Pendidikan Kristen
  10. Nostra Ætate atau Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan Kristen,
  11. Dei Verbum atau Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi
  12. Apostolicam Actuositatem atau Dekrit tentang Kerasulan Awam
  13. Dignitatis Humanæ atau Pernyataan tentang Kebebasan Beragama
  14. Ad Gentes atau Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja
  15. Presbyterorum Ordinis atau Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam
  16. Gaudium et Spes atau Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini
Dipublikasi di Kateketik Umum, Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

TUGAS KATEKETIK UMUM

NAMA: PIPIT NOPA DANIEL

NIM: IK 2016 010

MK: KATEKETIK UMUM

 

ENAM BELAS DOKUMEN GEREJA

 

  1. Sacrosanctum Concilium ( Konstitusi tentang Liturgi Suci), adalah salah satu dokumen yang paling signifikan yang dibuat oleh Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini mendorong perubahan tata-liturgi Gereja agar benar-benar menjadi ungkapan iman Gereja keseluruhan. Didasari eklesiologi yang menekankan umat Allah, maka liturgi yang dikembangkan dokumen ini mendorong peran serta aktif seluruh jemaat. Tekanannya pada “perayaan” bukan sekedar “upacara”. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.147 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963.Seperti biasanya dengan dokumen-dokumen Katolik, nama dokumen ini, Sacrosanctum Concilium (Bahasa Latin untuk “Konsili Suci”) diambil dari kata-kata pertama yang terdapat dalam dokumen berbahasa Latin tersebut. Bagi pemahaman umat Katolik Indonesia, diutamakan nama Konstitusi tentang Liturgi Suci.
  2. Inter Mirifica atau Dekrit tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui para Bapa Konsili dalam pemungutan suara 1.960 berbanding 164, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963.Istilah “Komunikasi Sosial”, terlepas dari kegunaan umumnya, telah menjadi suatu istilah yang sering digunakan dalam dokumen-dokumen Gereja Katolik untuk media massa. Sebagai suatu istilah, “Komunikasi Sosial” memiliki keuntungan karena konotasinya yang luas, di mana seluruh komunikasi adalah bersifat sosial, namun belum tentu semua komunikasi itu bisa disebarluaskan kepada “massa”. Kedua istilah tersebut akhirnya dipergunakan sebagai istilah yang sama. Hari Komunikasi Sosial Sedunia diperkenalkan pertama kali oleh Konsili Vatikan Kedua untuk memberikan pesan tahunan Gereja kepada jemaatnya dan kepada seluruh dunia. Paus Yohanes Paulus II sangat sering menyatakan bahwa tanggung jawab dan tujuan positif dari Komunikasi Sosial tidak hanya ditanggung oleh seorang individu namun melalui pesan-pesan yang disampaikan dalam festival religius ini dan melalui dukungan Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial.
  3. Lumen Gentium atau Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, adalah salah satu dokumen utama Konsili Vatikan Kedua. Konstitusi ini diumumkan secara resmi oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964, setelah disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.151 berbanding 5.Ketika bermaksud mengundang Konsili Vatikan II pada tahun 1959, Paus Yohanes XXIII mencanangkan “aggiornamento” atau pembaruan Gereja, menyesuaikan diri dalam zaman baru, agar dapat memberi sumbangan yang efektif bagi pemecahan masalah-masalah modern (Konstitusi apostolik Humanae Salutis 1961). Sebelum Konsili dimulai dari para uskup sedunia diminta saran-saran lebih dulu, yang disusun menjadi berbagai  skema. Di dalam Konsili para uskup berdasarkan skema-skema yang sudah disusun berusaha mendiskusikan dan merumuskan pandangan dan pemahaman teologis mereka akan Gereja dalam terang Tradisi dan Kitab Suci. Hasilnya adalah Lumen Gentium, suatu dokumen tentang Gereja yang menunjukkan pergeseran dari paham yang sangat institusionalistis organisatoris kepada paham yang dinamis dan organis. Gereja dipahami sebagai Umat Allah, dan itu membuat cakrawala pemahaman akan esensi Gereja lebih luas dari batas yang kelihatan (Gereja Katolik Roma), sebab banyak juga unsur-unsur Gereja dilihat dan diakui berada di luar batas-batas itu (Lumen Gentium 8). Namun Gereja memandang diri terutama sebagai tanda dan sarana persatuan dan kesatuan, baik dengan Allah maupun dengan seluruh umat manusia (Lumen Gentium 1). Hal ini nantinya mendorong semangat ekumenis dengan gereja-gereja lain, bahkan dialog dan kerjasama dengan agama-agama lain, juga dengan kaum ateis. Pusat Gereja bukan lagi Roma atau Paus, tetapi Kristus di tengah-tengah umat dan Uskup sebagai gembalanya. Maka Lumen Gentium menekankan teologi Gereja setempat (keuskupan). Ditekankan juga kesetaraan semua anggota umat Allah di dalam martabatnya, sekalipun berbeda fungsi. Maka Gereja semakin dipahami sebagai umat Allah secara keseluruhan kendati tetap mempertahankan fungsi hirarki sebagai pemersatu. Dalam dokumen pembahasan tentang awam justru didahulukan daripada pembahasan tentang para religius. Dengan demikian Gereja di mana saja lebih peka pada persoalan-persoalan di sekelilingnya dan dapat segera menyampaikan sumbang-saran pemecahan.
  4. Orientalium Ecclesiarum atau Dekrit tentang Gereja-Gereja Timur Katolik adalah salah satu dokumen terpendek dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.110 berbanding 39, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama Orientalium Ecclesiarum atau Gereja-Gereja Timur diambil dari baris pertama dokumen tersebut. Dokumen ini mengakui hak dari Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur untuk tetap mempertahankan tata liturgi mereka sendiri. Dokumen ini menjelaskan beberapa dari kekuasaan otonomi dari Gereja-Gereja Timur. Secara khusus, Patriark (atau Uskup Agung) dan Sinode memiliki wewenang untuk menetapkan eparkia-eparkia, mengangkat Uskup-Uskup dalam wilayah Patriarkalnya, wewenang legislatif untuk menetapkan hak-hak dan kewajiban Tahbisan yang lebih rendah (termasuk subdiakonat, dan untuk menetapkan tanggal perayaan hari Paska dalam ritus mereka. Lebih lanjut, mengukuhkan Sakramen Krisma, dengan menyatakan bahwa seluruh imam Ritus Timur memiliki wewenang untuk menerimakan sakramen ini dengan menggunakan Krisma yang diberkati oleh Patriark atau Uskup.
  5. Unitatis Redintegratio atau Dekrit tentang Ekumenisme (Persatuan Gereja) adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.137 berbanding 11, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964. Judul Unitatis Redintegratio atau Pemulihan Kesatuan diambil dari baris pertama dekrit tersebut sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Karena didorong oleh keinginan untuk mengembalikan kesatuan antara umat beriman, maka UR mengajak semua umat Katolik untuk mengambil bagian di dalam karya ekumenism dengan mengikuti gerakan Roh Kudus yang membawa semua umat beriman pada persatuan yang erat dengan Kristus.
  6. Christus Dominus atau Dekrit tentang Tugas Pastoral Para Uskup dalam Gereja adalah salah satu dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.319 berbanding 2, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama dokumen Christus Dominus atau Kristus Tuhan diambil dari baris pertama dokumen tersebut. CD berhubungan erat dengan LG bab III, tentang ketentuan kolese uskup dan peran utama Bapa Paus, dan para uskup yang menerima kepenuhan sakramen Tahbisan Suci. “Terutama pada zaman sekarang ini para Uskup tidak jarang tidak dapat menunaikan tugas mereka dengan baik dan berhasil, tanpa bersama Uskup-Uskup lainnya menjalin kesepakatan yang semakin utuh dan mengerahkan usaha secara makin terpadu. Konferensi-Konferensi Uskup, yang telah dibentuk di berbagai bangsa, menyajikan bukti-bukti yang cemerlang berupa kerasulan yang lebih subur. Maka Konsili suci ini memandang sangat berguna, bahwa dimana-mana para Uskup sebangsa atau sedaerah membentuk suatu himpunan, dan pada waktu-waktu tertentu berkumpul, untuk saling berbagi buah pancaran kebijaksanaan serta pengalaman mereka. Dengan demikian pertemuan gagasan-gagasan akan menumbuhkan perpaduan tenaga demi kesejahteraan umum Gereja-Gereja. (CD 37)”
  7. Perfectæ Caritatis atau Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius adalah salah satu dokumen terpendek dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.321 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Otober 1965. Kata “Religius” dalam dokumen ini ditujukan untuk Ordo-Ordo Religius di lingkup Gereja Katolik Roma. PC menjabarkan pembaharuan dan penyesuaian hidup religius, dengan menekankan pentingnya penerapan nasihat-nasihat Injili: kemurnian, ketaatan dan kemiskinan. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama dokumen ini Perfectæ Caritatis atau Cinta Kasih Sempurna diambil dari baris pertama dekrit tersebut. Dekrit Perfectæ Caritatis memiliki susunan sebagai: Pendahuluan Asas-asas umum untuk mengadakan pembaharuan yang sesuai Norma-norma praktis pembaharuan yang disesuaikan Mereka yang harus melaksanakan pembaharuan Unsur-unsur yang umum pada pelbagai bentuk hidup religius Hidup rohani harus diutamakan Tarekat-tarekat yang seutuhnya terarah kepada kontemplasi Tarekat-tarekat yang bertujuan kerasulan Kelestarian hidup monastik konventual Hidup religius kaum awam Serikat-serikat sekular Kemurnian Kemiskinan Ketaatan Hidup bersama Pingitan / klausura para rubiah Busana religius Pembinaan para anggota Pendirian tarekat-tarekat baru Bagaimana melestarikan, menyesuaiakan atau meninggalkan karya khusus tarekat Terakat-tarekat dan biara-biara yang mengalami kemerosotan Perserikatan antara tarekat-tarekat religius Konferensi para Pemimpin tinggi Panggilan religius Penutup
  8. Optatam Totius atau Dekrit tentang Pembinaan Imam, adalah salah satu dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.318 berbanding 3, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. OT menguraikan berbagai prinsip dasar pendidikan imam yang meneguhkan ketetapan-ketetapan yang telah diuji melalui praktek berabad-abad lamanya, dan mengintegrasikan ke dalam unsur-unsur baru yang selaras dengan ketetapan Konsili ini.
  9. Gravissimum Educationis atau Pernyataan tentang Pendidikan Kristen adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.290 berbanding 35, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Judul Gravissimum Educationis atau Sangat Pentingnya Pendidikan, diambil dari baris pertama dokumen tersebut, sebagaimana umumnya judul dokumen Gereja Katolik dibuat. Pendidikan Kristiani bertujuan untuk membentuk keseluruhan pribadi seseorang dengan fokus utama pada pendidikan moral dan pembentukan hati nurani. Dengan demikian GE menekankan perhatian kepada martabat manusia.
  10. Nostra Ætate atau Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan Kristen, adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.221 berbanding 88, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Judul Nostra Ætate atau Pada Zaman Kita (“In Our Time” dalam Bahasa Inggris) diambil dari baris pertama dokumen ini sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Pernyataan ini diawali dengan penjelasan mengenai semakin eratnya penyatuan dan hubungan-hubungan antar bangsa dan antar pelbagai bangsa berkembang serta satu asal dan tujuan akhir dari semua bangsa, yakni Allah. Dokumen ini mengungkapkan juga mengenai pertanyaan abadi yang telah ada di dalam pemikiran manusia sejak awal mulanya dan bagaimana berbagai tradisi keagamaan yang beraneka ragam telah berupaya untuk menjawabnya. Dokumen ini menyatakan jawaban-jawaban filosofis Agama Hindu dan Budha dan menyatakan dengan pasti: “Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang.” Bagian ketiga melanjutkan dengan pandangan Gereja Katolik yang menghargai umat Islam, dilanjutkan dengan mengungkapkan beberapa hal kesamaan antara Islam dengan Kristen dan Katolik: menyembah Allah satu-satunya, Allah yang hidup dan berkuasa, Penuh belas kasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, Yang telah bersabda kepada manusia; para Muslim menghormati Abraham dan Maria, dan bahwa mereka menghormati Yesus sebagai nabi dan bukan Allah. Sinode mendorong seluruh kaum Kristiani dan Muslim untuk melupakan pertikaian dan permusuhan dari masa lalu dan bekerja sama untuk membela dan mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang; nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan. Bagian keempat berbicara mengenai “ikatan rohani” antara Umat Perjanjian Baru (kaum Kristiani) dengan Umat Yahudi Keturunan Abraham. Dokumen menyatakan bahwa meskipun beberapa pemuka agama Yahudi dan para pengikut mereka telah mendesakkan kematian Kristus, namun kesalahan ini tidak dapat serta merta dibebankan sebagai kesalahan seluruh orang Yahudi (baik yang hidup ketika itu maupun sekarang). Lebih lanjut Konsili menyatakan bahwa “orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk”. Pernyataan ini juga menentang segala unjuk-rasa antisemitisme yang dilakukan kapan pun dan oleh siapa pun. Bagian kelima menjelaskan bahwa seluruh menusia diciptakan menurut citra kesamaan Allah, dan Gereja mengecam segala diskriminasi antara orang-orang, atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama. menghormati Yesus sebagai nabi dan bukan Allah. Sinode mendorong seluruh kaum Kristiani dan Muslim untuk melupakan pertikaian dan permusuhan dari masa lalu dan bekerja sama untuk membela dan mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang; nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan. Bagian keempat berbicara mengenai “ikatan rohani” antara Umat Perjanjian Baru (kaum Kristiani) dengan Umat Yahudi Keturunan Abraham. Dokumen menyatakan bahwa meskipun beberapa pemuka agama Yahudi dan para pengikut mereka telah mendesakkan kematian Kristus, namun kesalahan ini tidak dapat serta merta dibebankan sebagai kesalahan seluruh orang Yahudi (baik yang hidup ketika itu maupun sekarang). Lebih lanjut Konsili menyatakan bahwa “orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk”. Pernyataan ini juga menentang segala unjuk-rasa antisemitisme yang dilakukan kapan pun dan oleh siapa pun. Bagian kelima menjelaskan bahwa seluruh menusia diciptakan menurut citra kesamaan Allah, dan Gereja mengecam segala diskriminasi antara orang-orang, atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama
  11. Dei Verbum atau Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi adalah salah satu dokumen utama dari Konsili Vatikan Kedua, yang memiliki pokok-pokok mendasar mengenai sumber ajaran dan tindakan Gereja. Dan sumber itu adalah wahyu ilahi atau penyingkapan diri Allah sendiri kepada manusia. Dalam Gereja Katolik wahyu ilahi itu diterima dari dua saluran: Tradisi pengajaran lisan para rasul dan kemudian setelah sebagian dari pengajaran itu dituliskan, Kitab Suci. Maka Gereja Katolik melalui dokumen Dei Verbum menyerukan keseimbangan perhatian pada kedua macam saluran wahyu ilahi: Tradisi dan Kitab Suci. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.344 berbanding 6, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Dei Verbum berarti Sabda Allah (dalam Bahasa Inggris:”Word of God”) diambil dari kata-kata pertama dokumen berbahasa Latin, sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah, pencipta dan Tuhan, dapat diketahui dengan akal budi manusia dari semua karya ciptaanNya (Katekismus Gereja Katolik no 47). Tetapi pengetahuan itu saja tidak menjelaskan “mengapa” dan “untuk apa”. Maka “Dalam kebaikan dan kebijaksanaanNya Allah berkenan mewahyukan diriNya dan memaklumkan rahasia kehendakNya” (Dei Verbum 2). Untuk itu Ia mengutus PuteraNya yang terkasih, Yesus Kristus dan Roh Kudus (Katekismus Gereja Katolik no. 50). Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4), maka “Kristus Tuhan…memerintahkan kepada para rasul, supaya Injil…mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta memberi ajaran kesusilaan” (Dei Verbum 7). Kehendak Allah itu dilaksanakan dalam dua cara: secara lisan (disebut Tradisi) oleh para rasul dan pengganti-penggantinya, dan kemudian secara tertulis, setelah “para rasul dan tokoh-tokoh rasuli, atas ilham Roh Kudus juga telah membukukan amanat keselamatan” (Dei Verbum 7). Pada Bab Kedua mengenai “Meneruskan Wahyu Ilahi”, Konstitusi ini menyatakan secara khusus kesetaraan peran Tradisi Suci dean Kitab Suci. Jadi Tradisi suci dan Kitab suci berhubungan erat sekali dan berpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama. Sebab Kitab suci itu pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi. Sedangkan oleh Tradisi suci sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia. Dengan demikian gereja menimba kepastian tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun Kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita-rasa kesalehan dan hormat yang sama (DV9).
  12. Apostolicam Actuositatem atau Dekrit tentang Kerasulan Awam adalah dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.340 berbanding 2, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Judul Apostolicam Actuositatem atau Kegiatan Merasul (Dalam Bahasa Inggris “Apostolic Activity”) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. Dengan maksud memacu KEGIATAN MERASUL Umat Allah, Konsili suci penuh keprihatinan menyapa Umat beriman awam, yang perannya yang khas dan sungguh perlu dalam perutusan Gereja sudah diuraikan dilain tempat. Sebab kerasulan awam, yang bersumber pada panggilan kristiani mereka sendiri, tak pernah dapat tidak ada dalam Gereja. Betapa sukarela sifat gerakan semacam itu pada awal mula Gereja, dan betapa suburnya, dipaparkan dengan jelas oleh Kitab suci sendiri (lih. Kis 11:19-21; 18:26; Rom 16:1-16; Fip 4:3).
  13. Dignitatis Humanæ atau Pernyataan tentang Kebebasan Beragama adalah salah satu dokumen penting dari Konsili Vatikan Kedua. Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.308 berbanding 70. Nama Dignitatis Humanæ (Martabat Pribadi Manusia; Of the Dignity of the Human Person) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. MARTABAT PRIBADI MANUSIA semakin disadari oleh manusia zaman sekarang. Bertambahlah juga jumlah mereka yang menuntut, supaya dalam bertindak manusia sepenuhnya menggunakan pertimbangannya sendiri serta kebebasannya yang bertanggung jawab, bukannya terdorong oleh paksaan, melainkan karena menyadari tugasnya. Begitu pula mereka menuntut supaya wewenang pemerintah dibatasi secara yuridis, supaya batas-batas kebebasan yang sewajarnya baik pribadi maupun kelompok-kelompok jangan dipersempit. Dalam masyarakat manusia tuntutan kebebasan itu terutama menyangkut harta-nilai rohani manusia, dan teristimewa berkenaan dengan pengalaman agama secara bebas dalam masyarakat. Dengan saksama Konsili Vatikan ini mempertimbangkan aspirasi-aspirasi itu, dan bermaksud menyatakan betapa keinginan-keinginan itu selaras dengan kebenaran dan keadilan. Maka Konsili ini meneliti Tradisi serta ajaran suci Gereja, dan dari situ menggali harta baru, yang selalu serasi dengan khazanah yang sudah lama.
  14. Ad Gentes atau Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.394 berbanding 5, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Judul Ad Gentes atau Kepada Para Bangsa (dalam Bahasa Inggris “To the Nations”) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana u mumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. Ad Gentes memfokuskan pada faktor-faktor yang terlibat dalam karya misi. Dokumen ini memutuskan tidak memaksakan kebudayaan yang sama untuk setiap tempat di mana Gereja mengirimkan misi, melainkan mendorong para misionaris untuk hidup bersama dengan masyarakat ke mana mereka di utus, menyerap cara hidup dan kebudayaan mereka (AG9). Konsili menyatakan pula bahwa Gereja melarang keras jangan sampai ada orang yang dipaksa atau dengan siasat yang tidak pada tempatnya dibujuk atau dipikat untuk memeluk agama Kristen. Bahkan lebih lanjut menjelaskan agar hendaknya alasan-alasan untuk bertobat diselidiki, dan bila perlu dijernihkan (AG13). Juga didorong untuk melakukan kerja sama karya misi melalui perwakilan-perwakilan serta kerja sama dengan kelompok-kelompok dan organisasi lainnya di dalam tubuh Gereja Katolik maupun dengan denominasi lainnya (AG35-41).
  15. Presbyterorum Ordinis atau Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.390 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 7 Desember 1965. Keluhuran TINGKAT PARA IMAM dalam Gereja sudah seringkali oleh Konsili suci ini diingatkan kepada segenap umat beriman. Akan tetapi karena dalam pembaharuan Gereja Kristus kepada Tingkat itu diserahkan peranan yang penting sekali dan semakin sulit, maka pada hemat kami berguna sekali untuk secara lebih luas dan lebih mendalam berbicara tentang para imam. Apa yang dikemukakan disini berlaku bagi semua imam, khususnya mereka yang melayani reksa pastoral, tetapi – dengan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan – juga bagi para imam religius. Sebab para imam, berkat tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari para Uskup, diangkat untuk melayani Kristus Guru, Imam dan Raja. Mereka ikut menunaikan pelayanan-Nya, yang bagi Gereja merupakan upaya untuk tiada hentinya dibangun dunia ini menjadi umat Allah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus. Oleh karena itu, supaya dalam situasi pastoral dan manusiawi sering sekali mengalami perubahan begitu mendalam, pelayanan mereka tetap berlangsung secara lebih efektif, dan kehidupan mereka lebih terpeliharaJudul Presbyterorum Ordinis atau Tingkat Para Imam (dalam Bahasa Inggris “Order of Priests”) diambil dari baris pertama dekrit tersebut sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai.
  16. Gaudium et Spes atau Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini adalah dokumen puncak dari Konsili Vatikan Kedua. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.307 berbanding 75, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 7 Desember 1965. Judul Gaudium et Spes atau Kegembiraan dan Harapan (dalam Bahasa Inggris “Joy and Hope”) diambil dari baris pertama dokumen ini, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya.
Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

kateketik umum 10 perintah Allah dan 5 perintah Gereja

Nama:Alberta Ranti
Nim:Ik 2016-002
Semester:II
Tugas :Kateketik Umum

10. Perintah Allah
1. Akulah Tuhan, Allahmu, Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
2. Jangan menyebut Nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.
3. Kuduskanlah hari Tuhan.
4. Hormatilah ibu-bapamu.
5. Jangan membunuh.
6. Jangan berzinah.
7. Jangan mencuri.
8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
9. Jangan mengingini istri sesamamu.
10. Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.
5.Perintah Gereja
1.Rayakanlah hari-hari minggu dan Pesta
2.Ikuti misa kudus pada hari-hari minggu dan pesta,dan jangan melakukan pekerjaan yang berat
3.Berpuasa dan berpantang sesuai dengan peraturan
4.Menggaku dosa sekurang-kurangnya sekali setahun
5.Sambut komuni sekurang-kurangnya pada masa Paskah

Dipublikasi di Katekese Umat | Meninggalkan komentar

TUGAS KATEKETIK

NAMA: THERESIA LEDA MAMA

NIM: IK 2016 015

MK: KATEKETIK UMUM

 

ENAM BELAS DOKUMEN GEREJA

 

  1. Sacrosanctum Concilium ( Konstitusi tentang Liturgi Suci), adalah salah satu dokumen yang paling signifikan yang dibuat oleh Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini mendorong perubahan tata-liturgi Gereja agar benar-benar menjadi ungkapan iman Gereja keseluruhan. Didasari eklesiologi yang menekankan umat Allah, maka liturgi yang dikembangkan dokumen ini mendorong peran serta aktif seluruh jemaat. Tekanannya pada “perayaan” bukan sekedar “upacara”. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.147 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963.Seperti biasanya dengan dokumen-dokumen Katolik, nama dokumen ini, Sacrosanctum Concilium (Bahasa Latin untuk “Konsili Suci”) diambil dari kata-kata pertama yang terdapat dalam dokumen berbahasa Latin tersebut. Bagi pemahaman umat Katolik Indonesia, diutamakan nama Konstitusi tentang Liturgi Suci.
  2. Inter Mirifica atau Dekrit tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui para Bapa Konsili dalam pemungutan suara 1.960 berbanding 164, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963.Istilah “Komunikasi Sosial”, terlepas dari kegunaan umumnya, telah menjadi suatu istilah yang sering digunakan dalam dokumen-dokumen Gereja Katolik untuk media massa. Sebagai suatu istilah, “Komunikasi Sosial” memiliki keuntungan karena konotasinya yang luas, di mana seluruh komunikasi adalah bersifat sosial, namun belum tentu semua komunikasi itu bisa disebarluaskan kepada “massa”. Kedua istilah tersebut akhirnya dipergunakan sebagai istilah yang sama. Hari Komunikasi Sosial Sedunia diperkenalkan pertama kali oleh Konsili Vatikan Kedua untuk memberikan pesan tahunan Gereja kepada jemaatnya dan kepada seluruh dunia. Paus Yohanes Paulus II sangat sering menyatakan bahwa tanggung jawab dan tujuan positif dari Komunikasi Sosial tidak hanya ditanggung oleh seorang individu namun melalui pesan-pesan yang disampaikan dalam festival religius ini dan melalui dukungan Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial.
  3. Lumen Gentium atau Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, adalah salah satu dokumen utama Konsili Vatikan Kedua. Konstitusi ini diumumkan secara resmi oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964, setelah disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.151 berbanding 5.Ketika bermaksud mengundang Konsili Vatikan II pada tahun 1959, Paus Yohanes XXIII mencanangkan “aggiornamento” atau pembaruan Gereja, menyesuaikan diri dalam zaman baru, agar dapat memberi sumbangan yang efektif bagi pemecahan masalah-masalah modern (Konstitusi apostolik Humanae Salutis 1961). Sebelum Konsili dimulai dari para uskup sedunia diminta saran-saran lebih dulu, yang disusun menjadi berbagai  skema. Di dalam Konsili para uskup berdasarkan skema-skema yang sudah disusun berusaha mendiskusikan dan merumuskan pandangan dan pemahaman teologis mereka akan Gereja dalam terang Tradisi dan Kitab Suci. Hasilnya adalah Lumen Gentium, suatu dokumen tentang Gereja yang menunjukkan pergeseran dari paham yang sangat institusionalistis organisatoris kepada paham yang dinamis dan organis. Gereja dipahami sebagai Umat Allah, dan itu membuat cakrawala pemahaman akan esensi Gereja lebih luas dari batas yang kelihatan (Gereja Katolik Roma), sebab banyak juga unsur-unsur Gereja dilihat dan diakui berada di luar batas-batas itu (Lumen Gentium 8). Namun Gereja memandang diri terutama sebagai tanda dan sarana persatuan dan kesatuan, baik dengan Allah maupun dengan seluruh umat manusia (Lumen Gentium 1). Hal ini nantinya mendorong semangat ekumenis dengan gereja-gereja lain, bahkan dialog dan kerjasama dengan agama-agama lain, juga dengan kaum ateis. Pusat Gereja bukan lagi Roma atau Paus, tetapi Kristus di tengah-tengah umat dan Uskup sebagai gembalanya. Maka Lumen Gentium menekankan teologi Gereja setempat (keuskupan). Ditekankan juga kesetaraan semua anggota umat Allah di dalam martabatnya, sekalipun berbeda fungsi. Maka Gereja semakin dipahami sebagai umat Allah secara keseluruhan kendati tetap mempertahankan fungsi hirarki sebagai pemersatu. Dalam dokumen pembahasan tentang awam justru didahulukan daripada pembahasan tentang para religius. Dengan demikian Gereja di mana saja lebih peka pada persoalan-persoalan di sekelilingnya dan dapat segera menyampaikan sumbang-saran pemecahan.
  4. Orientalium Ecclesiarum atau Dekrit tentang Gereja-Gereja Timur Katolik adalah salah satu dokumen terpendek dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.110 berbanding 39, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama Orientalium Ecclesiarum atau Gereja-Gereja Timur diambil dari baris pertama dokumen tersebut. Dokumen ini mengakui hak dari Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur untuk tetap mempertahankan tata liturgi mereka sendiri. Dokumen ini menjelaskan beberapa dari kekuasaan otonomi dari Gereja-Gereja Timur. Secara khusus, Patriark (atau Uskup Agung) dan Sinode memiliki wewenang untuk menetapkan eparkia-eparkia, mengangkat Uskup-Uskup dalam wilayah Patriarkalnya, wewenang legislatif untuk menetapkan hak-hak dan kewajiban Tahbisan yang lebih rendah (termasuk subdiakonat, dan untuk menetapkan tanggal perayaan hari Paska dalam ritus mereka. Lebih lanjut, mengukuhkan Sakramen Krisma, dengan menyatakan bahwa seluruh imam Ritus Timur memiliki wewenang untuk menerimakan sakramen ini dengan menggunakan Krisma yang diberkati oleh Patriark atau Uskup.
  5. Unitatis Redintegratio atau Dekrit tentang Ekumenisme (Persatuan Gereja) adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.137 berbanding 11, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964. Judul Unitatis Redintegratio atau Pemulihan Kesatuan diambil dari baris pertama dekrit tersebut sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Karena didorong oleh keinginan untuk mengembalikan kesatuan antara umat beriman, maka UR mengajak semua umat Katolik untuk mengambil bagian di dalam karya ekumenism dengan mengikuti gerakan Roh Kudus yang membawa semua umat beriman pada persatuan yang erat dengan Kristus.
  6. Christus Dominus atau Dekrit tentang Tugas Pastoral Para Uskup dalam Gereja adalah salah satu dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.319 berbanding 2, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama dokumen Christus Dominus atau Kristus Tuhan diambil dari baris pertama dokumen tersebut. CD berhubungan erat dengan LG bab III, tentang ketentuan kolese uskup dan peran utama Bapa Paus, dan para uskup yang menerima kepenuhan sakramen Tahbisan Suci. “Terutama pada zaman sekarang ini para Uskup tidak jarang tidak dapat menunaikan tugas mereka dengan baik dan berhasil, tanpa bersama Uskup-Uskup lainnya menjalin kesepakatan yang semakin utuh dan mengerahkan usaha secara makin terpadu. Konferensi-Konferensi Uskup, yang telah dibentuk di berbagai bangsa, menyajikan bukti-bukti yang cemerlang berupa kerasulan yang lebih subur. Maka Konsili suci ini memandang sangat berguna, bahwa dimana-mana para Uskup sebangsa atau sedaerah membentuk suatu himpunan, dan pada waktu-waktu tertentu berkumpul, untuk saling berbagi buah pancaran kebijaksanaan serta pengalaman mereka. Dengan demikian pertemuan gagasan-gagasan akan menumbuhkan perpaduan tenaga demi kesejahteraan umum Gereja-Gereja. (CD 37)”
  7. Perfectæ Caritatis atau Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius adalah salah satu dokumen terpendek dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.321 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Otober 1965. Kata “Religius” dalam dokumen ini ditujukan untuk Ordo-Ordo Religius di lingkup Gereja Katolik Roma. PC menjabarkan pembaharuan dan penyesuaian hidup religius, dengan menekankan pentingnya penerapan nasihat-nasihat Injili: kemurnian, ketaatan dan kemiskinan. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama dokumen ini Perfectæ Caritatis atau Cinta Kasih Sempurna diambil dari baris pertama dekrit tersebut. Dekrit Perfectæ Caritatis memiliki susunan sebagai: Pendahuluan Asas-asas umum untuk mengadakan pembaharuan yang sesuai Norma-norma praktis pembaharuan yang disesuaikan Mereka yang harus melaksanakan pembaharuan Unsur-unsur yang umum pada pelbagai bentuk hidup religius Hidup rohani harus diutamakan Tarekat-tarekat yang seutuhnya terarah kepada kontemplasi Tarekat-tarekat yang bertujuan kerasulan Kelestarian hidup monastik konventual Hidup religius kaum awam Serikat-serikat sekular Kemurnian Kemiskinan Ketaatan Hidup bersama Pingitan / klausura para rubiah Busana religius Pembinaan para anggota Pendirian tarekat-tarekat baru Bagaimana melestarikan, menyesuaiakan atau meninggalkan karya khusus tarekat Terakat-tarekat dan biara-biara yang mengalami kemerosotan Perserikatan antara tarekat-tarekat religius Konferensi para Pemimpin tinggi Panggilan religius Penutup
  8. Optatam Totius atau Dekrit tentang Pembinaan Imam, adalah salah satu dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.318 berbanding 3, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. OT menguraikan berbagai prinsip dasar pendidikan imam yang meneguhkan ketetapan-ketetapan yang telah diuji melalui praktek berabad-abad lamanya, dan mengintegrasikan ke dalam unsur-unsur baru yang selaras dengan ketetapan Konsili ini.
  9. Gravissimum Educationis atau Pernyataan tentang Pendidikan Kristen adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.290 berbanding 35, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Judul Gravissimum Educationis atau Sangat Pentingnya Pendidikan, diambil dari baris pertama dokumen tersebut, sebagaimana umumnya judul dokumen Gereja Katolik dibuat. Pendidikan Kristiani bertujuan untuk membentuk keseluruhan pribadi seseorang dengan fokus utama pada pendidikan moral dan pembentukan hati nurani. Dengan demikian GE menekankan perhatian kepada martabat manusia.
  10. Nostra Ætate atau Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan Kristen, adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.221 berbanding 88, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Judul Nostra Ætate atau Pada Zaman Kita (“In Our Time” dalam Bahasa Inggris) diambil dari baris pertama dokumen ini sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Pernyataan ini diawali dengan penjelasan mengenai semakin eratnya penyatuan dan hubungan-hubungan antar bangsa dan antar pelbagai bangsa berkembang serta satu asal dan tujuan akhir dari semua bangsa, yakni Allah. Dokumen ini mengungkapkan juga mengenai pertanyaan abadi yang telah ada di dalam pemikiran manusia sejak awal mulanya dan bagaimana berbagai tradisi keagamaan yang beraneka ragam telah berupaya untuk menjawabnya. Dokumen ini menyatakan jawaban-jawaban filosofis Agama Hindu dan Budha dan menyatakan dengan pasti: “Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang.” Bagian ketiga melanjutkan dengan pandangan Gereja Katolik yang menghargai umat Islam, dilanjutkan dengan mengungkapkan beberapa hal kesamaan antara Islam dengan Kristen dan Katolik: menyembah Allah satu-satunya, Allah yang hidup dan berkuasa, Penuh belas kasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, Yang telah bersabda kepada manusia; para Muslim menghormati Abraham dan Maria, dan bahwa mereka menghormati Yesus sebagai nabi dan bukan Allah. Sinode mendorong seluruh kaum Kristiani dan Muslim untuk melupakan pertikaian dan permusuhan dari masa lalu dan bekerja sama untuk membela dan mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang; nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan. Bagian keempat berbicara mengenai “ikatan rohani” antara Umat Perjanjian Baru (kaum Kristiani) dengan Umat Yahudi Keturunan Abraham. Dokumen menyatakan bahwa meskipun beberapa pemuka agama Yahudi dan para pengikut mereka telah mendesakkan kematian Kristus, namun kesalahan ini tidak dapat serta merta dibebankan sebagai kesalahan seluruh orang Yahudi (baik yang hidup ketika itu maupun sekarang). Lebih lanjut Konsili menyatakan bahwa “orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk”. Pernyataan ini juga menentang segala unjuk-rasa antisemitisme yang dilakukan kapan pun dan oleh siapa pun. Bagian kelima menjelaskan bahwa seluruh menusia diciptakan menurut citra kesamaan Allah, dan Gereja mengecam segala diskriminasi antara orang-orang, atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama. menghormati Yesus sebagai nabi dan bukan Allah. Sinode mendorong seluruh kaum Kristiani dan Muslim untuk melupakan pertikaian dan permusuhan dari masa lalu dan bekerja sama untuk membela dan mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang; nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan. Bagian keempat berbicara mengenai “ikatan rohani” antara Umat Perjanjian Baru (kaum Kristiani) dengan Umat Yahudi Keturunan Abraham. Dokumen menyatakan bahwa meskipun beberapa pemuka agama Yahudi dan para pengikut mereka telah mendesakkan kematian Kristus, namun kesalahan ini tidak dapat serta merta dibebankan sebagai kesalahan seluruh orang Yahudi (baik yang hidup ketika itu maupun sekarang). Lebih lanjut Konsili menyatakan bahwa “orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk”. Pernyataan ini juga menentang segala unjuk-rasa antisemitisme yang dilakukan kapan pun dan oleh siapa pun. Bagian kelima menjelaskan bahwa seluruh menusia diciptakan menurut citra kesamaan Allah, dan Gereja mengecam segala diskriminasi antara orang-orang, atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama
  11. Dei Verbum atau Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi adalah salah satu dokumen utama dari Konsili Vatikan Kedua, yang memiliki pokok-pokok mendasar mengenai sumber ajaran dan tindakan Gereja. Dan sumber itu adalah wahyu ilahi atau penyingkapan diri Allah sendiri kepada manusia. Dalam Gereja Katolik wahyu ilahi itu diterima dari dua saluran: Tradisi pengajaran lisan para rasul dan kemudian setelah sebagian dari pengajaran itu dituliskan, Kitab Suci. Maka Gereja Katolik melalui dokumen Dei Verbum menyerukan keseimbangan perhatian pada kedua macam saluran wahyu ilahi: Tradisi dan Kitab Suci. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.344 berbanding 6, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Dei Verbum berarti Sabda Allah (dalam Bahasa Inggris:”Word of God”) diambil dari kata-kata pertama dokumen berbahasa Latin, sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah, pencipta dan Tuhan, dapat diketahui dengan akal budi manusia dari semua karya ciptaanNya (Katekismus Gereja Katolik no 47). Tetapi pengetahuan itu saja tidak menjelaskan “mengapa” dan “untuk apa”. Maka “Dalam kebaikan dan kebijaksanaanNya Allah berkenan mewahyukan diriNya dan memaklumkan rahasia kehendakNya” (Dei Verbum 2). Untuk itu Ia mengutus PuteraNya yang terkasih, Yesus Kristus dan Roh Kudus (Katekismus Gereja Katolik no. 50). Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4), maka “Kristus Tuhan…memerintahkan kepada para rasul, supaya Injil…mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta memberi ajaran kesusilaan” (Dei Verbum 7). Kehendak Allah itu dilaksanakan dalam dua cara: secara lisan (disebut Tradisi) oleh para rasul dan pengganti-penggantinya, dan kemudian secara tertulis, setelah “para rasul dan tokoh-tokoh rasuli, atas ilham Roh Kudus juga telah membukukan amanat keselamatan” (Dei Verbum 7). Pada Bab Kedua mengenai “Meneruskan Wahyu Ilahi”, Konstitusi ini menyatakan secara khusus kesetaraan peran Tradisi Suci dean Kitab Suci. Jadi Tradisi suci dan Kitab suci berhubungan erat sekali dan berpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama. Sebab Kitab suci itu pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi. Sedangkan oleh Tradisi suci sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia. Dengan demikian gereja menimba kepastian tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun Kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita-rasa kesalehan dan hormat yang sama (DV9).
  12. Apostolicam Actuositatem atau Dekrit tentang Kerasulan Awam adalah dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.340 berbanding 2, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Judul Apostolicam Actuositatem atau Kegiatan Merasul (Dalam Bahasa Inggris “Apostolic Activity”) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. Dengan maksud memacu KEGIATAN MERASUL Umat Allah, Konsili suci penuh keprihatinan menyapa Umat beriman awam, yang perannya yang khas dan sungguh perlu dalam perutusan Gereja sudah diuraikan dilain tempat. Sebab kerasulan awam, yang bersumber pada panggilan kristiani mereka sendiri, tak pernah dapat tidak ada dalam Gereja. Betapa sukarela sifat gerakan semacam itu pada awal mula Gereja, dan betapa suburnya, dipaparkan dengan jelas oleh Kitab suci sendiri (lih. Kis 11:19-21; 18:26; Rom 16:1-16; Fip 4:3).
  13. Dignitatis Humanæ atau Pernyataan tentang Kebebasan Beragama adalah salah satu dokumen penting dari Konsili Vatikan Kedua. Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.308 berbanding 70. Nama Dignitatis Humanæ (Martabat Pribadi Manusia; Of the Dignity of the Human Person) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. MARTABAT PRIBADI MANUSIA semakin disadari oleh manusia zaman sekarang. Bertambahlah juga jumlah mereka yang menuntut, supaya dalam bertindak manusia sepenuhnya menggunakan pertimbangannya sendiri serta kebebasannya yang bertanggung jawab, bukannya terdorong oleh paksaan, melainkan karena menyadari tugasnya. Begitu pula mereka menuntut supaya wewenang pemerintah dibatasi secara yuridis, supaya batas-batas kebebasan yang sewajarnya baik pribadi maupun kelompok-kelompok jangan dipersempit. Dalam masyarakat manusia tuntutan kebebasan itu terutama menyangkut harta-nilai rohani manusia, dan teristimewa berkenaan dengan pengalaman agama secara bebas dalam masyarakat. Dengan saksama Konsili Vatikan ini mempertimbangkan aspirasi-aspirasi itu, dan bermaksud menyatakan betapa keinginan-keinginan itu selaras dengan kebenaran dan keadilan. Maka Konsili ini meneliti Tradisi serta ajaran suci Gereja, dan dari situ menggali harta baru, yang selalu serasi dengan khazanah yang sudah lama.
  14. Ad Gentes atau Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.394 berbanding 5, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Judul Ad Gentes atau Kepada Para Bangsa (dalam Bahasa Inggris “To the Nations”) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana u mumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. Ad Gentes memfokuskan pada faktor-faktor yang terlibat dalam karya misi. Dokumen ini memutuskan tidak memaksakan kebudayaan yang sama untuk setiap tempat di mana Gereja mengirimkan misi, melainkan mendorong para misionaris untuk hidup bersama dengan masyarakat ke mana mereka di utus, menyerap cara hidup dan kebudayaan mereka (AG9). Konsili menyatakan pula bahwa Gereja melarang keras jangan sampai ada orang yang dipaksa atau dengan siasat yang tidak pada tempatnya dibujuk atau dipikat untuk memeluk agama Kristen. Bahkan lebih lanjut menjelaskan agar hendaknya alasan-alasan untuk bertobat diselidiki, dan bila perlu dijernihkan (AG13). Juga didorong untuk melakukan kerja sama karya misi melalui perwakilan-perwakilan serta kerja sama dengan kelompok-kelompok dan organisasi lainnya di dalam tubuh Gereja Katolik maupun dengan denominasi lainnya (AG35-41).
  15. Presbyterorum Ordinis atau Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.390 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 7 Desember 1965. Keluhuran TINGKAT PARA IMAM dalam Gereja sudah seringkali oleh Konsili suci ini diingatkan kepada segenap umat beriman. Akan tetapi karena dalam pembaharuan Gereja Kristus kepada Tingkat itu diserahkan peranan yang penting sekali dan semakin sulit, maka pada hemat kami berguna sekali untuk secara lebih luas dan lebih mendalam berbicara tentang para imam. Apa yang dikemukakan disini berlaku bagi semua imam, khususnya mereka yang melayani reksa pastoral, tetapi – dengan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan – juga bagi para imam religius. Sebab para imam, berkat tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari para Uskup, diangkat untuk melayani Kristus Guru, Imam dan Raja. Mereka ikut menunaikan pelayanan-Nya, yang bagi Gereja merupakan upaya untuk tiada hentinya dibangun dunia ini menjadi umat Allah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus. Oleh karena itu, supaya dalam situasi pastoral dan manusiawi sering sekali mengalami perubahan begitu mendalam, pelayanan mereka tetap berlangsung secara lebih efektif, dan kehidupan mereka lebih terpeliharaJudul Presbyterorum Ordinis atau Tingkat Para Imam (dalam Bahasa Inggris “Order of Priests”) diambil dari baris pertama dekrit tersebut sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai.
  16. Gaudium et Spes atau Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini adalah dokumen puncak dari Konsili Vatikan Kedua. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.307 berbanding 75, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 7 Desember 1965. Judul Gaudium et Spes atau Kegembiraan dan Harapan (dalam Bahasa Inggris “Joy and Hope”) diambil dari baris pertama dokumen ini, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya.
Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

Tugas kateketik umum

NAMA            : ANASTASIA WINARTI MARDIANSYAH

NIM                : IK 2016 003

MK                  : KATEKETIK UMUM

 

 

 

“PERANAN KATEKIS DALAM MEMBANTU MEMBINA IMAN UMAT”

 

  1. KATEKIS

Pada pertemuan nasional Katekis yang pertama tahun 2005 di Jakarta, para katekis lapangan mencoba merumuskan peran dan identitasnya dalam Gereja Katolik Indonesia. Ada beberapa refleksi kritis oleh P. Budi Kleden, SVD setelah mengikuti proses diskusi dan sharing para peserta. Terdapat variasi cukup besar ketika kelompok-kelompok diskusi berbicara tentang identitas katekis. Masing-masing keuskupan mempunyai pemahaman yang berbeda-beda mengenai siapa katekis itu:

  1. Ada yang memahami katekis sebagai mereka yang bekerja di bidang                                                   pewartaan, dalam hal ini semua orang yang bekerja dalam bidang                                        pewartaan entah purnawaktu atau paruh waktu disebut katekis,                                                             apapun latarbelakang keahliannya. Mereka itu terpanggil untuk terlibat                                          dalam tugas pewartaan Gereja. Pemahaman seperti ini, yang                                                   dimasukkan kelompok katekis adalah mereka yang menjalankan tugas-                                         tugas pendampingan iman, mempersiapkan penerimaan sakramen-                                                   sakramen, memimpin/memandu katekese umat, dll.
  2. Ada yang rnenempatkan katekis sebagai kaum awam yang terlibat                                            dalam karya pastoral gereja, seperti pendampingan kaum muda,                                                       pendampingan kaum buruh, bahkan pemimpin ibadat.
  3. Ada pula yang memahami katekis sebagai orang yang mempunyai pendidikan formal sebagai katekis, tepatnya yang mempunyai ijazah pendidikan Tinggi Kateketik, entah itu D2, D3 ataupun S1. Atas dasar gagasan ini dikatakan bahwa mereka ini semua katekis, entah kini sedang bertugas di mana. Karena itu ada katekis yang menjadi auggota DPR, ada katekis yang menjadi Bupati, tanpa secara langsung menjalankan karya katekese

Dari tiga pengelompokan ini maka perlu diperjelas, katekis itu suatu fungsionaris dalam Gereja, atau suatu status hidup. Kalau status, maka identitasnya terkait dengan katekis itu sendiri, entah di manapun kedudukannya. Bila katekis itu suatu fungsionaris dalam Gereja, maka perlu diperjelas manakah kekhasan karya katekese itu dalam keseluruhan reksa pastoral Gereja. Peran khas katekese kiranya lebih menyangkut pendampingan umat beriman dalam rangka pengembangan imannya, baik proses mengenal iman maupun sesudah ia beriman. Apakah di sini katekese perlu dibedakan dan fungsi pewartaan lainnya, pewartaan ke luar misalnya?

Tugas pewartaan merupakan tugas seluruh umat beriman, maka setiap umat beriman berhak dan wajib menjalankan tugas pewartaan itu. Hanya masing-masing menurut bidangnya serta kemampuannya. Dalam rangka ini perlu diadakan pembedaan-pembedaan, mengenai macam-macam petugas yang menjalankan fungsi katekese dalam hidup Gereja. Ada katekis-katekis di tingkat akar rumput, yang sungguh-sungguh muncul dari jemaat. lni sesuai dengan cita-cita pemberdayaan komunitas-komunitas basis, yang mengandaikan gerak hidup dari jemaat terkecil itu sendiri. Sementara itu, bila kita berbicara mengenai katekese umat, maka umat beriman dalam tingkat paling kecillah yang harus menjadi subyek katekese. Di samping itu, perlu mereka yang lebih ahli untuk meneguhkan dan menyegarkan kemampuan mereka untuk mendampingi jemaat. Di sinilah dituntut orang yang lebih mengenal ajaran iman, dan lebih kreatif mencari model-model katekese.

Kita petlu bertolak dari pandangan bahwa katekese adalah pengambilan bagian dalam tugas mengajar seluruh Gereja. Seluruh Gereja mengambil bagian di dalam tritugas Kritus: sebagai imam, gembala dan nabi. Sebab itu, yang berkatekese bukan hanya para katekis. Semua orang yang sudah dibaptis mengambil bagian dalam tugas ini dan bertanggung jawab atas pelaksanaannya.
Namun, agar semua orang beriman dapat melaksanakan tugas pewartaan ini dengan benar sesuai semangat Roh Kudus, maka diperlukan orang-orang khusus yang mendampingi mereka. Tugas orang-orang khusus ini adalah untuk mengajar, agar orang yang diajar dapat berkembang dalam iman dan menjadi pewarta menurut kesaksian hidupnya. Orang-orang khusus tersebut adalah para katekis. Sebab itu, seorang katekis sebagai seorang yang secara khusus merasa terpanggil oleh Roh dan mendapat penugasan dari Gereja untuk mengajarkan iman, agar semua orang yang mengenal Kristus bertumbuh dalam iman dan menjadi saksi-Nya yang hidup. Di sini kita perlukan dua hal: panggilan dari Roh Kudus dan penugasan dari Gereja. Kita sebenarnya berbicara tentang kharisma dan jabatan. Menjadi katekis adalah kharisma sekaligus satu jabatan pelayanan di dalam Gereja.

Kekhususan yang dimaksudkan di sini bukan ditentukan oleh waktu dan pendidikan. Yang dimaksudkan adalah profesionalitas artinya orang yang dalam kenyataan melaksanakan tugas mengajar di atas. Juga seorang katekis paruhwaktu dan katekis akademis, dapat berperan sebagai katekis dalam pengertian sempit di atas. Kita dapat menganalogikan peran seperti ini dengan teologi tentang imamat di dalam Gereja katolik, Di sini kita mengenal imamat rajawi (imamat seluruh umat beriman) dan imamat jabatan atau imamat pelayanan (tertahbis). Tugas dan makna imamat jabatan selalu dikaitkan dengan imamat umum seluruh umat beriman: imamat jabatan melayani imamat orang beriman, agar mereka dapat melaksanakan perannya sebagai pengantara dan pengudus. Hal yang sama dapat dikatakan tentang peran katekis dan tugas pewartaan seluruh Gereja.

 

1.Siapakah Katekis menurut Dokumen Gereja?

Dalam Gereja terdapat perbedaan dalam hal pelayanan tetapi satu tubuh. Dari Kristus “seluruh Tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya” ( Kol 2:19). Tuhan membagi-bagikan karunia-karunia pelayanan dalam tubuhNya (LG 7). Berkat kekuatanNya, kita saling melayani dengan karunia-karunia yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita demi untuk membentuk tubuh Kristus yang sempurna. Satu daripada karunia pelayanan yang dianugerahkan dan diawali oleh Yesus sendiri ialah katekese. Pelayanan katekese tidak boleh dipisahkan dengan Gereja dan merupakan hati kepada semua pelayanan dalam Gereja. “Catechesi Tradendae” menyatakan bahawa dalam semua pelayanan Gereja, katekese mendapat tempat yang paling utama dan istemewa (CT.13). Katekese mempersiapkan umat Allah untuk hidup dalam komunitas dan mengambil bahagian secara aktif didalam kehidupan dan misi Gereja. Dokumen ini seterusnya menjelaskan bahawa jika katekese dijalankan dengan baik dan sistematik, pelayanan-pelayanan yang lain dalam Gereja tidak akan menghadapi banyak masalah (CT 63).

Adapun beberapa dokumen Gereja yang menjelaskan siapakah katekis dan perannya adalah:
– Catechesi Tradendae (1977): Katekis adalah umat awam yang telah melalui          pembentukan/kursus dan hidup sesuai dengan Injil. Secara ringkasnya, katekis adalah             seorang yang telah diutus oleh Gereja, sesuai dengan keperluan setempat, yang tugasnya    adalah untuk membawa umat untuk lebih mengenali, mencintai dan mengikuti Yesus.

– Redemptoris Missio (1990): Menggambarkan katekis sebagai “pelayan, saksi, penginjil dan tulang punggung Komunitas Kristiani, terutama bagi Gereja-Gereja yang masih muda.

– Guide for catehists (1993): menyatakan bahawa tugas katekis berkait erat dalam tugas-tugas misionaris. Mereka bukan saja komited di dalam mempersiapkan umat untuk menerima sakramen-sakramen (Pembaptisan, Penguatan, pengakuan dan Ekaristi) tetapi juga sebagai saksi, dan melibatkan diri dalam mempertahankan hak-hak asasi manusia, inculturasi dan dialog.

– General Directory for Catehesis (1997): Katekis adalah sebagai guru, pendidik dan saksi Iman.

 

2.Tugas seorang Katekis
Tugas seorang katekis antara lain sebagai berikut:

– Guru Pendidikan agama (Katekese): Sekolah Minggu, Komuni Pertama, Penguatan, dll

– Pendamping/Pemandu Katekese keluarga, pembentukan iman untuk kaum muda dan      dewasa.
– Memimpin doa dalam komunitas (KBG) atau memimpin ibadat sabda) terutama sekali    waktu tidak ada pastor Paroki.
– Memimpin doa misalnya pada acara pemberkatan dan memberi komuni kepada orang      sakit, ibadat untuk orang mati .
– Membantu pengelolaan pastoral Paroki.

– Melatih orang lain untuk menjadi katekis di komunitas basis.
– Mempromosikan nilai-nilai hidup manusia seperti keadilan, kejujuran, dsb.

 

3.Pelayanan Seorang Katekis

Menurut General Directory for Catehesis (1997), “katekese merupakan pelayanan Gereja   yang fundamental, yang tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan Gereja. Katekese     bukanlah suatu karya yang diwujudkan dalam komunitas komunitas berdasarkan alasan       pribadi atau semata-mata karena prakarsa pribadi. Pelayanan katekese dilaksanakan atas        nama Gereja dengan mengambil bagian dalam perutusannya. Pelayanan kateketik di                      antara semua pelayanan dan karya Gereja memiliki karakter sendiri yang muncul dari         peran kegiatan khusus kateketik dalam proses evangelisasi. Tugas katekis sebagai   pendidik dalam iman, berbeda dari petugas pastoral lainnya (liturgis, karikatif, sosial,       dll)”.

Mengingat karya seorang katekis adalah atas nama Gereja dan bukan atas               prakarsa pribadi maka pada umumnya para katekis dilantik oleh Uskup sebagai         pemegang hak magisterium Gereja. Oleh karena itu diharapkan katekis diterima oleh   umat. Sebagai seorang katekis mereka diharapkan :

  1. Telah dibaptis, menerima sakramen Ekaristi atau komuni pertama dan sakramen penguatan
    b. Bersedia untuk melayani dan komited.
    c. Hidup doa dan kehidupan Katolik yang baik.
    d. Iman yang teguh dan mempunyai pengetahuan tentang agama yang diimani.
    e. Bebas dari hukum kanonik
    f. Mempunyai penampilan yang sesuai dengan ajaran Kristus.
    g. Memiliki nama baik, sebagai peribadi maupun keluarga.

 

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

KATEKETIK UMUM

Nama:Alberta ranti
Nim:Ik 2016-002
Tugas:kateketik Umum

Topik: Katekese Dalam Kegiatan Pastoral dan Misioner Gereja

Katekese sebagai suatu tahap Evangelisasi merupakan tahap yang mempunyai ciri khas yaitu terdapat dalam Direktorium Umum untuk katekese sudah cukup jelas diterangkan dengan mengetahui pengertian Katekese. Evangelisasi berasal dari kata evangeli merupakan injil harus diwartakan melalui kesaksian hidup. Anjuran Apostolik ‘’ Evanggeli Nuntiandi ‘’tentang pewartaan injil dalam dunia modern, tanggal 1975, dengan tepat menekankan bahwa pewartaan Injil yang bertujuan menyampaikan Warta Gembira kepada segenap umat manusia. Katekese memiliki tujuan khas Katekese yaitu membantu Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh dan dari hari-hari memekarkan menuju kepenuhan serta makin memantapakan perihidup Kristen umat beriman.
Katekese adalah mengembangkan pengertian tentang misteri Kristus dalam cayaha firman Allah, sehingga seluruh pribadi manusia diresepi oleh firman itu. Dalam berkatekese harus mempunyai sistem atau program-program yang tersusun disebut sistemastis. Ketika kita menggunakan katekese sistemastis akan orang semakin pahan dan mengerti yang kita sampaikan. Pada saat berkatekese, kita membagi atau mengetahui kepada orang lain tentang pengalaman yang kita miliki didalam pribadi.Misalnya pengalaman hidup selama mengikuti pendidikan Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS ) yang kita dapat dari teman, pastor,suster, dan lain-lain.
Katekese mempunyai hubungan batin dengan seluruh kegiatan liturgis dan sakramental. Untuk itu, hubungan Katekese dengan sakramen bernilai sangat tinggi dan setiap bentuk akan mengantar kepada sakramen-sakramen iman.Dengan adanya katekese dan sakramen akan menbantu umat agar memahami segala yang ada didalam liturgi Gereja. Jadi, pada intinya ketekese sungguh perlu baik bagi pendewasaan iman maupun bagi kesaksian umat Kristiani ditengah masyarakat : tujuannya ialah mendampingi umat Kristiani, untuk ‘’meraih kesatuan iman serta pengertian akan putera Allah, kedewasaan pribadi manusia, dan tingkat pertumbahan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.
Katekese erat sekali berkaitan dengan seluruh kehidupan Gereja.Di satu pihak pasti katekese itu suatu kewajiban yang bersumber pada perintah Tuhan,dan terutama bertumpu pada panggilan untuk melakukan pelayanan pastoral. Menurut pendapat saya, Katekese merupakan suatu proses pengajaran tentang iman akan Allah Tritunggal Mahakudus kepada umat agar iman dan kepercayaannya kepada Allah semakin menjadi berkembang menuju suatu kedewasaan iman dan agar bisa semakin menghayati bahkan mengimplementasikan kehidupan imannya dalam kehidupan sehari- hari, sehingga akan menjadikan dirinya selalu setia akan diri Allah sendiri yang telah berinkarnasi menjadi manusia dan sehingga umat semakin bisa menjawab tantangan zaman sekarang dengan iman serta kepercayaannya, dan agar umat tidak tergoda untuk meninggalkan Allah, yang terutama agar Manusia bisa menjalin hubungan dengan baik antar sesama manusia ( saling mengasihi dan mencintai sesama ) dan akan Allah sendiri.
Dewasa ini, Katekese mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan manusia sehari- hari, secara khusus didalam kehidupan umat Kristiani karena katekese merupakan salah satu cara untuk menstimulus atau memberikan rangsangan kepada umat agar bisa tumbuh dan berkembang dalam imannya. Kaum muda, biasanya terdiri dari remaja dan orang –orang dewasa, dengan adanya Katekese bagi kalangan mereka, maka akan menimbulkan suatu dampak positif, yaitu mereka akan lebih cenderung selektif dalam memilih teman, tetapi tidak bertingkah didalam bergaul dengan sesama, mereka bisa lebih menjaga perasaan orang lain melalui pembicaraan- pembicaraan mereka, mereka tidak akan mudah untuk terjerumus dengan pergaulan- pergaulan yang menyesatkan, mereka akan menjadi lebih berbakti kepada Orang Tua mereka, mereka secara langsung akan turut serta didalam kegiatan-kegiatan pastoral atau pelayanan kepada umat- umat yang membutuhkan pelayanan, secara perlahan didalam diri mereka akan tertanam suatu pengalaman atau experience dalam pelayanan kepada sesama sehingga akan membuat dia terpanggil untuk menjadi seorang pewarta sabda, dll.
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa Katekese mempunyai banyak manfaat didalam kehidupan kita sehari- hari, dan Katekesepun mempunyai manfaat pula didalam perkembangan gereja dewasa ini. Agar gereja dewasa ini makin berkembang didalam iman yang kuat dan kokoh dalam mengikuti Tuhan Yesus dengan sepenuh hati melakukan suatu pelayanan dan Misioner Gereja ditenggah umat yang yang belum pernah merasakan suatu pelayanan.Melakukan sebuah pelayanan itu harus kita imani dengan sungguh-sungguh dan rela hidup apa adanya demi mengkuti Yesus Kristus.
Menjadi seorang Misonaris itu harus sabar,rendah hati,dan rela berkorban dalam berbagai hal demi pewartaan sabda Allah ditengah umat dimanapun mereka berada seorang Misonaris adalah orang yang tangguh dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas Gereja.
Katekese berupaya mendorong umat untuk membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama maupun lingkungannya. Dalam hal ini, proses katekese yang bertujuan mematangkan dan mendewasakan iman harus dilaksanakan secara sadar dan terencana dengan penuh tanggung jawab (tidak “improvisasi”). Katekese harus memperhitungkan situasi peserta (latar belakang, psikologi, minat, kebutuhannya). Dalam hal ini katekese harus menjadi lebih kontekstual. Proses katekese adalah proses pendidikan iman yang membebaskan. Dalam proses katekese setiap pribadi dihargai martabatnya sederajat, di mana setiap orang bebas mengungkapkan pengalaman imannya tanpa rasa takut. Dalam hal ini setiap pengalaman iman dari masing-masing pribadi harus dilihat sebagai pengalaman yang dapat memperkaya sesamanya dalam proses berkatekese. Katekese diharapkan membangun iman yang “terlibat’ (mendorong “aksi” nyata).

Pendamping katekese adalah “fasilitator” yang memudahkan terjadinya komunikasi iman. Untuk itu, tidak tepatlah kalau pendamping bertindak sebagai orang yang ‘maha tahu’ apalagi sebagai penceramah yang mendominasi proses pertemuan.
Proses katekese harus mampu “menjemput/menyentuh” pengalaman hidup ataupun pengalaman iman antara manusia dan Allah.Sarana maupun metode katekese yang diupayakan, semuanya bertujuan untuk memudahkan terjadinya komunikasi iman. Pemikiran bahwa dalam pertemuan katekese “yang penting asal diisi dengan banyak kegiatan bagi umat” Katekese hanya salah satu dari upaya-upaya pastoral secara menyeluruh. Proses perkembangan iman harus dilengkapi dengan upaya-upaya pastoral yang lain.
Katekese memberitakan Sabda Allah
Sabda Allah yang terbaca dalam Kitab Suci memuat berita tentang penyelamatan umat manusia dari pihak Allah yang memuncak dalam diri Yesus Kristus. Dalam diri Kristuslah, terdapat puncak segala wahyu. Sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya adalah peristiwa definitif penyelamatan manusia menuju pertemuan abadi dengan Allah agar manusia bertemu secara pribadi dengan Kristus. Katekese adalah pewartaan diri Kristus. Yesus Kristus dalam kepenuhan pribadi-Nya adalah pusat yang tak dapat dibantah dalam katekese. Itulah sebabnya katekese haruslah bersifat kristosentris, berpusat pada Kristus. Seorang pewarta, seperti katekis atau tenaga pastoral pada umumnya, perlu menyadari sungguh-sungguh bahwa yang ia wartakan kepada umat adalah Kristus; sedangkan ia sendiri adalah alat di tangan Kristus, agar tercipta pertemuan pribadi manusia dengan Kristus, Sang Guru Ilahi.
Katekese Mendidik Untuk Beriman Iman sungguh anugerah dari pihak Allah sehingga seseorang terpaut pada-Nya (bdk. Yoh 6:65-66), berserah diri dan menaati Allah. Peranan manusia sifatnya sekunder. Namun manusia perlu menciptakan suasana agar iman itu kian dirasakan, bertumbuh, dan berbuah. Dalam hal ini katekese itu penting. Katekese mencari kemungkinan agar jawaban manusia terhadap tawaran Allah (yang termuat dalam teks-teks Kitab Suci) dapat terwujud dengan semestinya. Katekese menolong agar umat terpikat pada diri Allah, yang diwartakan oleh Yesus Kristus dan agar mereka terdorong untuk melakukan kehendak dan perintah Allah. Dengan demikian diharapkan tercapailah pembaruan dalam hidup manusia. Manusia yang hidup pada zamannya dalam konteks budaya tertentu menjadi manusia rohani yang hidup lebih bekenan di hadapan Allah. Iman yang dihidupi senantiasa membutuhkan pengembangan yang berproses. Maka dalam katekese ada 3 komponen penting yaitu: 1. Kognitif: dalam berkatekese disajikan pemahaman agar orang semakin yakin dan dapat bertanggungjawab atas iman atau agamanya; 2. Afektif: dalam berkatekese.
Katekese Mengembangkan Gereja Umat Allah yang mengimani Kristus sebagai Pemimpin dan Juruselamatnya disebut Gereja. Kegiatan/usaha mengukuhkan persaudaraan Gerejawi dan untuk mengobarkan semangat iman anggota Gereja termasuk tugas utama katekese. Tidak ada katekese yang benar kalau bukan dalam konteks kegerejaan. Dokumen Catechesi Tradendae mengatakan: Katekese di masa lampau maupun di masa mendatang selalu merupakan karya yang harus termasuk tanggung jawab Gereja, dan yang oleh Gereja memang harus diinginkan sebagai salah satu tanggungjawabnya. Tetapi para anggota Gereja mengemban tanggung jawab yang berbeda-beda, tergantung dari perutusan mereka masing-masing”.
Perkembangan suatu Gereja pun sangat tergantung pada usaha-usaha katekese menyebarkan sabda penyelamatan Allah kepada manusia. Gereja ada, berkembang dan menyebar karena aktivitas kateketis. Bahkan lewat katekese, gereja sendiripun semakin dibarui, dalam arti bahwa katekese memberi penilaian kritis terhadap keberadaan gereja dalam zaman yang terus berubah.
Demi mengembangkan Gereja, dibutuhkan suatu program katekese yang menyeluruh dan berkesinambungan sejak usia dini sampai usia lanjut ( katekese anak-anak, katekese remaja, katekese orang dewasa, katekese usia lanjut) serta katekese bagi kelompok-kelompok kategorial. Berkaitan dengan ini Kardinal Carlo Maria Martini pernah mengatakan bahwa keempat Injil itu adalah sebuah katekese yang berkelanjutan dalam Gereja Purba: Injil Markus adalah buku katekese untuk para katekumen, orang yang dipersiapkan untuk dibaptis; Injil Matius adalah buku katekese untuk orang yang telah dibaptis dan secara khusus untuk para katekis; Injil Lukas adalah buku katekese untuk orang yang telah dibaptis dan secara khusus bagi para teolog; Injil Yohanes adalah buku katekese untuk orang yang telah dewasa dalam iman dan khususnya bagi para imam. Jadi, Gereja dapat bertumbuh dan berkembang kalau katekese berjalan lancar dan dilaksanakan secara terprogram dan berkelanjutan.
Dalam menyampaikan katekese juga harus mempunyai pribadi yang terbesar,selalu menggetarkan bila menyaksikan orang jadi mengenal Kristus,ada kegembiraan khusus dan yang memuaskan melihat orang-orang yang telah kita beri waktu,kasih dan doa menjadi menerima Kristus dan tumbuh hidup rohaninya.Rasul Yohanes mengatakan:”bagiku,tidak ada suka cita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran”(3 Yoh 4).

Sumber :buku CATECHESI TRADENDAE(Penyelenggaraan Katekese)
EVANGELII NUNTIANDI(Mewartakan injil)
Buku:Pewartaan Kabar Baik
INSTITUT PASTORAL INDONESIA
MALANG 1994

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

TUGAS KATEKETIK UMUM

NAMA            : THERESIA LEDA MAMA

NIM                : IK 2016 015

MK                  : KATEKETIK UMUM

 

“MAKNA KATEKESE DALAM LITURGI”

 

  1. ARTI KATA MAKNA

Makna adalah hubungan antara lambang bunyi dengan acuannya. Makna merupakan bentuk responsi dari stimulus yang diperoleh pemeran dalam komunikasi sesuai dengan asosiasi maupun hasil belajar yang dimiliki. Ujaran manusia itu mengandung makna yang utuh (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). Bermakna berarti; mempunyai (mengandung) arti penting (dalam)berbilang mempunyai (mengandung) beberapa arti.

  1. ARTI KATA KATEKESE

Kata katekese berasal dari kata catechein (kt. Kerja) dan catechesis (kt. Benda). Akar katanya adalah kat dan echo. Kat artinya keluar, ke arah luas dan echo artinya gema/gaung. Berarti makna profan dari katekese adalah suatu gema yang diperdengarkan ke arah luas/keluar. Gema dapat terjadi jika ada suara yang penuh dengan keyakinan dan gema tidak pernah berhenti pada satu arah, maka katekese juga harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan tidak pernah berhenti pada satu arah.

Dalam kitab suci juga terdapat kata katekese, terutama pada:

  • Luk 1:4 (diajarkan), supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.
  • Kis 18:25 (pengajaran dalam jalan Tuhan), Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes.
  • Kis 21:21 (mengajar), Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita.
  • Rm 2:18 (diajar); dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak.
  • 1 Kor 14;19 (mengajar) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.
  • Gal 5:6 (pengajaran) katekese Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.

Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dna orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistemastis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (Cathechesi Tradendae 18)

Dalam konteks ini dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman, tetapi Dewasa ini katekese juga dimengerti sebagai pengajaran sekaligus latihan-latihan bagi para calon baptis, atau kita kenal dengan istilah katekese baptis dan katekese mistagogi kata lain katekese adalah usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaannya terdapat unsur pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan pengukuhan serta pendewasaan.

Katekese merupakan salah satu bentuk pelayanan sabda, yang bertujuan membuat iman umat hidup, dasar, dan aktif lewat cara pengajaran(Direktorium Kateketik Umum, 1971. 17)

Dalam ruang lingkup kegiatan pastoral, istilah katekese diartikan sebagai karya gerejani, yang menghantarkan kelompok maupun perorangan kepada iman yang dewasa(Direktorium Kateketik Umum, 1971. 21).

Katekese terpadu dengan karya-karya pastoral Gereja yang lain, tetapi sifat khasnya, yakni sebagai inisiasi, pendidikan, dan pembinaan, tetap dipertahankan(Direktorium Kateketik Umum, 1971. 31).

Isi katekese adalah wahyu Allah, misteri Allah dan karya-karya- Nya yang menyelamatkan, yang terjadi dalam sejarah umat manusia(Direktorium Kateketik Umum, 1971. 37).

Dasar katekese adalah “penugasan Kristus kepada para rasul dan pengganti-pengganti mereka”. Dalam Mat 28 : 19-20, Yesus mengutus para rasul untuk “pergi”, “menjadikan semua bangsa murid-Ku”, “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, dan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”. Dalam tafsir Injil Matius dijelaskan bahwa tugas para rasul mencakup pewartaan awal kepada orang yang belum mengenal Tuhan, pengajaran kepada para katekumen, dan pengajaran kepada orang yang telah menjadi anggota Gereja agar iman mereka lebih mendalam.

  1. ARTI KATA LITURGI

Liturgi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani, leitourgia, yang berarti kerja bersama. Kerja bersama ini mengandung makna peribadatan kepada Allah dan pelaksanaan kasih, dan pada umumnya istilah liturgi lebih banyak digunakan dalam tradisi Kristen, antara lain umat Katolik.

Di dalam liturgi, Gereja merayakan Misteri Paskah Kristus yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga- yang membawa kita kepada Keselamatan. (Sacrosanctum Concilium, Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci, 5, dan Katekismus Gereja Katolik 1067, 1068.)) Dengan merayakan Misteri Kristus ini, kita memperingati dan merayakan bagaimana Allah Bapa telah memenuhi janji dan menyingkapkan rencana keselamatan-Nya dengan menyerahkan Yesus Putera-Nya oleh kuasa Roh Kudus untuk menyelamatkan dunia. ((KGK 1066.)) Jadi sumber dan tujuan liturgi adalah Allah sendiri.

Katekismus Gereja Katolik menjabarkan tentang liturgi sebagai karya Allah dengan mengutip surat Rasul Paulus, demikian:

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” (Ef 1:3-6) (( KGK 1077))

Maka “berkat rohani” merupakan karya Allah.  Sumber dari segala berkat rohani ini adalah Allah Bapa, berkat ini dicurahkan kepada kita di dalam Kristus, oleh kuasa Roh Kudus. Sejak awal mula Allah telah memberkati mahluk ciptaan-Nya, secara khusus umat manusia (( KGK 1080)). Dalam liturgi inilah berkat rohani surgawi dicurahkan kepada kita. Dan karena berkat rohani dari Allah yang terbesar adalah karya keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh Kristus dan  di dalam Kristus, maka karya keselamatan Allah itulah yang dihadirkan kembali di tengah Gereja dalam liturgi, oleh kuasa Roh Kudus.

Liturgi pada awalnya berarti “karya publik”. Dalam sejarah perkembangan Gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Kristus melanjutkan karya Keselamatan di dalam, dengan dan melalui Gereja-Nya. ((KGK 1069.)) Pada jaman Gereja awal seperti dijabarkan di dalam surat rasul Paulus, para pengikut Kristus beribadah bersama di dalam liturgi (dikatakan sebagai “korban dan ibadah iman” di dalam Flp 2:17). Termasuk di sini adalah pewartaan Injil “(Rom 15:16); dan pelayanan kasih (2 Kor 9:12). Maka, dalam Perjanjian Baru, kata ‘liturgi’ mencakup tiga hal, yaitu ibadat, pewartaan dan pelayanan kasih yang merupakan partisipasi Gereja dalam meneruskan tugas Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. (( KGK 1070.))

Secara khusus, liturgi merupakan wujud pelaksanaan tugas Kristus sebagai Imam Agung. Dalam hal ini, liturgi merupakan penyembahan Kristus kepada Allah Bapa, namun dalam melakukan penyembahan ini, Kristus melibatkan TubuhNya, yaitu Gereja; sehingga liturgi merupakan karya bersama antara Kristus (Sang Kepala) dan Gereja (Tubuh Kristus). Konsili Vatikan II mengajarkan pengertian tentang liturgi sebagai berikut:

“Maka, benarlah bahwa liturgi dipandang sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus. Di dalam liturgi, dengan tanda-tanda lahiriah,  pengudusan manusia dilambangkan dan dihasilkan dengan cara yang layak bagi masing-masing tanda ini; di dalam Liturgi, seluruh ibadat publik dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya.

Oleh karena itu setiap perayaan liturgis sebagai karya Kristus sang Imam serta Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama.” ((Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium, 7))

Oleh karena itu tidak ada kegiatan Gereja yang lebih tinggi nilainya daripada liturgi (( KGK 1070, Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concillium, 7.)) karena di dalam liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai ‘Mempelai’-Nya dan Tubuh-Nya sendiri.

Paus Pius XII dalam surat ensikliknya tentang Liturgi Suci, Mediator Dei, menjabarkan definisi liturgi sebagai berikut:

“Liturgi adalah ibadat publik yang dilakukan oleh Penebus kita sebagai Kepala Gereja kepada Allah Bapa dan juga ibadat yang dilakukan oleh komunitas umat beriman kepada Pendirinya [Kristus], dan melalui Dia kepada Bapa. Singkatnya, liturgi adalah ibadat penyembahan yang dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus secara keseluruhan, yaitu Kepala dan anggota-anggotanya.” ((Paus Pius XII, Mediator Dei, 20))

Atau, dengan kata lain, definisi liturgi adalah seperti yang dirumuskan oleh Rm. Emanuel Martasudjita, Pr. dalam bukunya Liturgi, yaitu: “Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah di dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.” ((Rm. Emanuel Martasudjita, Pr., Liturgi, Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), p.22))

Alkitab mengatakan, “Terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia yang dikasihi-Nya” (Ef 1:3-6). Dari sini kita mengetahui bahwa Allah Bapalah yang memberikan rahmat sorgawi kepada kita, melalui Kristus dan di dalam Kristus. Dan karena rahmat itu diberikan di dalam sakramen melalui liturgi, maka sumber liturgi adalah Allah Bapa, dan tujuan liturgi adalah kemuliaan Allah.

Karena Kristus telah bangkit mengalahkan maut, maka, Ia yang telah duduk di sisi kanan Allah Bapa, pada saat yang sama dapat terus mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada Tubuh-Nya, yaitu Gereja-Nya, melalui sakramen-sakramen. ((Lihat KGK 1084)) Karena Yesus sendiri yang bertindak dengan kuasa Roh Kudus-Nya, maka kita tidak perlu meragukan efeknya, karena pasti Kristus mencapai maksud-Nya.

Puncak karya Kristus adalah Misteri Paska-Nya, maka Misteri Paska inilah yang dihadirkan di dalam liturgi Gereja. ((Lihat KGK 1085)) Jadi dalam liturgi, Misteri Paska yang sungguh-sungguh telah terjadi di masa lampau dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus. Karena Kristus telah menang atas kuasa dosa dan maut, maka Misteri Paska-Nya tidak berlalu begitu saja ditelan waktu, namun dapat dihadirkan kembali oleh kuasa Ilahi, yang mengatasi segala tempat dan waktu. Hal ini dilakukan Allah karena besar kasih-Nya kepada kita, sehingga kita yang tidak hidup pada masa Yesus hidup di dunia dapat pula mengambil bagian di dalam kejadian Misteri Paska Kristus dan menerima buah penebusan-Nya. Katekismus mengajarkan, “Liturgi Kristen tidak hanya mengingatkan kita akan peristiwa-peristiwa yang menyelamatkan kita, tetapi menghadirkannya juga. Misteri Paska Kristus dirayakan bukan diulangi; hanya perayaan-perayaan itu yang diulangi. Di dalam setiap perayaan terjadi curahan Roh Kudus yang membuat misteri yang terjadi hanya satu kali itu, menyata dalam waktu sekarang.” ((KGK 1104))

Kristus selalu hadir di dalam Gereja, terutama di dalam perayaan liturgi. Pada perayaan Ekaristi/ Misa kudus, Kristus tidak hanya hadir di dalam diri imam-Nya, namun juga di dalam wujud hosti kudus  Liturgi di dunia menjadi gambaran liturgi surgawi di mana Yesus duduk di sisi kanan Allah Bapa, dan kita semua sebagai anggota Gereja memuliakan Allah bersama seluruh isi surga. (( Konsili Vatikan II, tentang Liturgi  suci, Sacrosanctum Concilium, 8.))

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

TUGAS PASDA” PENGANTAR DAN HOMILI”

 

KELOMPOK 5

NAMA:

  • THERESIA LEDA MAMA
  • WIWIT ARIS PRANATA

SEMESTER: II (DUA)

MK: PASTORAL DASAR

 

“MINGGU PASKAH IV”      

 

Kata pengantar

Selamat pagi Bapak,ibu,dan saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus  pada hari ini kita telah masuk minggu Paskah yang Ke VI, bacaan pertama diambil dari Kisah Para Rasul pada hari ini menceritakan tentang kabar sukacita yang dibawa oleh Fillipus kepada orang Samaria, sedangkan bacaan Injil yang diambil dari Injil Yohanes pada hari ini menceritakan tentang kabar sukacita yang dibawa oleh Yesus jika kita mengikuti segalah perintah dan nasihat-Nya, dan juga kita selalu beriman kepada Dia, marilah kita memulai perayaan Ekaristi pada hari ini dengan penuh iman dan kepercayaan agar kita mampu menerima kabar sukacita yang dibawa oleh Yesus, menyadari bahwa kita adalah manusia yang tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan marilah kita memohon ampun pada Tuhan.

Renungan

Selamat pagi saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, patutlah pada pagi hari ini kita mengucap syukur kepada Tuhan karena kita masih diberi nafas kehidupan dan atas penyertaan-Nya kita dikumpulkan kembali ditempat ini untuk mendengarkan dan merenungkan sabda-Nya pada hari ini. Bacaan pertama pada hari ini mengisahkan tentang Fillipus yang membawa kabar sukacita Yesus kepada orang Samaria dan juga dibacaan Injil pada hari ini mengisahkan tentang Yesus yang memberitahkan kabar gembira jika kita tekun dalam perintah dan selalu hidup menurut ajaran-Nya, sebenarnya dalam Injil pada hari ini mengajarkan kita untuk selalu percaya dan beriman kepada Kristus, dalam segala perbuatan dan tindakan kita. Iman merupakan titik tolak bagi kita untuk dapat mengenal Kristus dengan baik, dapat diandaikan dengan jika kita ingin mengenal sesorang secara lebih dekat dan ingin hidup bersatu dengan dia, pastilah hal utama adalah diandaikan kita sungguh percaya kepadanya, percaya bahwa dia adalah yang terbaik, sama hal juga seperti jika kita ingin tinggal dan merasakan sukacita bersama Kristus  kita juga harus percaya dan selalu beriman kepada-Nya. Dalam hidup kita sehari-hari pun kita dituntut untuk selalu memberikan sikap hidup yang sesuai dengan imandan kepercayaan kita, dalam hidup juga kita diminta untuk menghadirkan Yesus dalam setiap tindakan dan tingkah laku kita. Semoga dengan renungan pada hari ini menjadikan kita pribadi yang selalu kuat dalam iman dan juga menjadi pribadi yang selalu menghadirkan Kristus dalam setiap tindakan kita. Amin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

pastoral dasar “Buat kata pengantar dan Homili”

Kelompok:III
NAMA:ALBERTA RANTI
HARRY STEFANUS
HERBBY KRISWANTO

TUGAS:PASTORAL DASAR

Kata pengantar :
Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, pada pagi hari ini adalah minggu paskah VI, bacaan pertama pada hari ini diambil dari Kis 8:5-8.14-17 menceritakan tentang sukacita yang dialami oleh orang-orang samaria karena kabar sukacita yang dibawa oleh filipus, dan bacaan Injil pada hari ini diambil dari Yoh 14:15-21 menceritakan tentang kabar sukacita yang diberitakan Yesus, kepada kita agar kita yakin dan percaya kepada-Nya, marilah kita siapkan hati dan pikiran kita untuk mengikuti perayaan Ekaristi pada hari ini, menyadari bahwa kita sebagai manusia yang tidak pernah luput dari dosa, maka diawal perayaan ini marilah kita mengakui segalah dosa dan kesalah kita dihadapan Tuhan.agar kita pantas dan layak untuk kembali menyambut Tubuh dan Darah Kristus marilah kita sama-sama rendahkan hati kita di hadapan Tuhan untuk siap menyambut kedatangan sang penyelamat kita yang telah bangkit untuk menebus dosa kita umat Manusia.

Homili
Selamat pagi Bapa,ibu,dan saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,pada hari yang berbahagia ini kita patut bersyukur atas rahmat kehidupan yang boleh kita terima sampai pada saat ini,teristimewa di hari yang bahagia ini kita bisa berkumpul kembali ditempat ini untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan.Injil hari ini menegaskan tentang Kasih yang begitu sempurna jika kita saling mengasihi maka rasa percaya dan tolong menolong akan tumbuh dalam diri kita terhadap sesama yang sedang membutuhkan pertolongan dan membutuhkan kasih dari kita baik itu orang yang miskin dan tertindas.saudara-saudari Tuhan Yesus mengajarkan tentang kasih pada kita karena kasih itu sabar,kasih itu murah hati:Ia tidak cemburu.Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan hal yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri.Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan keselahan orang lain.jika kita mengasihi orang lain tentu juga kita akan dikasihi oleh orang lain.
Jika kita tidak mempunyai kasih maka sama artinya dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemicing.Maka dari itulah kita semua sama-sama menyadari betapa berartinya kasih itu dalam kehidupan kita sehari,kita mewujudkan kasih itu dengan cara yang sederhanaan terhadap sesama yang kita kenal dan kita jumpai sepanjang hari ini.Kasih itu akan jauh lebih sempurna saudara-saudari jika kita iringi dengan keserhanaan yang kita miliki dalam diri kita sendiri.Semoga bacaan Injil hari ini dapat kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari.Amin.

“SEMOGA TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

Tugas: Pastoral Dasar ( Kata Pengantar dan Homili)

KELOMPOK III

NAMA-NAMANYA SBB:

  1. ROYMUNDUS REDE WATU
  2. MIKHA ARYA DANA
  3. ANASTASYA WINARTI MARDIANSYAH

1.  KATA PENGANTAR DALAM MINGGU PASKAH YANG KE VI ( Mereka ditumpangi tangan oleh Petrus dan Yohanes dan menerima Roh Kudus)

Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, di mana dalam bacaan-bacaan Suci pada hari ini ingin mengajak kita untuk dapat menyadari dalam setiap langkah hidup yang kita jalani pada keseharian ini. Dalam bacaan ini juga ingin menguatkan dalam setiap tindakan yang kita ambil dan setiap kehidupan yang kita lalui bersama dalam setiap saat. Seperti dalam bacaan pertama pada (Kisah Para Rasul 8:5-8.14-17) dalam bacaan ini mengisahkan tentang:” Pada ayat ke 8 Maka sangatlah besar suka dalam kota ini”). Bacaan kedua pada Surat Petrus yang Pertama ( 1Petrus 3:15-18) Dalam bacaan Kedua ini mengisahkan tentang:”Pada ayat ke 17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, dari pada menderita karena berbuat jahat). Dalam injil (Yohanes 14:15-21). Dalam Injil ini mengisahkan tentang:” Pada ayat ke 18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali pada mu). Dalam Minggu Paskah yang ke VI ini di mana kita sebagai umat katolik selalu merayakan tentang kehadiran Yesus Kristus yang telah bangkit dari penebusan dosa-dosa umat manusia. Bacaan-bacaan ini juga memiliki kaitan erat dalam kehidupan nyata yang telah dilalui Yesus Kristus. Agar kita layak masuk dalam kerajaan surga marilah kita sesali segala dosa dan kesalahan kita. Sehingga kita dapat merenungkan sabda Allah dan layak menerima Tubuh dan Darah Yesus Kristus.

2. HOMILI

Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus     bacaan Injil pada hari ini mengisahkan tentang:(”  Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali pada mu”). Di mana bacaan ini memiliki suatu perumpamaan yang nyata yang benar-benar kita resapi didalam setiap langkah dan keputusan yang kita ambil. Sehingga didalam kehidupan kita sebagai umat Kristiani yang beriman memiliki suatu kebiasaan yang besar dan kebiasaan yang mempunyai arti tersendiri, dan juga mempunyai memanfaat yang berlimpah. Untuk kita hayati dala m sikap dan tindakan sebagai seorang yang sederhana dan dan punya rasa tanggung jawab, setia, dan mau berbagi kasih dalam sebuah inspirasi hidup yang nyata.           Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, ini juga mau menunjukkan kepada kita bahwa,bagaimana cara kita memiliki suatu iman yang berlimpah didalam kasih dan pengharapan itu sendiri. Kalau kita benar-benar yakin dan percaya seperti yang dikatakan dalam bacaan tadi,  kita memiliki suatu sikap tersendiri dan sikap rendah hati dalam berbagai hal yang kita nikmati disetiap saat. Oleh sebab itu, janganlah kita sekali-kali tidak mempercayai apa yang telah dikatakan dalam bacaan Injil tadi. Karena ini semua adalah satu-satunya cara untuk kita selalu mengucapkan syukur kepada Allah dengan apa yang sudah kita peroleh didalam kasih dan pengharapan itu sendiri. Dan juga janganlah sekali-kali kita mengatakan bahwa kehidupan ini tidak memiliki suatu perasaan yang besar. Semoga renungan pada hari ini dapat menguatkan kita untuk selalu membiasakan diri dalam setiap perkembangan dan bertumbuh dalam sikap yang sederhana dan sikap yang mutlak dalam kerendahan hati.

3. REFLEKSI

Dari bacaan Suci yang kami dengar, kami melihat dari situasi yang ada. Kami memiliki peranan penting untuk selalu melibatkan diri dalam setiap langkah yang kami pilih untuk mengembangkan sebuah pertumbuhan dalam iman dan sebuah kebiasaan yang menonjol untuk dapat berbagi pengalaman menarik  dan kasih diantara sesama. Sehingga kami dapat berbuat baik, perduli terhadap sesama, dan dapat kami rasakan di setiap situasi yang ada. Langkah-langkah awal yang kami pilih adalah kami lebih mendalamkan lagi mengenal tentang dasar-dasar Biblis yang telah tetera dalam ajaran Yesus Kristus. Semoga refleksi singkat yang kami buat dapat lebih meyakinkan kami untuk menjadi pewarta sabda yang abadi dalam setiap langkah dan tindakan yang kamil ambil.

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI “DEO GRACIAS”

 

 

 

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

rangkuman buku evangelii nuntiandi

NAMA       : THERESIA LEDA MAMA

NIM           : IK 2016 015

MK             : KATEKETIK UMUM

 

 

 

EVANGELII NUNTIANDI

(MEWARTAKAN INJIL)

 

 

BAB I

DARI KRISTUS PEWARTA INJIL

KEPADA GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL

 

  1. Kesaksian dan Perutusan Yesus

Kesaksian yang diberikan Tuhan mengenai diri-Nya sendiri dan yang dikumpulkan bersama-sama oleh santo Lukas dan Injilnya “Aku harus memberitakan Injil kerajaan Allah”. Dengan pergi dari satu kota ke kota lain, sambil mewartakan kepada kaum termiskin, yang kerap kali justru paling siap menerima, kabar baik mengenai terpenuhinya janji-janji dan perjanjian yang diberikan Allah, itulah perutasan Yesus. Yesus mengatakan waktu itulah Ia telah diutus Bapa. Dan segala segi dari misteri-Nya  merupakan unsur-unsur dalam kegiatan penginjilan-Nya. Segi misteri-Nya ialah Penjelmaan itu sendiri, mukjizat-mukjizat-Nya, ajaran-Nya, berkumpulnya para murud-Nya, perutusan dua belas murid-Nya, perutusan dua belas Murid, Salib dan Kebangkitan, kehadiran-Nya yang tetap di tengah-tengah murid-murid-Nya.

  1. Yesus, Penginjil Pertama

Selama Sinode, para Uskup kerap kali menunjukan kepada kebenaran ini: Yesus sendiri kabar baik Allah, merupakan penginjil Pertama dan Terbesar. Ia sangatlah sempurna, bahkan sampai mengurbankan hidup duniawi-Nya.

  1. Mewartakan Kerajaan Allah

Sebagai seorang pewarta Injil, Kristus pertama-tama mewartakan suatu kerajaan, Kerajaan Allah; dan hal ini begitu penting, sehingga bila dibandingkan dengan segala sesuatu yang lain menjadi “sisa”, yang “diberikan sebagai tambahan”. Hanya Kerajaanlah yang bersifat mutlak, dan menjadikan setiap hal lainnya bersifat relatif. Tuhan dengan senang hati menggambarkan dengan banyak cara kebahagiaan masuk kedalam  kerajaan ini (suatu kebahagiaan yang bersifat paradoks yang terdiri dari hal-hal yang ditolak oleh dunia). Juga digambarkan-Nya tuntunan Kerajaan dan “Magna Charta” Kerajaan itu, pewarta-pewarta kerajaan, misteri-misteri Kerajaan, anak-anak Kerajaan, kesiapan dan kesetiaan yang dari siapa pun yang menantikan yang pasti dari Kerajaan itu.

 

 

  1. Pewartaan tentang Penebusan yang membebaskan

Sebagai poros dan pusat kabar baik-Nya Kristus mewartakan penebusan. Kurnia besar yang berasal  dari setiap hal menindas manusia tetapi lebih-lebih pembebasan daro dosa dan kesalahan.

  1. Dengan bayaran berupa usaha memikul salib

Kerajaan dan keselamatan ini, yang merupakan kata-kata kunci dalam pewartaan injil Yesus Kristus, tersedia bagi setiap manusia sebagai rahmat dan belas kasih. Namun pada saat yang sama tiap-tiap individu harus memperolehnya dengan sebuah perjuangan, sebab hal itu direbut dengan kekerasan, demikian kata Tuhan, melalui jerih-payah dan penderitaan, melalui hidup yang dihayati sesuai dengan Injil, melalui penyangkalan dan salib, melalui semangat Sabda Bahagia. Tapi lebih-lebih setiap individu memperolehnya malalui suatu pembaharuan batin yang menyeluruh, yang oleh Injil disebut metanoia. Metanoia  ialah suatu pertobatan yang radikal, perubahan pikirn dan hati yang mendalam.

  1. Dengan khotbah yang tak kenal lelah

Kristus melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan Allah ini melalui khotbah yang tak kenal lelah, tentang suatu kata yang tak ada bandingannya, demikian akan dikatakan oleh orang-orang: “suatu ajaran yang baru, dan dengan suatu wibawa di belakangnya”. Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya. “Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu”. Kata-kata-Nya mengungkapkan rahasia Allah, rencana-Nya, dan janji-Nya, dan oleh karenanya merubah hati manusia dan nasibnya.

  1. Dengan tanda-tanda injili

Tetapi Kristus juga melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan Allah dengan banyak tanda yang tak terhitung jumlahnya, yang membuat heran banyak orang dan sekaligus juga menarik mereka kepada-Nya untuk mendengarkan Dia, melihat Dia, dan membiarkan diri mereka diubah oleh-Nya. Dia melaksanakan pewahyua-Nya, menggenapinya, dan meneguhkannya dengan seluruh perwahyuan yang telah Ia lakukan mengenai diri-Nya, dengan kata-kata dan perbuatan-perbuatan, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat, dan lebih-lebih lagi dengan kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan dengan mengutus Roh Kebenaran.

 

 

 

  1. Bagi suatu jemaat yang harus menerima pewartaan dan menyampaikan pewartaan

Mereka yang denga tulus menerima Kabar Baik, berkat daya yang berasal dari penerimaan ini dan iman yang telah mereka miliki, kemudian berkumpul bersama atas nama Yesus untuk bersama-sama mencari kerajaan, dan membangu serta menghayati. Mereka membentuk suatu jemaat yang pada gilirannya juga mewartakan injil.

  1. Mewartakan Injil: panggilan khas bagi gereja

Gereja mempunyai kesadaran yang hidup mengenai kenyataan bahwa kata-kata Sang Penebus,”Aku harus memberitahkan Injil Kerajaan Allah”, berlaku jga sebanrnya untuk Gereja. Mewrtakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan khas bagi Gereja, merupakan identitas yang terdalam. Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran kurnia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan kematian dan Kebangkitan-Nya yang mulia.

  1. Mata rantai yang timbal balik antara Gereja dan Pewartaan Injil

Gereja berhubungan erat dengan pewartaan Injil dalam hakekatnya yang terdalam.

  • Gereja lahir dari kegiatan pewartaan Injil dari Yesus dan kedua belas Rasul. Gereja adalah hasil yang wajar, yang diharapkan, hasil yang paling langsung dan paling kelihatan dari kegiatan ini: oleh karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.
  • Setelah dilahiran sebagai hasil perutusan, maka Gereja pada gilirannya juga diutus oleh Yesus.
  • Gereja adalah pewarta Injil, namun dia mulai hal ini dengan menerima pewartaan itu sendiri. Gereja adalah jemaat kaum beriman, jemaat pengharapan yang dihayati dan komunikasikan, jemaat kasih persaudaraan.
  • Gereja ialah yang dipercaya untuk menjaga kabar baik yang harus diwartakan.
  • Setelah diutus dan diberi pewartaan Injil, maka Gereja sendiri mengutus para pewarta Injil.
  1. Gereja tak terpisahkan dari Kristus

Demikianlah ada hubungan yang mendalam antara Kristus, Gereja dan pewartaan Injil. Dalam masa Gereja, di mana kita hidup di dalamnya, menjadi tugas Gerejalah untuk mewartakan Injil. Perintah ini tidak dapat terlaksana tanpa Gereja, apabila bertentangan dengan Gereja.

 

 

BAB II

APAKAH EVANGELISASI ITU?

 

  1. Kompleksnya kegiatan mewartakan Injil

Di dalam kegiatan Gereja untuk mewartakan Injil memang ada unsur-unsur tertentu dan segi-segi tertentu yang harus ditekankan.beberapa unsur dan segi tadi sedemikian penting sehingga ada suatu kecendrungan untuk mengidentikkan hal-hal kegiatan mewartakan Injil. Dengan demikian maka ada kemungkinan orang merumuskan penginjilan (evangelisasi) dengan rumusan seperti  misalnya mewartakan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Nya, berkhotbah, memberikan katekese, memberikan Baptis, dan Sakramen-sakramen lainnya

  1. Pembaharuan umat manusia

Bagi gereja, penginjilan (evangelisasi) berarti membawa kabar baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru: “Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru”.

  1. Dan segala lapisan umat manusia

Lapisan-lapisan umat manusia yang harus diubah: kriteria penilaian umat manusia, nilai-nilai yang menentukan, bidang-bidang minat, garis-garis pemikiran, sumber-sumber inspirasi dan model-model kehidupan, yang bertentangan dengan Sabda Allah dan rencana penyelamatan.

  1. Evangelisasi Kebudayaan-kebudayaan

Injil, dan oleh karenanya penginjilan, tentu saja tidak identik dengan kebudayaan, dan bersifat independen terhadap semua kebudayaan. Meskipun begitu, Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Injil dihayati oleh manusia-manusia yang secara sangat mendalam terikat pada suatu kebudayaan. Dan pembangunan kerajaan Allah tak dapat tidak harus meminjam unsur-unsur dari kebudayaan manusia atau kebudayaan-kebudayaan. Meskipun tidak tergantung dari kebudayaan, Injil dan penginjilan tidak harus bertentangan dengan kebudayaan. Malahan dapat merasuki kebudayaan tanpa menjadi tunduk terhadapnya.

  1. Pentingnya kesaksian hidup

Kesaksian yang melibatkan kehadiran, ikut berbagi, solidaritas, dan sesuatu yang hakiki dan pada umumnya merupakan hal yang pertama, di dalam penginjilan. Semua orang Kristen dipanggil untuk memberikan kesaksian dengan cara demikian dapat sungguh menjadi penginjil-penginjil sejati.

  1. Perlunya Pewartaan yang eksplisit

Kesaksian yang terbagus pun ternyata tidak efektif dalam jangka panjang, jika tidak dijelaskan, diberi alasan dan di eksplisitkan dengan suatu pewartaan tentang Yesus yang jelas dan tidak akan menimbulkan salah paham.

  1. Supaya diterima dalam hidup dan diterima secara jemaat

Sesunggunya pewartaan itu hanya mencapai perkembangan sepenuhnya bila didengarkan, diterima dan dicerna, dan bila hal itu membangkitkan keinginan untuk mengikuti secara tulus dari orang yang telah pewartaan itu. Di dalam dinamisme penginjilan, seorang pribadi yang menerima Gereja sebagai Sabda yang menyelamatkan, biasanya menterjemahkannya dalam kegiatan-kegiatan sakramantal berikut ini: meneriman sakramen-sakramen, yang menampakan dan mendukung ketaatan tadi melalui rahmat yang mereka berikan.

  1. Melibatkan bentuk kerasulan baru

Akhirnya: orang yang telah menerima pewartaan Injil, ia juga kemudian mewartakan Injil pada orang-orang lain. Di sinilah terletak uji kebenaran, batu penguji Injil: tak dapat dibayangkan bahwa seorang menerima dirinya bagi Kerajaan Allah tanpa menjadi seorang pribadi yang memberi kesaksian mengenai Kerajaan Allah dan pada gilirannya mewartakannya

 

 

 

BAB III

ISI EVANGELISASI

 

  1. Isi pokok dan unsur-unsur sekunder

Di dalam pesan yang disampaikan Gereja tentu banyak unsur-unsur yang sekunder. Penyajiannya sangat tergantung pada situasi yang berubah. Unsur-unsur ini juga berubah. Tetapi isi pokok, hakiki, subtansi yang hidup, yang tidak boleh diubah-ubah ataupun disangkal, karena secara serius pasti berubah hakiki evangelisasi itu sendiri.

  1. Kesaksian yang diberikan mengenai kasih Bapa

Bukan suatu yang berlebihan mengingat kembali butir-butir berikut ini: mewartakan Injil pertama-tama memberi kesaksian, secara sederhana dan langsung, mengenai Allah yang diwahyukan  oleh Yesus Kristus, dalam Roh Kudus.

  1. Merupakan pokok pewartaan: Penebusan dalam Yesus Kristus

Penginjilan juga selalu harus memuat-sebagai dasar, pusat dan sekaligus puncak dari dinamismenya-suatu pewartaan yang jelas, bahwa dalam Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit dari kematian, penebusan ditawarkan kepada segala manusia, sebagai suatu kurnia rahmat dan belaskasih Allah.

  1. Di bawah tanda harapan

Sebagai konsekuensinya evangelisasi mau tak mau menyangkut juga pewartaan profetis  tentang hari akhirat, panggilan manusia yang mendalam dan defenitif, baik dalam kesinambungannya dan terpisahnya dengan situasi sekarang ini: melampaui waktu dan sejarah, melampaui realita dunia ini yang bersifat sementara, melampaui hal-hal di dunai ini.

  1. Pesan yang menyentuh hidup sebagai keseluruhan

Penginjilan atau Evangelisasi tidak akan lengkap bila tidak memperhitungkan interaksi yang terus menerus, antara Injil dan hidup manusia yang konkret, baik dalam kehidupan pribadi maupun hidup sosial.

  1. Sebuah pesan tentang pembebasan

Orang-orang yang terlibat dengan seluruh tenaganya dalam usaha dan perjuangan mengatasi segala hal yang menghukum mereka untuk tetap dalam ambang kehidupan: kelaparan,penyakit kronis, buta huruf, kemiskinan, ketidak-adilan dalam hubungan internasional dan lebih-lebih dalam hubungan perdagangan, situasi ekonomi dan budaya neo-kolonialis, kadang-kadang sama kejamnya dengan kolonialisme kuno dibidang politik.

  1. Yang perlu dihubungkan dengan kemajuan umat manusia

Antara Evangelisasi dan kemajuan umat manusia-perkembangan dan pembebasan sesungguhnya ada ikatan yang mendalam. Hal ini mencakup atau hubungan dibidang antropologis karena manusia perlu pewartaan Injil bukan sesuatu yang abstrak tetapi dipemgaruhi oleh sosial dan ekomoni.

  1. Tanpa menguranginya atau mengaburkannya

Kita tidak boleh mengingkari kenyataan bahwa banyak orang, bahka orang-orang Kristen yang dermawan yang peka terhadap persoalan-persoalan dramatis yang terkandung dalam persoalan pembebasan, di dalam keinginan mereka untuk melibatkan diri dalam usaha gereja pembebasan kerap kali tergoda untuk memperkecil perutusan Gereja hanya pada dimensi-dimensi yang berasal dari suatu proyek yang semata-mata bersifat duniawi.

  1. Pembebasan menurut Injil

Sehubungan dengan pembebasan yang diwartakan oleh Injil dan dicoba untuk dilaksanakan dalam praktek, seharusnya dirumuskan demikian ini:

  • Pembebasan tersebut tidak boleh dibatasi hanya pada dimensi yang semata-mata dan secara terbatas bersifat ekomomis,politis, dan sosial atau hidup budaya. Pembebasan harus mencakup seluruh manusia dalam segala seginya, selaras dan termasuk dengan keterbukaannya terhadap yang mutlak, bahkan terhadap yang Ilahi Yang Mutlak.
  • Karena itu kebebasan terikat pada suatu konsep tertentu tentang manusia, terhadap suatu pandangan tentang manusia yang tak pernah boleh dikorbankan demi keperluan strategi manapun, kebiasaan atau efisiensi yang berjangka pendek.
  1. Yang berpusat pada kerajaan Allah

Oleh karena itu, bila mewartakan pembebasan dan menggabungkan diri dengan mereka yang bekerja dan menderita untuk pembebasan, Gereja tentu saja tidak mau membatasi perutusannya hanya dibidang keagamaan dan memisahkan diri dari persoalan-persoalan duniawi manusia. Meskipun begitu Gereja menegaskan kembali bahwa dia harus lebih mengutamakan panggilan rohaninya dan menolak untuk mengganti pewartaan Kerajaan Allah dengan pewartaan mengenai bentuk-bentuk pembebasan manusiawi. Gereja bahkan menegaskan bahwa sumbangan bagi pembebasan tidaklah lengkap bila pewartaan penebusan Yesus Kristus.

  1. Berdasar pada suatu konsep Injil tentang manusia

Gereja menghubungkan pembebasan manusia dengan penebusan dalam Yesus Kristus, tapi Gereja tidak pernah menyamahkan penebusan dengan pembebasan. Kerena Gereja tahu melalui perwahyuan, pengalaman sejarah dan refleksi iman bahwa tidak setiap gagasan tentang pembebasan sesuai dan cocok dengan pandangan Injili tentang manusia, tentang barang-barang da peristuwa-peristiwa.

  1. Melibatkan suatu pertobatan yang mutlak diperlukan

Gereja berpendapat bahwa tak dapat diragukan lagi pentingnya membangun struktur-struktru yang lebih manusiawi, lebih adil, lebih menghormati hak-hak pribadi dan tidak begitu menekan dan tidak begitu memperbudak. Tapi Gereja sadar bahwa struktur-struktur yang terbaik dan sistem-sistem yang paling ideal dengan akan menjadi tidak manusiawi bila kecendrungan-kecendrungan yang kurang manusiawi dari hati manusia tidak disehatkan, jika jiwa mereka yang hidup  dalam stuktur-struktur ini atau mengaturnya tidak mengalami pertobatan dan pandangan.

  1. Tidak menggunakan kekarasan

Gereja tidak menerima kekerasan, lebih-lebih kekuatan senjata, yang tidak dapat dikontrol sekali hal ini dibiarkan longgar. Bahwa perubahan struktur yang mendadak aau berdasarkan kekerasan adalah suatu yang menipu, tidak efektif, dan tentu saja tidak sesuai dengan martabat manusia.

  1. Sumbangan khas dari Gereja

Gereja melengkapi “pembebasan-pembebasan” kristen ini dengan inspirasi-inspirasi dari iman, motivasi kasih persaudaraan, suatu ajaran sosial gereja harus diketahui oleh orang kristen sejati dan harus dijadikannya dasar kebijaksanaan dan pengalamannya untuk menterjemahkan secara konkret dalam bentuk kegiatan, partisipasi, dan keterlibatan.

  1. Kebabasan agama

Perlunya menjamin hak-hak asasi yang fundamental yang tidak dapat dipisahkan dari pembebasan yang benar, yang berhubungan erat dengan evangelisasi dan yang berusaha untuk membuat struktur-struktur yang menjamin kebebasan manusia. Di antara hak-hak asasi yang fundamental ini, kebebasan agama menduduki tempat yang utama.

 

 

 

BAB IV

METODE-METODE EVANGELISASI

 

  1. Mencari sarana-sarana yang cocok

Persoalan “bagaimana melakukan evangelisasi” tetap selalu relevan, karena metode-metode evangelisasi bermacam-macam, sesuai dengan situasi waktu yang berbeda-beda, situasi tempat dan budaya, dan karena itu menimbulkan tantangan tertentu terhadap kemampuan kita untuk menemukan dan mngadaptasikannya.

  1. Kesaksian hidup

Bagi gereja sarana utama bagi penginjilan adalah kesaksian hidup kristen yang otentik, yang diberikan pada Allah dalam suatu persekutuan, yang tak dapat dibinasakan oleh apapun.

  1. Suatu khotbah yang hidup

Khotbah, pewartaan dengan memakai kata-kata mengenai suatu pesan, selalu harus ada.

  1. Liturgi Sabda
  2. Katekese
  3. Menggunakan media massa
  4. Peranan Sakramen-sakramen
  5. Kesalehan yang merakyat

 

 

 

 

 

BAB V

ORANG-ORANG YANG MENDAPAT MANFAAT DARI EVANGELISASI

 

  1. Ditunjukan kepada setiap orang

Kata-kata Yesus terakhir dalam Injil santo Markus memberikan sifat universal tanpa batas terhadap evangelisasi yang diserahkan oleh Tuhan kepada Para Rasul-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritahkanlah Injil kepada segala makluk”.

  1. Meskipun adanya semua rintangan

Di dalam perjalanan sejarah selama duapuluh abad, generasi-generasi umat Kristen telah secara perodik menghdapi macam-macam rintangan untuk melakukan perutusan yang universal ini. Di satu pihak pada para penginjil sendiri, selalu ada godaan dengan macam-macam alasan untuk menyempitkan medan kegiatan misioner mereka. Di pihak lain kerapkali ada perlawanan yang tak mungkin diatasi, yang berasal dari orang-orang dan ditujukan kepada para penginjil.

  1. Pewartaan pertama kepada mereka yang jauh

Permaklumkan Yesus Kristus dan Injil-Nya kepada mereka yang belum mengenal-Nya, sejak pagi pentakosta, merupakan program pokok yang oleh gereja dianggap diteimanya dari Pendirinya.

  1. Pewartaan yang diperbaharui kepada suatu dunia yang tak Kristen lagi

Pewartaan pertama-tama ditujukan lebih-lebih kepada mereka yang tidak pernah mendengar kabar baik Yesus, atau kepada anak-anak. Tatapi sebagai salah satu akibat dari situasi yang acapkali karena dekristianisasi pada zaman sekarang ini ternyata juga sama perlunya bagi banyak orang telah dipabtis tapi hidup diluar kehidupan kristen.

  1. Agama-agama bukan Kristen

Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama bukan Kristen. Gereja menghormati dan menghargai agama-agama bukan Kristen sebab merupakan ungkapan hidup dari jiwa kelompok besar umat manusia.

  1. Dukungan untuk iman kaum beriman

Gereja berusaha untuk memperdalam, memperkokoh, dan memupuk, membuat semakin matang iman mereka yang telah disebut kaum beriman atau orang-orang yang percaya, agar supaya iman mereka semakin lebih beriman lagi. Iman pada zaman sekarang ini seolah-olah tidak terlindungi lagi, mengalami sekularisme, juga terhadap yang militan.

  1. Orang-orang yang tidak percaya

Dari segi pandangan rohani, dunia modern seolah-olah semakin tenggelam dalam suatu keadaan yang oleh seorang pengarang modern disebut istiah “drama humanisme ateis”. Di pihak lain orang terpaksa mencatat bahwa di dalam inti dari dunia modern ini fenomena yang mempunyai ciri yang sangat mencolok: sekularisme. Sekularisme adalah usaha untuk menemukan di dalam ciptaan, di dalam tiap hal dan tiap kejadian dalam semesta alam, hukum-hukum yang mengatur dengan otonomi tertentu, tapi dengan keyakinan batin bahwa sang pencipta telah meletakan hukum-hukum ini.

Di lain pihak dan ini merupakan suatu yang paradoks, dalam dunia modern yang sama, tak dapat disangkal adanya batu pijak yang nyata bagi orang kristen  dan juga nilai-nilai injili, sekurang-kurangnya dalam bentuk perasaan kosong atau nostalgia. Bukanlah suatu yang berlebih-lebihan untuk mengatakan bahwa muncul suatu daya tarik yang kuat dan tragis untuk diberi evangelisasi

  1. Orang yang tidak menjalankan agamanya

Sekularisme ateis dan sikap tidak mau menjalankan kehidupan agama terdapat di antara orang-orang dewasa dan kaum muda, di antara para pemimpin masyarakat baik dalam umat Gereja kuno maupun di dalam umat gereja-gereja muda. Gereja harus terus mencari sarana-sarana yang tepat dan bahasa yang tepat untuk menyajikan, atau menyajikan kembali wahyu Allah dan iman terhadap Yesus Kristus.

  1. Pewartaan kepada orang banyak

Seperti Kristus selama masa pewartaan-Nya, pun pula seperti kedua belas Rasul pada pagi pentakosta, Gereja yang melihat dihadapannya sejumlah besar orang yang membutuhkan Injil dan punya hak untuk menerima Injil, karena Allah, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaan.

  1. “Komunitas basis” gerejani

Komunitas ini muncul dan berkembang di dalam Gereja, punya solidaritas dengan hidup Gereja karena dibekali dengan ajaran gereja dan bersatu dengan pastor-pastornya. Dalam kasus ini komunitas basis muncul karena kebutuhan untuk menghayati hidup Gereja dengan lebih intensif, atau karena keinginan dan usaha mencari suatu dimensi yang lebih manusiawi, yang sukar didapat dari jemaat-jemaat yang lebih besar, lebih-lebih di kota modern yang besar yang menyebabkan mereka sendiri hidup di dalam massa dan anonim.

 

 

 

 

 

BAB VI

PEKERJA-PEKERJA UNTUK EVANGELISASI

 

 

  1. Gereja dalam keseluruhannya bersifat misioner

Hal ini merupakan tugas Gereja agar supaya “berdasarkan perintah ilahi, tetap ada kewajiban untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil ke segala makluk”. Dan dalam teks yang lain”…….seluruh Gereja adalah misioner, dan karya evangelisasi merupakan salah satu tugas mendasar dari Umat Allah. Seraya Gereja mewartakan kerejaan Allah dan membangunnya, Gereja membangun dirinya ditengah-tengah dunia sebagai tanda dan alat kerejaan ini yang sudah ada dan yang akan datang.

  1. Perspektif Gerja yang Universal

Tuhan menghendaki Gereja-Nya menjadi: Universal, suatu pohon yang besar yang cabang-cabangnya menaungi burung di udara, suatu jala yang menangkap ikan dari segala jenis, atau oleh Petrus ditarik penuh ikan-ikan besar sejumlah seratus lima puluh tiga ekor, suatu kawanan yang digembalakan oleh satu Gembala,

  1. Perspektif Gereja Setempat

Walaupun demikian Gereja yang Universal tadi dalam prakteknya menjelma di dalam Gereja-gereja setempat yang terdiri dari umat manusia tertentu, yang berbicara dengan bahasa manusia tertentu, suatu pandangan tertentu mengenai dunia, memiliki suatu sejarah di masa lampau, bagian lapisan umat tertentu. Kepekaan terhadap Gereja setempat sangat cocok dengan kepekaan khusus dari manusia modern.

  1. Penyesuaian dan kesetiaan dalam ungkapan

Gereja –Gereja setempat, yang secara mendalam dibangun bukan hanya oleh orang-orang tapi juga oleh aspirasi-aspirasi, kekayaan dan pembatasan, cara-cara berdoa, mengasihi, cara melihat hidup dan dunia, yang membedakan kelompok yang ini dan yang itu, yang mempunyai tugas mengasimilasikan hakekat pesan Injil dan menyampaikannya, tanpa mengkhianati sedikit pun kebenaran yang hakiki, di dalam bahasa yang dipahami oleh orang-orang tertentu ini, dan menyampaikannya dalam bahasa tersebut.

  1. Keterbukaan terhadap Gereja Universal
  2. Harta iman yang tak mungkin berubah
  3. Tugas yang bermacam-macam
  4. Pengganti Petrus
  5. Para Uskup dan Para Imam
  6. Kaum Rohaniwan-Rohamiwati
  7. Kaum awam
  8. Keluarga
  9. Kaum muda
  10. Para pelayan yang bermacam-macam

 

 

 

BAB VII

SEMANGAT EVANGELISASI

 

  1. Seruan yang mendesak
  2. Di bawah karya Roh Kudus
  3. Saksi-saksi hidup, yang otentik
  4. Mencari kesatuan
  5. Hamba-hamba kebenaran
  6. Dijiwai oleh kasih
  7. Dengan semangat Para Orang Kudus

 

 

 

REFLEKSI

 

Dalam buku Evangelii Nuntiandi ini saya menemuka arti sesungguhnya dari pewartaan Injil serta isi dari pewartaan itu, pewartaan atau Evangelisasi merupakan suatu karya pewartaan untuk semua orang yang belum mendengar kabar baik tentang Yesus, dalam pewartaan itu, yang harus diwartakan adalah Injil Tuhan. Dalam melakukan pewartaan saya juga dapat mengetahui bahwa pewartaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: kesaksian hidup, katekese, dimana katekese merupakan tugas utama yang akan saya terima nantinya ketika saya selesai sekolah di tempat ini, di dalam buku ini saya juga mengetahui bahwa evangelisasi diberikan kepada setiap manusia yang berada di dunia ini, dan dalam melakukan itu yang pertama harus dilakukan adlah kesaksian hidup, dimana saya sebagai orang Katolik harus bisa hidup dan bertindak sesuai dengan jiwa dan semangat Katolik, dan dalam memberikan kesaksian juga saya dapat memahami bahwa, hanya dengan apa yang kita lakukan dan apa yang kita perbuat dapat membuat orang banyak mengikuti Kristus yang kita wartakan. Saya ingin belajar dengan sungguh dan belajar dengan sungguh agar  saya dapat memberi kesaksian tentang Kristus, saya berbuat dan bertindak sesuai dengan kepribadian Katolik yang benar dan saya juga ingin menjadi seorang Katolik sejati, dan tidak pernah takut untuk mewartakan Injil Tuhan dimanapun saya berada, saya ingin agar orang lain juga mendapat kabar baik dari Kristus, Sang Penebus.

 

 

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

KATEKETIK UMUM. RINGKASAN BUKU EVANGELII NUNTIANDI

RANGKUMAN DARI BUKU:
EVENGELII NUNTIANDI
(MEWARTAKAN INJIL)

PENGANTAR

(Keterlibatan secara khusus terhadap Penginjilan) menggaris bawahi tentang suatu pelayanan yang diberikan kepada jemat Kristen dan juga kepada seluruh umat manusia dengan tujuan agar dapat meneguhkan hati mereka. Tugas tersebut kiranya bagi kita semua menjadi lebih mulia dan penting bila hal ini menyangkut soal memberikan dukungan kepada saudara-saudara dalam perutusan mereka sebagai penginjil-penginjil agar supaya, dalam masa sekarang ini yang tidak menentu dan penuh kekacauan, mereka dapat memuliakan. Tugas ini dengan cinta kasih yang semakin bertambah, dengan cinta kasih yang semakin bertambah,dengan penuh semangat dan sukacita.

BAB I
DARI KRISTUS PEWARTA INJIL KEPADA GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL

konten yang disampaikan dalam Bab I adalah “Yesus” adalah pernginjil pertama dan terbesar, Yesus sendirilah kabar baik, Yesus juga mewartakan kabar baik kepada semua orang teristimewa bagi mereka yang miskin dan terlantar, mnyembuhkan yang sakit. Menjadi pewarta Sabda tentunya ada saat tertentu mengalami kesulitan dan tantangan dalam mengahdapi sebuah pelayanan, namun ada satu hal yang perlu di perjuangkan adalah iman yang kokoh kuat kepada Kristus, akan memampukan setiap pewarta Sabda untuk terus melayani dan mewartakan Injil kepada orang banyak.

BAB II

APAKAH EVANGELISASI ITU?
Bagi Gereja, penginjilan (evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru . Hal penting yang harus diperhatikan adalah dalam evangelisasi kebudayaan manusia dan kebudayaan-kebudayaan (bukan hanya sebagai suatu perhiasan seperti menempelkan suatu kayu tipis, tapi secara vital mendalam dan tepat pada akar-akarnya), dalam arti yang seluas-luasnya yang digunakan oleh Gaudium et Spes ialah selalu memperhatikan pribadi manusia sebagai titik pangkal dan selalu kembali ke hubungan antara umat manusia dengan diri mereka dan hubungannya dengan Allah. Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Injil dihayati oleh manusia-manusia yang secara sangat mendalam terikat pada suatu kebudayaan. Orang yang telah menerima pewartaan Injil, ia juga kemudian mewartakan Injil kepada orang lain.

BAB III
ISI EVANGELISASI

Mewartakan Injil pertama-tama berarti memberikan kesaksian, secara sederhana dan langsung, mengenai Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus, dalam Roh kudus. Memeberikan kesaksian bahwa dalam Putera-Nya Allah telah mengasihi dunia- bahwa dalam Sabda-Nya yang menjadi daging, Allah menciptakan semua hal dan telah memanggil umat manusia ke dalam hidup yang kekal. Mungkin kesaksian mengenai Allah ini bagi banyak orang ialah Allah yang tidak dikenal, yang mereka sembah tanpa menyebut nama-Nya, atau yang mereka cari melalui suatu panggilan rahasia dari hati, pada saat mereka mengalami kekosongan semua berhala. Penginjilan juga selalu harus memuat-sebagai dasar, pusat dan sekaligus puncak dari dinamismenya-suatu pewartaan yang jelas, bahwa dalam Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit dari kematian, penebusan ditawarkan kepada segala manusia, sebagai suatu kurnia rahmat dan belaskasih Allah.

BAB IV
METODE-METODE EVANGELISASI

Metode yang sangat tepat dalam pelaksanaan Evangelisasi adalah memberikan kesaksian hidup baik lewat tutur sapa, maupun tindakan nyata, juga evangelisasi berupa Khotbah, Liturgi Sabda, Katekese, Sharing, peranan Sakramen-Sakramen.

BAB V
ORANG-ORANG YANG MENDAPAT MANFAAT DARI EVANGELISASI

Injil Markus mengatakan bahwa “ Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makluk”. Dalam tugas perutusan tentu saja ada banyak pengalaman indah yang dihadapi nanti yakni ada pengalaman menggembirakan, ada juga pengalaman menyedihkan misalnya seperti ketika mengajak umat untuk berdoa, ada yang acuh tak acuh, tidak dihargai, dan lain sebagainya. Kendati ada tantangan semacam itu, Gereja tetap bertahan untuk mewartakan kabar keselamatan kepada semua orang.
Pewartaan pertama-tama ditujukan kepada mereka yang tidak pernah mendengar Kabar baik Yesus, atau kepada anak-anak. Tetapi salah satu akibat dari situasi yang acapkali karena dekristianisasi pada zaman sekarang ini, ternyata juga sama perlunya bagi banyak orang yang telah dibaptis tapi hidup di luar kehidupan Kristen. Juga diperlukan untuk orang-orang sederhana yang tentu mempunyai iman namun pengetahuan yang tidak sempurna mengenai dasar-dasar iman. Dibutuhkan kaum intelektual yang merasa perlu menegetahui Yesus Kristus dalam suatu cahaya yang berbeda dengan pengajaran yang mereka masih kanak-kanak, dan juga bagi banyak orang lainnya.

BAB VI
PEKERJA-PEKERJA UNTUK EVANGELISASI

Konsili Vatikan Kedua memberikan suatu jawaban yang mengenai persoalan ini: Hal ini merupakan tugas Gereja agar supaya “ berdasarkan perintah ilahi, tetap ada kewajiban untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil kepada segala makluk”. Dan dalam teks lain “ seluruh Gereja adalah missioner, dan karya evangelisasi merupakan salah satu tugas mendasar dari Umat Allah.
Tugas para pekerja-pekerja Kristus yakni mewartakan kabar baik; seperti memberikan semangat kepada umat yang menderita, menolong sesama yang membutuhkan. Menjadi contoh dan teladan yang baik lewat setiap tugas dan pelayanan bagi sesama.

BAB VII
SEMANGAT EVANGELISASI

Roh Kudus adalah pelaku utama evangelisasi: dialah yang mendorong tiap individu untuk mewartakan Injil, dan Dialah yang dalam kesadaran hati nurani menyebabkan kata penebusan diterima dan dipahami. Tapi dengan cara yang sama dapat dikatakan bahwa Dialah tujuan evangelisasi: Dialah yang menggerakan ciptaan baru, kemanusiaan baru, di mana evangelisasi merupakan hasilnya, dengan kesatuan dalam keanekaragaman itu, yang ingin dicapai oleh evangelisasi di dalam jemaat Kristen. Melalui Roh Kudus Injil meresapi jantung dunia, sebab Rohlah yang meyebabkan orang-orang dapat membeda-bedakan tanda-tanda zaman, tanda-tanda yang dikehendaki oleh Allah yang diungkapkan oleh evangelisasi dan digunakan di dalam sejarah.
Semangat evangelisasi memberikan pelayanan yang dijiwai oleh kasih yang tulus kepada sesama yang dijumpai dan dilayani.

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

Kateketik umum

 

NAMA                           : ANASTASIA WINARTI MARDIANSTAH                                                 NIM                               : IK 2016 003

SEMESTER                   : II(Dua)

MATA KULIAH           : KATEKETIK UMUM

BAB I

DARI KRISTUS PERWARTA INJIL

KEPADA GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL

Kesaksian dan perutusan Yesus

Kesaksian yang diberikan Tuhan mengenai diri-Nya sendiridan yang dikumpulkan bersama-sama oleh Santo Lukas dalam Injil-Nya “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah”-tak dapat diragukanlagi mempunyai Injil konsekuensi yang amat besar, sebab merupakan ringkasan seluruh perutusan Yesus “sebab untuk itulah Aku diutus”.

Dengan pergi dari kota satu ke kota yang lain, sambil mewartakan kepada kaum termiskin, yang kerap kali justru yang paling siapmenerima, kabar gembira mengenai terpenuhnya janji-janji dan Perjanjian yang diberikan Allah, itulah perutusan Yesus.

 

Yesus, penginjil pertama

Selama Sinode, para Uskup kerap kali menunjukkan kepada kebenaran ini: Yesus sendiri, Kabar Baik Allah. Merupakan penginjil pertama dan terbesar. Ia sangatlah sempurna, bahkan sampai bersedia mengurbankan hidup duniawi-Nya.

 

Mewartakan Kerajaan Allah

Sebagai seorang pewarta Injil, Kristus pertama-tama mewartakan suatu Kerajaan, Kerajaan Allah; dan hal ini begitu penting, sehingga bila dibandingkan segala sesuatu yang lain menjadi”sisa”, yang “ diberikan sebagai tambahan”. Hanya Kerajaanlah yang bersifat mutlak, dan menjadikan setiap hal lainnya bersifat relatif.

Pewartaan tentang penbusan yang membebaskan

Sebagai poros dan pusat Kabar Baik-Nya Kristus mewartakan penebusan. Kurnia besar yang berasal dari Allah ini merupakan pembebasan dari setiap hal yang menindas manusia tapi lebih-lebih pembebasan dari dosa dan kejahatan.

Dengan bayaran berupa usaha memikul salib

Kerajaan dan keselamatan ini, yang merupakan kata-kata kunci dalam pewartaan injil Yesus Kristus, tersedia bagi setiap manusia sebagai rahmat dan belas kasih. Lebih-lebih setiap individu memperolehnya melalui suatu pembaharuan batin yang menyeluruh, yang oleh Injil disebut metanoia. Metanoia adalah suatu pertobatan yang radikal, perubahan pikiran dan hati yang mendalam.

Dengan khotbah yang tak kenal lelah

Kristus melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan Allah ini melalui khotbah yang tak kenal lelah,tentang satu kata yang tak ada bandingnya.

Dengan tanda-tanda Injil

Orang sakit disembuhkan, air diubah menjadi anggur roti diperbanyak orang mati dihidupkan dan masih banyak yang lainnya. Melalui tanda-tanda inilah Yesus melaksanakan pewartaan-Nya.

Bagi suatu jemaat yang harus menerima pewartaan

Dan menyampaikan pewartaan.

Perintah yang diberikan kepada keduabelas Rasul untuk pergi ke luar dan mewartakan Injil juga berlaku untuk semua orang Kristen, meskipun dengan cara yang berbeda. Mereka yang telah menerima Kabar Baik dan telah dikumpulkan oleh-Nya dalam jemaat yang telah ditebus, dapat dan harus meneruskannya dan menyebarluaskan Injil.

Mewartakan injil: panggilan yang khas bagi Gereja

Gereja ada untuk mewartakan injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran kurnia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan Kematian dan Kebangkitan-nYa yang mulia.

Mata rantai yang timbale balik

antara Gereja dan Pewartaan injil

Setelah diutus dan diberi pewartaan Injil, maka Geraja sendiri mengutus para pewarta Injil. Gereja menerangkan kepada mereka pesan yang disampaikan. Gereja memberikan mereka tugas yang telah diterima sendiri oleh Gereja.  Di mana dalam menyampaikan Injil ini, mereka harus menyampaikannya dengan menjadi pelayan-pelayan dan dengan kesetiaan sepenuh-penuhnya.

Gereja tak terpisahkan dari Kristus

Demikian ada hubungan yang mendalam antara Kristus, Gereja dan pewarta Injil. Dalam masa Gereja di mana kita hidup di dalamnya,menjadi tugas Gerejalah untuk mewartakan Injil. Perintah ini tidak dapat terlaksanakan tanpa Gereja, apalagi bertentangan dengan Gereja.

 

BAB II

APAKAH EVANGELISASI ITU ?

Kompleksnya kegiatan mewartakan Injil

Di dalam Gereja untuk mewartakan Injil memang ada unsur-unsur tertentu dan segi-segi tertentu yang secara khusus harus ditekankan. Beberapa unsur dan segi tadi sedemikian penting sehingga ada suatu kecenderungan untuk mengidentikkan hal-hal tadi dengan kegiatan mewartakan Injil.

Pembaharuan umat manusia

Bagi Gereja, pengijilan(evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru: Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru”.

Dan segala lapisan manusia

Bagi Gereja yang menjadi soal bukan hanya mewartakan Injil dalam kawasan geografis yang lebih luas atau jumlah manusia yang lebih banyak, tapi juga bagaimanakah mempengaruhinya dan menjungkirbalikannya dengan kekuatan Injil.

Evangelisasi kebudayaan-kebudayaan

Perpisahan antara Injil dan kebudayaan tak dapat diragukan lagi merupakan suatu drama untuk zaman kita, seperti halnya untuk zamanzaman lain. Oleh karenanya setiap usaha harus dilakukan untuk menjamin penginjilan kebudayaan sepenuhnya, atau lebih tepat kebudayaan-kebudayaan. Kebudayaan-kebudayaan harus dilahirkan kembali dalam suatu pertemuan dengan Injil. Namun pertemuan ini tidak akan terjadi bila Injil tidak diwartakan.

Pentingnya kesaksian hidup

Lebih-lebih Injil harus diwartakan melalui kesaksian. Seorang Kristen yang di tengah-tengah masyarakat mereka sendiri., menunjukkan kemampuan mereka untuk memahami dan menerima, untuk membagi hidup dan nasibnya dengan orang lain, solidaritas mereka serta usaha mereka untuk melakukan semua hal yang luhur dan baik. Di samping itu, mereka dengan secara sederhana dan tidak terpengaruh, memancarkan iman mereka dalam nilai-nilai yang diluar nilai-nilai yang sedang berlaku.

Perlunya pewartaan yang eksplisit

Pewartaan ini-“Kerygma” , khotbah atau katekese menduduki tempat yang penting di dalam evangelisasi sehingga kerapkali menjadi sinonim dengannya; namun hal tadi hanyalah salah satu segi dari evangelisasi.

 

Supaya diterima dalam hidup dan diterima secara menjemaat

Dalam dinamisme penginjilan, seorang pribadi yang menerima Gereja sebagai Sabda yang menyelamatkan, biasanya menterjemahkannya dalam kegiatan-kegiatan sakramental berikut ini: tunduk kepada Gereja, menerima sakramen-sakramen, yang menampakkan  dan mendukung ketaatan  tadi melalui rahmat yang mereka berikan.

 

 

 

 

BAB III

ISI EVANGELISASI

Isi pokok dan unsur-unsur sekunder

Di dalam pesan yang disampaikan Gereja tentu ada banyak unsur-unsur yang sekunder. Penyajiannya sangat tergantung dari situasi-situasi yang berubah. Tetapi ada isi pokok, hakiki, subtansi yang hidup, yang tidak boleh diubah-ubah atau disangkal, karena secara serius pasti merubah hakikat evangelisasi itu sendiri.

Kesaksian yang diberikan mengenai kasih Bapa

Mewartakan Injil pertama-tama berarti memberikan kesaksian, secara sederhana dan langsung, mengenai Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus, dalam Roh Kudus. Memberikan kesaksian bahwa dalam Putera-Nya Allah telah mengasihi dunia-bahwa dalam Sabda-Nya Yang Menjadi Daging, Allah telah menciptakan semua hal dan telah memanggil umat manusia ke dalam hidup kekal.

Merupakan pokok pewartaan:

penebusan dalam Yesus Kristus

Suatu penebusan yang mengatasi segala batas iniagar mencapai kepenuhan dalam suatu persatuan dengan Yang Mutlak dan Yang Ilahi: suatu penebusan yang transendens dan eskatologi yang memang dimulai di dalam hidup sekarang ini tapi yang dipenuhi di keabadian.

Di bawah tanda harapan

Evangelisasi juga mencakup pewartaan tentang pengharapan akan janji-janji yang dibuat oleh Allah dalam Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus, pewartaan tentang kasih Allah kepada kita dan kasih kita kepada Allah. Evangelisasi juga mencakup pewwartaan tentang kasih persaudaraan terhadap semua orang -kemampuan untuk memberikan dan mengampuni, penyangkalan diri, membantu saudara dan saudari yang berasal dari kasih kepada Allah merupakan benih Injil.

 

Pesan yang menyentuh hidup sebagai keseluruhan

Pewartaan tentang hidup di dalam masyarakat, mengenai hidup internasional, perdamaian, keadilan dan perkembangan –suatu pesan  yang secara khusus bersemangat pada zaman sekarang ini mengenai pembebasan.

Sebuah pesan tentang pembebasan

Gereja, seperti yang dikatakan berulang kali oleh para Uskup, mempunyai kewajiban untuk mewartakan pembebasan jutaan umat manusia, kebanyakkan dari mereka itu adalah anak-anaknya sendiri. Gereja mempunyai tugas membantu lahirnya pembebasan ini, untuk memberikan kesaksian mengenai hal itu, untuk menjamin bahwa hal tadi lengkap. Semua hal ini bukanlah sesuatu yang asing bagi evangelisasi.

Yang perlu dihubungkan dengan kemajuan umat manusia

Evangelisasi dan kemajuan juga mencakup hubungan-hubungan yang sangat erat berhubungan dengan perintah Injil, yaitu cinta kasih.

Tanpa menguranginya atau mengaburkannya

Dengan sapaan yang sama seperti pada pembukaan Sinode, “perlunya menyatakan kembali dengan jelas tujuan yang khas keagamaan dari evangelisasi. Hal ini akan kehilangan alasannya untuk ada jika evangelisasi menyimpang dari poros keagamaan yang menuntut: Kerajaan Allah di atas segala hal lainnya, dalam arti teologis yang sepenuh-penuhnya.

Pembebasan manurut Injil

Pembebasan tersebut tidak boleh dibatasi hanya pada dimensi-dimensi yang semata-mata dan secara terbatas bersifat ekonomis., politis dan sosial atau hidup budaya. Pembebasan harus mencakup seluruh manusia, dalam segala seginya, selaras dan termasuk keterbukaannya terhadap yang mutlak, bahkan terhadap Yang Ilahi Yang Mutlak.

 

 

Yang berpusat pada Kerajaan Allah

Gereja menegaskan kembali bahwa dia harus lebih mengutamakan panggilan rohaninya dan menolak untuk mengganti pewartaan Kerajaan Allah dengan pewartaan mengenai bentuk-bentuk pembebasan manusiawi. Gereja bahkan menegaskan bahwa sumbangannya bagi pembebasan tidaklah lengkap bila ia mengabaikanpewartaan penebusan dalam Yesus Kristus.

Berdasar pada suatu konsep injil tentang manusia

Gereja punya keyakinan yang teguh bahwa semua pembebasan duniawi, semua pembebasan politik meskipun diusahakan untuk mencari pembenarannya dalam halaman ini atau itu dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, meskipun dinyatakan sebagai dasar ideologisnya dan norma-norma tindakannya data-data dan kesimpulan teologis-dalam dirinya mengandung benih yang menyangkal dirinya dan gagal untuk mencapai ideal yang dikemukakannya.

Melibatkan suatu pertobatan yang mutlak diperlukan

Gereja sadar bahwa struktur-struktur yang terbaik dan sistem-sistem yang paling ideal dengan cepat akan menjadi tidak manusiawi bila kecenderungan-kecenderungan yang kurang manusiawi dari hati manusia tidak disehatkan, jika mereka yang hidup dalam struktur-struktur ini atau mengaturnya tidak mengalami pertobatan hati dan pandangan.

Tidak menggunakan kekerasan

Kekerasan tidak sesuai dengan Injil, bahwa kekerasan bukanlah sesuatu yang bersifat kristiani. Bahwa perubahan-perubahan struktur yang mendadak atau berdasarkan kekerasan adalah suatu yang menipu, tidak efektif, dan tentu saja tidak sesuai dengan martabat manusia.

Sumbangan yang khas dari Gereja

Gereja selalu berusaha untuk memasukkan perjuangan Kristen bagi pembebasan di dalam rencana penebusan yang universal yang diwartakan sendiri oleh Gereja. Pembebasan yang diwartakan oleh evangelisasi dan disiapkannya adalah pembebasan yang diwartakan oleh Kristus sendiri dan diberikan-Nya kepada manusia dengan pengorbanan-Mu.

 

Kebebasan agama

Perlunya menjamin hak-hak asasi yang fundamental tidak dapat dipisahkan dari pembebasan yang benar, yang berhubungan erat dengan evangelisasi dan yang berubah untuk membuat struktur-struktur yang menjamin kebebasan manusia.

 

BAB IV

METODE-METODE EVANGELISASI

Mencari sarana-sarana yang cocok

Metode-metode evangelisasi bermacam-macam, sesuai dengan situasi waktu yang berbeda-beda, situasi tempat dan budaya dan karena itu menimbulkan tantangan tertentu terhadap kemampuan kita untuk menemukannya dan mengadaptasikannya.

Kesaksian hidup

Pertama-tama melalui langkah-laku hidupnya Gereja akan mewartakan Injil kepada dunia. Dengan kata lain dengan melalui kesaksian berupa kemiskinan dan sikap tidak melekat pada apa pun, sikap bebas terhadap para penguasa dunia ini, dengan secara ringkas, kesaksian kesucian.

Suatu khotbah yang hidup

Tak berlebihanlah menekankan perlunya dan pentingnya khotbah. Khotbah, pewartaan dengan memakai kata-kata mengenai suatu pesan, selalu harus ada. Sabda yang didengar menyebabkan orang percaya. Namun kata-kata ini juga harus dapat diwartakan melalui kesaksian hidup.

Liturgi Sabda

Kaum beriman yang berkumpul sebagai suatu Gereja Paskah, yang merayakan Tuhan yang hadir di tengah-tengah mereka, mengharapakan banyak dari khotbah. Mereka akan memperolehj manfaat yang besar darinya, asalkan khotbah tadi sederhana, singkat, langsung, selaras, dengan kebutuhan. Dan hendaknya juga secara mendalam bersumber pada ajaran Injil dan setia pada Kuasa Mengajar Gereja.

Katekese

Salah satu sarana evangelisasi yang tidak boleh diabaikan ialah pengajaran katekese. Pengajaran ini perlu diberikan untuk membentuk pola-pola hidup Kristen dan bukan hanya tetap tinggal berupa pengetahuan belaka. Dan metode-metode yang digunakan harus sesuai dengan usia, kebudayaan dan sikap pribadi-pribadi yang bersangkutan. Haruslah selalu diusahakan agar didalam ingatan, pikiran dan hati nurani mereka dapat tertanam kebenaran-kebenaran hakiki yang harus meresapi seluruh hidup mereka.

Menggunakan media masa

Dengan adanya media masa dapat memperluas wilayah di mana Sabda Allah dapat didengar, hamper tanpa batas. Dengan alat-alat media masa yang ada Kabar Baik dapat menjangkau jutaan manusia. Dengan ini pula Gereja menemukan penjabaran secara modern dan efektif mimbar. Berkat alat-alat ini Gereja berhasil berbicara kepada banyak orang.

Kontak pribadi yang tak dapat tidak harus ada

Bentuk penyampaian yang lain dari pribadi ke pribadi, tetap sah dan penting. Para imam membantu umat ketika umat jatuh. Dan selalu membantu umat dengan kemampuan  untuk membeda-bedakan dan kesediaan untuk selalu menolong.

Peranan sakramen-sakramen

Tidak pernah cukuplah hanya menekankan bahwa evangelisasi tidak hanya terdiri dari khotbah dan mengajarkan suatu doktrin. Karena evangelisasi harus menyentuh kehidupan: kehidupan kodrati, yang diberi suatu arti yang baru, berkat perspektir-perspektif injil yang diwahyukannya. Hidup adikodrati, bukan merupakan penyangkalan api kemurnian dan pengangkatan hidup kdrati. Peran evangelisasi justru untuk mendidik orang-orang di dalam iman sedemikian rupa, sehingga membimbing tiap-tiap individu Kristen untuk menghayati sakramen-sakramen sebagai sakramen-sakramen imandan bukannya untuk menerima sakramen-sakramen secara pasif tapi untuk benar berpartisipasi di dalam penerimaan sakramen-sakramen.

 

Kesalehan yang merakyat

Religiositas yang merakyat jmenyebabkan adanya kesadaran yang tajam terhadap sifat-sifat Allah yang mendalam: Kebapaan, penyelenggaraan Ilahi, kasih dan kehadiran-Nya yang terus-menerus. Juga hal tersebut melahirkan sikap-sikap batin, yang jarang-jarang Nampak ditempat lain, dalam kadar atau tingkat yang sama: Kesabaran, kesadaran akan adanya Salib dalam hidup sehari-hari, sikap lepas bebas, keterbukaan terhadap orang lain, Doevosi. Oleh karena segi-segi tadi, maka kami dengan senang hati menyebutkan “kesalehan yang merakyat” yaitu agama rakyat, umat dan bukannya religiositas, perasaan keagamaan.

 

BAB V

ORANG-ORANG YANG MENDAPATKAN MANFAAT

DARI EVANGELISASI

Ditujukan kepada setiap orang

Kata-kata Yesus yang terkahir dalam Injil Santo Markus memberikan sifat universal yang tanpa batas terhadap evangelisasi yang diserahkan oleh Tuhan kepda Para Rasul-Nya: “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”.

Meskipun adanya semua rintangan

Kendati pun ada perlawanan-perlawanan atau pertentangan dalam mewartakan Injil, Gereja tetap terus-menerus memperbaharui inspirasinya yang terdalam, yang datang kepada Gereja langsung dari Tuhan: ke seluruh dunia. Kepada segala makhluk. Sampai ke ujung-ujung bumi.! Gereja melakukan hal itu sekali lagi pada Sinode terakhir, sebagai suatu seruan untuk tidak membelenggu pewartaan Injil dengan membatasinya pada salah satu sector umat manusia  atau salah satu kelompok orang atau pada salah satu corak kebudayaan.

 

 

Pewartaan yang pertama kepada mereka yang jauh

Gereja melakukan pewartaan tentang Yesus yang pertama ini dengan suatu kegiatan kompleks dan beraneka macam, yang kadang-kadang disebut dengan istilah “ pre-evangelisasi”.

Pewartaan yang diperbaharui  kepada

suatu dunia yang tidak Kristen lagi

Pewartaan pertama-tama ditujukan lebih-lebih kepada mereka yang tidak pernah mendengar Kabar Baik Yesus, atau kepada anak-anak. Diperlukan  untuk orang-orang sederhana yang tentu mempunyai iman namun pengetahuan yang tidak sempurna mengenai dasar-dasar iman. Dibutuhkan kaum intelektual yang merasa perlu mengetahui Yesus Kristus dalam suatu cahaya yang berbeda dengan pengajaran yang mereka terima ketika mereka masih kanak-kanak, dan juga bagi banyak orang lainnya.

Agama-agama bukan Kristen

Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen. Gereja menghormati dan menghargai agama-agama nonkristen sebab merupakan ungkapan hidup dari jiwa kelompok besar umat manusia. Menghormati dan menghargai agama-agama lain bukan berarti bahwa Gereja tidak mau mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Melainkan bahwa Gereja berpendapat orang-orang tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus. Kekayaan dalam mana seluruh umat manusia dapat menemukan, secara penuh dan tak dapat diragukan lagi.

Dukungan untuk iman kaum beriman

Gereja tidak merasa dirinya terbebas dari kewajiban untuk juga memberikan perhatian secukupnya kepada mereka yang telah menerima iman dan yang telah berkenalan dengan Injil. Gereja berusaha untuk memperdalam, memperkokoh, memupuk dan membuat semakinmatang iman mereka yang telah disebut kaum beriman atau orang-orang yang percaya, agar supaya mereka menjadi semakin lebih beriman lagi.

 

Orang-orang yang tidak percaya

Ateisme yang berpusat pada manusia, tidak lagi  abstrak dan metafisik tapi pragmatis, sistematis dan militan. Bersamaan dengan sekularisme yang ateis ini, setiap hari, dengan bentuk yang bermacam-macam, kita berhadapan dengan suatu masyarakat yang konsumtif di mana mengejar kenikmatan merupakan suatu nilai tertinggi, begitu pula keinginan untuk berkuasa dan mendominasi, dan diskriminasi dalam segala bentuk: kecenderungan-kecenderungan yang kurang manusiawi dalam “Humanisme” ini.

Orang yang tidak menjalankan agamanya

Suasana yang kedua ialah berasal dari mereka yang tidak lagi menjalankan agamanya. Perlawanan dari orang-orang ateis dan orang-orang yang tidak beriman berupa penolakkan tertentu dan ketidakmampuan untuk menangkap tata-nilai baru., artinya baru dari dunia ini, dari kehidupan dan sejarah. Penolakkan dari kelompok kedua yaitu orang-orang yang tidak menjalankan agamnya, berupa sikap lamban dan sikap yang agak bermusuhan, yang berasal dari pribadi yang merasa bahwa dirinya termasuk anggota keluarga, yang menyatakan bahwa mereka mengetahui semuanya dan telah mencoba semuanya, namun tidak mau percaya lagi.

Pewartaan kepada orang banyak

Gereja sadar akan kewajibannya untuk mewartakan keselamatan kepada semua orang. Menyadari bahwa pesan Injil tidak dikhususkan untuk sekelompok kecil orang-orang yang telah menerima inisiasi. Gereja harus menyampaikan pesannya ke hati orang banyak, kepada jemaat-jemaat kaum beriman, yang kegiatannya dapat dan pasti menjangkau orang-orang lain.

“Komunitas Basis” gerejani

Komunitas-komunitas semacam ini, menurut cara mereka sendiri, dapat merupakan suatu perpanjangan pada tingkat spiritual dan religious-ibadat, pendalaman iman, kasih persaudaraan, kontak dengan para pastor- yang terjadi di jemaat yang kecil secara sosiologis, seperti misalnya desa dan lain-lain. Jemaat-jemaat ini akan merupakan tempat untuk evangelisasi, bermanfaat untuk jemaat-jemaat yang lebih besar, lebih-lebih Gereja-Gereja secara perorangan. Mereka akan menjadi suatu harapan bagi Gereja universal sejauh mereka:

  • Mereka mencari santapan mereka dalam Sabda Allah dan tidak membiarkan diri mereka dijerat oleh polarisasi politis atau ideology yang sedang menjadi mode.
  • Mereka menghindari godaan.
  • Mereka selalu teguh tetap melekat pada Gereja lokal di mana mereka masuk menjadi anggotanya.
  • Mereka memelihara kesatuan yang tulus dengan Para Pastor.
  • Mereka tidak pernah memandang diri mereka sebagai satu-satunya yang layak menerima evangelisasi dan satu-satunya pelaksana evangelisasi.
  • Mereka terus-menerus bertumbuh dalam kesadaran misioner.
  • Mereka memperlihatkan diri mereka bersikap universal dalam segala hal dan tidak pernah bersikap sektarian.

 

 

BAB VI

PEKERJAAN-PEKERJAAN EVANGELISASI

Gereja dalam keseluruhannya bersifat misioner

Gereja mewartakan Kerajaan Allah dan membangunnya, Gereja membangun dirinya di tengah-tengah dunia sebagi tanda dan alat Kerajaan ini yang sudah ada dan yang akan datang. Kegiatan missioner Kedua Belas Rasul: “Mereka mewartakan sabda kebenaran dan menghasilkan Gereja-gereja.

Suatu kegiatan gerejani

Pengamatan bahwa Gereja telah diutus dan diberi perintah untuk mewartakan Injil kepada dunia, hendaknya membangkitkan dalam diri kita dua keyakinan.

Yang pertama ialah: penginjilan adalah suatu kegiatan yang secara mendalam bersifat gerejani. Bila seorang pengkhotbah di temapat paling tersembunyi, seorang katekis, atau seorang pastor di tempat yang paling jauh, berkhotbah tentang Injil, mengumpulkan jemaatnya yang kecil bersama-sama atau melayani suatu sakramen, Merskipun ia sendirian, ia melakukan suatu kegiatan gerejani.

 

Perspektif Gereja Universal

Suatu Gereja yang universal, tanpa batas-batas atau garis-garis pemisah, kecuali yang berasal dari hati dan pikiran manusia yang penuh dosa.

Perspektif Gereja Setempat

Gereja universal karena panggilannya dan perutusannya, namun ketika Gereja meletakkan akar-akarnya di dalam bermacam-macam bidang budaya, sosial dan manusiawi, maka Gereja menggunakan ungkapan lahiriah dan penampakkan yang berbeda di tiap-tiap tempat di dunia ini.

Dengan begitu Gereja setempat yang dengan sengaja memisahkan diri dari Gereja universal akan kehilangan hubungan dengan rencana Allah dan akan dimiskinkan dalam dimensi gerejaninya.

Penyesuaian dan kesetiaan dalam ungkapan

Ada bahaya bahwa evangelisasi kehilangan pengaruhnya dan akan lenyap jika isinya dikosongkan atau diubah, dengan dalil untuk menterjamahkannya. Dengan kata lain bila orang mengurbankan kenyataan dan menghancurkan kesatuannya, tanpa mana tak mungkin ada sifat universal, karena muncul keinginan menyesuaikan suatu kenyataan universal dengan sautu situasi local.

Keterbukaan terhadap Gereja Universal

Jika  suatu Gereja setempat semakin terikat pada Gereja Universal dengan ikatan-ikatan yang kokoh dalam persatuan, cinta kasih dan kesetiaan, dalam sikap terbuka terhadap Magisterium Petrus, dalam kesatuan Lex orandi juga merupakan Lex Credendi, dalam keinginan untuk bersatu dengan Gereja-Gereja lain yang mewujudkan keseluruhan-maka Gereja semacam itu semakin mampu menterjemahkan harta kekayaan iman dalam ungkapan-ungkapan yang sah, yang bermacam-macam.

Harta iman yang tak mungkin berubah

Tugas untuk menjaga isi iman katolik yang tak berubah, yang oleh Tuhan diserahkan kepada para Rasul. Meskipun diterjemahkan ke dalam semua ungkapan-ungkapan, isinya tidak boleh dilemahkan atau dikurangi.

Tugas yang bermacam-macam

Oleh karena itu Gereja dipanggil untuk melakukan evangelisasi, namun di dalam Gereja ada bermacam-macam tugas evangelisasi yang harus dilaksanakan. Keanekaragaman pelayanan dalam kesatuan perutusan yang sama merupakan kekayaan dan keindahan dari evangelisasi. Pertama, tugas yang diberikan Yesus kepada Para Rasul yakni mewartakan Injil.

 

Pengganti Petrus

Kekuasaan yang penuh, tertinggi dan universal, yang diberikan Yesus kepada Wakil-wakil-Nya yakni salah satunya petrus, untuk memerintah secara Pastoral Gereja-Nya dengan demikian secara khusus dilaksanakan oleh Paus dalam kegiatan mewartakan dan menyuruh diwartakannya Kabar Baik tentang Penebusan.

Para Uskup dan Para Imam

Bersatu dengan para Uskup dalam pelayanan penginjilan dan bertanggung jawab karena suatu gelar khusus, ialah mereka yang karena tahbisan imamatnya “bertindak dalam pribadi Kristus”. Mereka adalah pendidik-pendidik umat Allah dalam iman dan pengkhotbah-pengkhotbah, pada saat yang sama sekaligus juga menjadi pelayan-pelayan Ekaristi dan Sakramen lainnya.

Kaum Rohaniwan-rohaniwati

Dalam pesrpektif ini dapat dilihat peranan dalam evangelisasi yang dimainkan oleh para rohaniwan-rohaniwati , yang menguduskan diri bagi doa, keheningan, laku tpa dan pengurbanan. Kegiatan missioner mereka dengan jelas tergantung pada hirarki dan harus dikoordinasikan dengan rencana pastoral yang diambil oleh hirarki. Mereka murah hati dan penuh usaha dan kerasulan.

Kaum Awam

Kaum awam, yang oleh panggilan khusus mereka ditempatkan ditengah-tengah dunia dan diberi tugas-tugas duniawi yang sangat beranekaragam, justru karena alas an-alasan tadi tentu melaksanakan suatu bentuk evangelisasi yang sangat khusus.

Bidang mereka di dalam kegiatan evangelisasi ialah dunia politik yang luas dan kompleks, bidang kemasyarakatan dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan seni, kehidupan internasional, bidang media massa.

Kaum kelurga

Dalam sebuah kelurga, semua anggota melakukan evangelisasi dan menerimannya. Orang tua tidak hanya mengkomunikasikan Injil kepada anak-anak mereka, tetapi  dari anak-anak mereka orangtua sendiri dapat menerima Injil yang sama, seperti yang dihayati secara mendalam oleh mereka.

Kaum muda

Kaum muda yang terlatih dalam iman dan doa, haruslah semakin menjadi rasul-rasul bagi kaum muada yang lain. Gereja sangat menghargai sumbangan mereka, dan kami sendiri telah kerap kali menyatakan kepercayaan kami yang penuh pada mereka.

Para pelayan yang bermacam-macam

Para pelayan akan merupakan suatu nilai pastoral yang riil sejauh mereka, dengan tetap menghormati secara mutlak kesatuan dan tunduk pada petunjuk-petunjuk pastor, yang bertanggung jawab mengenai kesatuan Gereja dan oleh karenanya juga merupakan para pembangun.

 

BAB VII

SEMANGAT EVANGELISASI

Seruan yang mendesak

Atas nama Tuhan Yesus Kristus, dan atas nama Rasul-Rasul Petrus dan Paulus, kami ingin mendorong mereka semua, yang berkat krima Roh Kudus dan berkat madat Gereja, menjadi penginjil-penginjil sejati agar suapay hidup sesuai dengan panggilan ini, untuk melakukannya tidak dengan diam karena ragu-ragu atau takut, dan untuk tidak mengabaikan kondisi-kondisi yang tidak hanya akan membuat evangelisasi menjadi mungkin, tetapi juga menjadi aktif dan berbuah. Diantara banyak hal, hal-hal inilah yang merupakan syarat mutlak, yang kami anggap penting untuk ditekankan.

Dibawah karya Roh Kudus

Justru di dalam “hiburan Roh Kudus” Gereja berkembang. Roh Kudus adalah jiwa Gereja. Dialah yang menerangkan kepada kaum beriman makna terdalam ajaran Yesus dan Misteri-Nya. Roh Kuduslah yang sekarang ini persis seperti pada awal Gereja, bertindak di dalam setiap penginjil yang membiarkan dirinya dikuasai dan dipimpin oleh Dia. Roh Kudus meletakkan dalam bibirnya kata-kata, yang orang itu dapat menemukannya sendiri, dan sekaligus Roh Kudus menyiapkan jiwa pendengar untuk terbuka dan siap menerima Kabar Baik dan Kerajaan yang sedang diwartakan.

Haruslah dikatakan bahwa Roh Kudus adalah pelaku utama evangelisasi.: Dialah yang mendorong tiap individu untuk mewartakan Injil, dan dialah yang dalam kesadaran hatinurati menyebabkan kata penebusan diterima dan dipahami. Tapi dengan cara yang sama dapat dikatakan bahwa Dialah tujuan evangelisasi: Dialah yang menggerakkan ciptaan baru, kemanusiaan baru, di mana evangelisasi merupakan hasilnya dengan kesatuan dalam keragaman itu, yang ingin dicapai oleh evangelisasi di dalam jemaat Kristen. Melalui Roh Kudus Injil meresapi jantung dunia, sebab Rohlah yang menyebabkan orang-orang dapat membeda-bedakan tanda-tanda zaman-tanda-tanda yang dikehendaki oleh Allah-yang diungkapkan oleh evangelisasi dan digunakan di dalam sejarah.

Saksi-saksi hidup, yang otentik

Dunia membutuhkan dan mengharapkan dari kita kesederhanaan hidup, semangat doa, kasih terhadap semua orang, lebih-lebih terhadap orang yang rendah dan miskin, ketaatan dan kerendahan hati, sikap lepas bebas dan pengorbanan diri. Tanp tanda kesucian ini, kata-kata kita akan sulit menyentuh hati orang-orang modern. Bahkan ada resiko akan menjadi sisa-sisa dan mandul.

Mencari kesatuan

Kepada kaum beriman dalam dunia katolik bahwa, sebelumsemua manusia dapat dibawa bersama-sama dan dipulihkan ke rahmat Allah Bapa kita, haruslah dibangun kembali persatuan antara merekayang berkat iman telah mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan belas kasih, yang telah membebaskan manusia dan mempersatukan mereka dala Roh Kudus mahacinta dan kebenaran.

Hamba-hamba kebenaran

Kita adalah gembala-gemla umat beriman, dan pengabdian pastoral kita mendorong untuk memelihara, menjaga, dan menyampaikan kebenaran, tak peduli pengurbana-pengurbanan yang terkandungdi dalamnya begitu banyak gembala yang mulia dan suci yang memberikan contoh pada kita untuk mencintai kebenaran.

Dijiwai oleh kasih

Karya evangelisasi mengandaikan di dalam diri pengjinjil ada suatu kasih yang semakin besar terhadap mereka yang diberi pewartaan Injil olehnya. Salah satu tanda kasih ialah keprihatinan untuk membangun Gereja.

Dengan semangat Para Orang Kudus

Kurangnya semangat dapat terlihat dari khayalan, kelelahan, sikap kompromi, kurang minat dan lebih-lebih tidak adanya sukacita dan kurang pengharapan. Kami mendorong semua orang yang mempunyai tugas untuk melakukan evangelisasi, selalu memupuk semangat rohaninya. Kita dapat meneladani semangat orang-orang Kudus dalam mewartakan Kabar Baik, seperti Santo Yohanes, Paulus dan sebagainnya.

 

REFLEKSI PRIBADI

Dengan merangkum buku yang berjudul “EVANGELII NUNTIANDI” (Mewartakan Injil) ini, saya banyak memperoleh pengetahuan bagaimana cara evangelisasi yang baik. Dan implikasinya bagi hidup saya, tentunya sangat besar sebab dengan pengetahuan yang saya dapat dari buku ini membuat saya semakin mudah untuk mendalami apa yang disebut dengan evangelisasi. Mewartakan Kerajaan Allah ditengah-tengah umat atau masyarakat secara lebih luas, di mana pada setiap individu atau kelompok memiliki suku, golongan, dan kebudayaan-kebudayaan tertentu yang berbeda-beda., tentunya tidak dapat kita satukan tanpa Kuasa dari Allah itu sendiri. Kita sebagai perpanjangan tangan Allah untuk mewartakan Kerajaan-Nya keseluruh dunia. Kita semua dipanggil menjadi pewarta Sabda. Maka dari itu untuk dapat menjadi pewarta Kabar Baik yang sesuai dengan teladan Yesus, maka kita harus mampu  memahami, mengerti dan menghayati pesan Sabda yang akan kita sampaikan keseluruh pelosok dunia itu terlebih dahulu barulah kita akan mampu berkatekese dan melaksanakan evangelisasi dengan baik. Sehingga apa yang kita wartakan dapat diterima dengan baik dan dapat membawa pendewasaan iman bagi banyak orang.

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

TUGAS KATEKETIK UMUM

 

NAMA                          : FITRIA

NIM                               : IK 2016 004

SEMESTER                 : II(Dua)

MATA KULIAH          : KATEKETIK UMUM

 

 

 

BAB I

DARI KRISTUS PERWARTA INJIL

KEPADA GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL

Kesaksian dan perutusan Yesus

Kesaksian yang diberikan Tuhan mengenai diri-Nya sendiridan yang dikumpulkan bersama-sama oleh Santo Lukas dalam Injil-Nya “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah”-tak dapat diragukanlagi mempunyai Injil konsekuensi yang amat besar, sebab merupakan ringkasan seluruh perutusan Yesus “sebab untuk itulah Aku diutus”.

Dengan pergi dari kota satu ke kota yang lain, sambil mewartakan kepada kaum termiskin, yang kerap kali justru yang paling siapmenerima, kabar gembira mengenai terpenuhnya janji-janji dan Perjanjian yang diberikan Allah, itulah perutusan Yesus.

 

Yesus, penginjil pertama

Selama Sinode, para Uskup kerap kali menunjukkan kepada kebenaran ini: Yesus sendiri, Kabar Baik Allah. Merupakan penginjil pertama dan terbesar. Ia sangatlah sempurna, bahkan sampai bersedia mengurbankan hidup duniawi-Nya.

 

Mewartakan Kerajaan Allah

Sebagai seorang pewarta Injil, Kristus pertama-tama mewartakan suatu Kerajaan, Kerajaan Allah; dan hal ini begitu penting, sehingga bila dibandingkan segala sesuatu yang lain menjadi”sisa”, yang “ diberikan sebagai tambahan”. Hanya Kerajaanlah yang bersifat mutlak, dan menjadikan setiap hal lainnya bersifat relatif.

Pewartaan tentang penbusan yang membebaskan

Sebagai poros dan pusat Kabar Baik-Nya Kristus mewartakan penebusan. Kurnia besar yang berasal dari Allah ini merupakan pembebasan dari setiap hal yang menindas manusia tapi lebih-lebih pembebasan dari dosa dan kejahatan.

Dengan bayaran berupa usaha memikul salib

Kerajaan dan keselamatan ini, yang merupakan kata-kata kunci dalam pewartaan injil Yesus Kristus, tersedia bagi setiap manusia sebagai rahmat dan belas kasih. Lebih-lebih setiap individu memperolehnya melalui suatu pembaharuan batin yang menyeluruh, yang oleh Injil disebut metanoia. Metanoia adalah suatu pertobatan yang radikal, perubahan pikiran dan hati yang mendalam.

Dengan khotbah yang tak kenal lelah

Kristus melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan Allah ini melalui khotbah yang tak kenal lelah,tentang satu kata yang tak ada bandingnya.

Dengan tanda-tanda Injil

Orang sakit disembuhkan, air diubah menjadi anggur roti diperbanyak orang mati dihidupkan dan masih banyak yang lainnya. Melalui tanda-tanda inilah Yesus melaksanakan pewartaan-Nya.

Bagi suatu jemaat yang harus menerima pewartaan

Dan menyampaikan pewartaan.

Perintah yang diberikan kepada keduabelas Rasul untuk pergi ke luar dan mewartakan Injil juga berlaku untuk semua orang Kristen, meskipun dengan cara yang berbeda. Mereka yang telah menerima Kabar Baik dan telah dikumpulkan oleh-Nya dalam jemaat yang telah ditebus, dapat dan harus meneruskannya dan menyebarluaskan Injil.

Mewartakan injil: panggilan yang khas bagi Gereja

Gereja ada untuk mewartakan injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran kurnia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan Kematian dan Kebangkitan-nYa yang mulia.

Mata rantai yang timbale balik

antara Gereja dan Pewartaan injil

Setelah diutus dan diberi pewartaan Injil, maka Geraja sendiri mengutus para pewarta Injil. Gereja menerangkan kepada mereka pesan yang disampaikan. Gereja memberikan mereka tugas yang telah diterima sendiri oleh Gereja.  Di mana dalam menyampaikan Injil ini, mereka harus menyampaikannya dengan menjadi pelayan-pelayan dan dengan kesetiaan sepenuh-penuhnya.

Gereja tak terpisahkan dari Kristus

Demikian ada hubungan yang mendalam antara Kristus, Gereja dan pewarta Injil. Dalam masa Gereja di mana kita hidup di dalamnya,menjadi tugas Gerejalah untuk mewartakan Injil. Perintah ini tidak dapat terlaksanakan tanpa Gereja, apalagi bertentangan dengan Gereja.

 

BAB II

APAKAH EVANGELISASI ITU ?

Kompleksnya kegiatan mewartakan Injil

Di dalam Gereja untuk mewartakan Injil memang ada unsur-unsur tertentu dan segi-segi tertentu yang secara khusus harus ditekankan. Beberapa unsur dan segi tadi sedemikian penting sehingga ada suatu kecenderungan untuk mengidentikkan hal-hal tadi dengan kegiatan mewartakan Injil.

Pembaharuan umat manusia

Bagi Gereja, pengijilan(evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru: Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru”.

Dan segala lapisan manusia

Bagi Gereja yang menjadi soal bukan hanya mewartakan Injil dalam kawasan geografis yang lebih luas atau jumlah manusia yang lebih banyak, tapi juga bagaimanakah mempengaruhinya dan menjungkirbalikannya dengan kekuatan Injil.

Evangelisasi kebudayaan-kebudayaan

Perpisahan antara Injil dan kebudayaan tak dapat diragukan lagi merupakan suatu drama untuk zaman kita, seperti halnya untuk zamanzaman lain. Oleh karenanya setiap usaha harus dilakukan untuk menjamin penginjilan kebudayaan sepenuhnya, atau lebih tepat kebudayaan-kebudayaan. Kebudayaan-kebudayaan harus dilahirkan kembali dalam suatu pertemuan dengan Injil. Namun pertemuan ini tidak akan terjadi bila Injil tidak diwartakan.

Pentingnya kesaksian hidup

Lebih-lebih Injil harus diwartakan melalui kesaksian. Seorang Kristen yang di tengah-tengah masyarakat mereka sendiri., menunjukkan kemampuan mereka untuk memahami dan menerima, untuk membagi hidup dan nasibnya dengan orang lain, solidaritas mereka serta usaha mereka untuk melakukan semua hal yang luhur dan baik. Di samping itu, mereka dengan secara sederhana dan tidak terpengaruh, memancarkan iman mereka dalam nilai-nilai yang diluar nilai-nilai yang sedang berlaku.

Perlunya pewartaan yang eksplisit

Pewartaan ini-“Kerygma” , khotbah atau katekese menduduki tempat yang penting di dalam evangelisasi sehingga kerapkali menjadi sinonim dengannya; namun hal tadi hanyalah salah satu segi dari evangelisasi.

 

Supaya diterima dalam hidup dan diterima secara menjemaat

Dalam dinamisme penginjilan, seorang pribadi yang menerima Gereja sebagai Sabda yang menyelamatkan, biasanya menterjemahkannya dalam kegiatan-kegiatan sakramental berikut ini: tunduk kepada Gereja, menerima sakramen-sakramen, yang menampakkan  dan mendukung ketaatan  tadi melalui rahmat yang mereka berikan.

 

 

 

 

BAB III

ISI EVANGELISASI

Isi pokok dan unsur-unsur sekunder

Di dalam pesan yang disampaikan Gereja tentu ada banyak unsur-unsur yang sekunder. Penyajiannya sangat tergantung dari situasi-situasi yang berubah. Tetapi ada isi pokok, hakiki, subtansi yang hidup, yang tidak boleh diubah-ubah atau disangkal, karena secara serius pasti merubah hakikat evangelisasi itu sendiri.

Kesaksian yang diberikan mengenai kasih Bapa

Mewartakan Injil pertama-tama berarti memberikan kesaksian, secara sederhana dan langsung, mengenai Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus, dalam Roh Kudus. Memberikan kesaksian bahwa dalam Putera-Nya Allah telah mengasihi dunia-bahwa dalam Sabda-Nya Yang Menjadi Daging, Allah telah menciptakan semua hal dan telah memanggil umat manusia ke dalam hidup kekal.

Merupakan pokok pewartaan:

penebusan dalam Yesus Kristus

Suatu penebusan yang mengatasi segala batas iniagar mencapai kepenuhan dalam suatu persatuan dengan Yang Mutlak dan Yang Ilahi: suatu penebusan yang transendens dan eskatologi yang memang dimulai di dalam hidup sekarang ini tapi yang dipenuhi di keabadian.

Di bawah tanda harapan

Evangelisasi juga mencakup pewartaan tentang pengharapan akan janji-janji yang dibuat oleh Allah dalam Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus, pewartaan tentang kasih Allah kepada kita dan kasih kita kepada Allah. Evangelisasi juga mencakup pewwartaan tentang kasih persaudaraan terhadap semua orang -kemampuan untuk memberikan dan mengampuni, penyangkalan diri, membantu saudara dan saudari yang berasal dari kasih kepada Allah merupakan benih Injil.

 

Pesan yang menyentuh hidup sebagai keseluruhan

Pewartaan tentang hidup di dalam masyarakat, mengenai hidup internasional, perdamaian, keadilan dan perkembangan –suatu pesan  yang secara khusus bersemangat pada zaman sekarang ini mengenai pembebasan.

Sebuah pesan tentang pembebasan

Gereja, seperti yang dikatakan berulang kali oleh para Uskup, mempunyai kewajiban untuk mewartakan pembebasan jutaan umat manusia, kebanyakkan dari mereka itu adalah anak-anaknya sendiri. Gereja mempunyai tugas membantu lahirnya pembebasan ini, untuk memberikan kesaksian mengenai hal itu, untuk menjamin bahwa hal tadi lengkap. Semua hal ini bukanlah sesuatu yang asing bagi evangelisasi.

Yang perlu dihubungkan dengan kemajuan umat manusia

Evangelisasi dan kemajuan juga mencakup hubungan-hubungan yang sangat erat berhubungan dengan perintah Injil, yaitu cinta kasih.

Tanpa menguranginya atau mengaburkannya

Dengan sapaan yang sama seperti pada pembukaan Sinode, “perlunya menyatakan kembali dengan jelas tujuan yang khas keagamaan dari evangelisasi. Hal ini akan kehilangan alasannya untuk ada jika evangelisasi menyimpang dari poros keagamaan yang menuntut: Kerajaan Allah di atas segala hal lainnya, dalam arti teologis yang sepenuh-penuhnya.

Pembebasan manurut Injil

Pembebasan tersebut tidak boleh dibatasi hanya pada dimensi-dimensi yang semata-mata dan secara terbatas bersifat ekonomis., politis dan sosial atau hidup budaya. Pembebasan harus mencakup seluruh manusia, dalam segala seginya, selaras dan termasuk keterbukaannya terhadap yang mutlak, bahkan terhadap Yang Ilahi Yang Mutlak.

 

 

Yang berpusat pada Kerajaan Allah

Gereja menegaskan kembali bahwa dia harus lebih mengutamakan panggilan rohaninya dan menolak untuk mengganti pewartaan Kerajaan Allah dengan pewartaan mengenai bentuk-bentuk pembebasan manusiawi. Gereja bahkan menegaskan bahwa sumbangannya bagi pembebasan tidaklah lengkap bila ia mengabaikanpewartaan penebusan dalam Yesus Kristus.

Berdasar pada suatu konsep injil tentang manusia

Gereja punya keyakinan yang teguh bahwa semua pembebasan duniawi, semua pembebasan politik meskipun diusahakan untuk mencari pembenarannya dalam halaman ini atau itu dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, meskipun dinyatakan sebagai dasar ideologisnya dan norma-norma tindakannya data-data dan kesimpulan teologis-dalam dirinya mengandung benih yang menyangkal dirinya dan gagal untuk mencapai ideal yang dikemukakannya.

Melibatkan suatu pertobatan yang mutlak diperlukan

Gereja sadar bahwa struktur-struktur yang terbaik dan sistem-sistem yang paling ideal dengan cepat akan menjadi tidak manusiawi bila kecenderungan-kecenderungan yang kurang manusiawi dari hati manusia tidak disehatkan, jika mereka yang hidup dalam struktur-struktur ini atau mengaturnya tidak mengalami pertobatan hati dan pandangan.

Tidak menggunakan kekerasan

Kekerasan tidak sesuai dengan Injil, bahwa kekerasan bukanlah sesuatu yang bersifat kristiani. Bahwa perubahan-perubahan struktur yang mendadak atau berdasarkan kekerasan adalah suatu yang menipu, tidak efektif, dan tentu saja tidak sesuai dengan martabat manusia.

Sumbangan yang khas dari Gereja

Gereja selalu berusaha untuk memasukkan perjuangan Kristen bagi pembebasan di dalam rencana penebusan yang universal yang diwartakan sendiri oleh Gereja. Pembebasan yang diwartakan oleh evangelisasi dan disiapkannya adalah pembebasan yang diwartakan oleh Kristus sendiri dan diberikan-Nya kepada manusia dengan pengorbanan-Mu.

 

Kebebasan agama

Perlunya menjamin hak-hak asasi yang fundamental tidak dapat dipisahkan dari pembebasan yang benar, yang berhubungan erat dengan evangelisasi dan yang berubah untuk membuat struktur-struktur yang menjamin kebebasan manusia.

 

BAB IV

METODE-METODE EVANGELISASI

Mencari sarana-sarana yang cocok

Metode-metode evangelisasi bermacam-macam, sesuai dengan situasi waktu yang berbeda-beda, situasi tempat dan budaya dan karena itu menimbulkan tantangan tertentu terhadap kemampuan kita untuk menemukannya dan mengadaptasikannya.

Kesaksian hidup

Pertama-tama melalui langkah-laku hidupnya Gereja akan mewartakan Injil kepada dunia. Dengan kata lain dengan melalui kesaksian berupa kemiskinan dan sikap tidak melekat pada apa pun, sikap bebas terhadap para penguasa dunia ini, dengan secara ringkas, kesaksian kesucian.

Suatu khotbah yang hidup

Tak berlebihanlah menekankan perlunya dan pentingnya khotbah. Khotbah, pewartaan dengan memakai kata-kata mengenai suatu pesan, selalu harus ada. Sabda yang didengar menyebabkan orang percaya. Namun kata-kata ini juga harus dapat diwartakan melalui kesaksian hidup.

Liturgi Sabda

Kaum beriman yang berkumpul sebagai suatu Gereja Paskah, yang merayakan Tuhan yang hadir di tengah-tengah mereka, mengharapakan banyak dari khotbah. Mereka akan memperolehj manfaat yang besar darinya, asalkan khotbah tadi sederhana, singkat, langsung, selaras, dengan kebutuhan. Dan hendaknya juga secara mendalam bersumber pada ajaran Injil dan setia pada Kuasa Mengajar Gereja.

Katekese

Salah satu sarana evangelisasi yang tidak boleh diabaikan ialah pengajaran katekese. Pengajaran ini perlu diberikan untuk membentuk pola-pola hidup Kristen dan bukan hanya tetap tinggal berupa pengetahuan belaka. Dan metode-metode yang digunakan harus sesuai dengan usia, kebudayaan dan sikap pribadi-pribadi yang bersangkutan. Haruslah selalu diusahakan agar didalam ingatan, pikiran dan hati nurani mereka dapat tertanam kebenaran-kebenaran hakiki yang harus meresapi seluruh hidup mereka.

Menggunakan media masa

Dengan adanya media masa dapat memperluas wilayah di mana Sabda Allah dapat didengar, hamper tanpa batas. Dengan alat-alat media masa yang ada Kabar Baik dapat menjangkau jutaan manusia. Dengan ini pula Gereja menemukan penjabaran secara modern dan efektif mimbar. Berkat alat-alat ini Gereja berhasil berbicara kepada banyak orang.

Kontak pribadi yang tak dapat tidak harus ada

Bentuk penyampaian yang lain dari pribadi ke pribadi, tetap sah dan penting. Para imam membantu umat ketika umat jatuh. Dan selalu membantu umat dengan kemampuan  untuk membeda-bedakan dan kesediaan untuk selalu menolong.

Peranan sakramen-sakramen

Tidak pernah cukuplah hanya menekankan bahwa evangelisasi tidak hanya terdiri dari khotbah dan mengajarkan suatu doktrin. Karena evangelisasi harus menyentuh kehidupan: kehidupan kodrati, yang diberi suatu arti yang baru, berkat perspektir-perspektif injil yang diwahyukannya. Hidup adikodrati, bukan merupakan penyangkalan api kemurnian dan pengangkatan hidup kdrati. Peran evangelisasi justru untuk mendidik orang-orang di dalam iman sedemikian rupa, sehingga membimbing tiap-tiap individu Kristen untuk menghayati sakramen-sakramen sebagai sakramen-sakramen imandan bukannya untuk menerima sakramen-sakramen secara pasif tapi untuk benar berpartisipasi di dalam penerimaan sakramen-sakramen.

 

Kesalehan yang merakyat

Religiositas yang merakyat jmenyebabkan adanya kesadaran yang tajam terhadap sifat-sifat Allah yang mendalam: Kebapaan, penyelenggaraan Ilahi, kasih dan kehadiran-Nya yang terus-menerus. Juga hal tersebut melahirkan sikap-sikap batin, yang jarang-jarang Nampak ditempat lain, dalam kadar atau tingkat yang sama: Kesabaran, kesadaran akan adanya Salib dalam hidup sehari-hari, sikap lepas bebas, keterbukaan terhadap orang lain, Doevosi. Oleh karena segi-segi tadi, maka kami dengan senang hati menyebutkan “kesalehan yang merakyat” yaitu agama rakyat, umat dan bukannya religiositas, perasaan keagamaan.

 

BAB V

ORANG-ORANG YANG MENDAPATKAN MANFAAT

DARI EVANGELISASI

Ditujukan kepada setiap orang

Kata-kata Yesus yang terkahir dalam Injil Santo Markus memberikan sifat universal yang tanpa batas terhadap evangelisasi yang diserahkan oleh Tuhan kepda Para Rasul-Nya: “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”.

Meskipun adanya semua rintangan

Kendati pun ada perlawanan-perlawanan atau pertentangan dalam mewartakan Injil, Gereja tetap terus-menerus memperbaharui inspirasinya yang terdalam, yang datang kepada Gereja langsung dari Tuhan: ke seluruh dunia. Kepada segala makhluk. Sampai ke ujung-ujung bumi.! Gereja melakukan hal itu sekali lagi pada Sinode terakhir, sebagai suatu seruan untuk tidak membelenggu pewartaan Injil dengan membatasinya pada salah satu sector umat manusia  atau salah satu kelompok orang atau pada salah satu corak kebudayaan.

 

 

Pewartaan yang pertama kepada mereka yang jauh

Gereja melakukan pewartaan tentang Yesus yang pertama ini dengan suatu kegiatan kompleks dan beraneka macam, yang kadang-kadang disebut dengan istilah “ pre-evangelisasi”.

Pewartaan yang diperbaharui  kepada

suatu dunia yang tidak Kristen lagi

Pewartaan pertama-tama ditujukan lebih-lebih kepada mereka yang tidak pernah mendengar Kabar Baik Yesus, atau kepada anak-anak. Diperlukan  untuk orang-orang sederhana yang tentu mempunyai iman namun pengetahuan yang tidak sempurna mengenai dasar-dasar iman. Dibutuhkan kaum intelektual yang merasa perlu mengetahui Yesus Kristus dalam suatu cahaya yang berbeda dengan pengajaran yang mereka terima ketika mereka masih kanak-kanak, dan juga bagi banyak orang lainnya.

Agama-agama bukan Kristen

Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen. Gereja menghormati dan menghargai agama-agama nonkristen sebab merupakan ungkapan hidup dari jiwa kelompok besar umat manusia. Menghormati dan menghargai agama-agama lain bukan berarti bahwa Gereja tidak mau mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Melainkan bahwa Gereja berpendapat orang-orang tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus. Kekayaan dalam mana seluruh umat manusia dapat menemukan, secara penuh dan tak dapat diragukan lagi.

Dukungan untuk iman kaum beriman

Gereja tidak merasa dirinya terbebas dari kewajiban untuk juga memberikan perhatian secukupnya kepada mereka yang telah menerima iman dan yang telah berkenalan dengan Injil. Gereja berusaha untuk memperdalam, memperkokoh, memupuk dan membuat semakinmatang iman mereka yang telah disebut kaum beriman atau orang-orang yang percaya, agar supaya mereka menjadi semakin lebih beriman lagi.

 

Orang-orang yang tidak percaya

Ateisme yang berpusat pada manusia, tidak lagi  abstrak dan metafisik tapi pragmatis, sistematis dan militan. Bersamaan dengan sekularisme yang ateis ini, setiap hari, dengan bentuk yang bermacam-macam, kita berhadapan dengan suatu masyarakat yang konsumtif di mana mengejar kenikmatan merupakan suatu nilai tertinggi, begitu pula keinginan untuk berkuasa dan mendominasi, dan diskriminasi dalam segala bentuk: kecenderungan-kecenderungan yang kurang manusiawi dalam “Humanisme” ini.

Orang yang tidak menjalankan agamanya

Suasana yang kedua ialah berasal dari mereka yang tidak lagi menjalankan agamanya. Perlawanan dari orang-orang ateis dan orang-orang yang tidak beriman berupa penolakkan tertentu dan ketidakmampuan untuk menangkap tata-nilai baru., artinya baru dari dunia ini, dari kehidupan dan sejarah. Penolakkan dari kelompok kedua yaitu orang-orang yang tidak menjalankan agamnya, berupa sikap lamban dan sikap yang agak bermusuhan, yang berasal dari pribadi yang merasa bahwa dirinya termasuk anggota keluarga, yang menyatakan bahwa mereka mengetahui semuanya dan telah mencoba semuanya, namun tidak mau percaya lagi.

Pewartaan kepada orang banyak

Gereja sadar akan kewajibannya untuk mewartakan keselamatan kepada semua orang. Menyadari bahwa pesan Injil tidak dikhususkan untuk sekelompok kecil orang-orang yang telah menerima inisiasi. Gereja harus menyampaikan pesannya ke hati orang banyak, kepada jemaat-jemaat kaum beriman, yang kegiatannya dapat dan pasti menjangkau orang-orang lain.

“Komunitas Basis” gerejani

Komunitas-komunitas semacam ini, menurut cara mereka sendiri, dapat merupakan suatu perpanjangan pada tingkat spiritual dan religious-ibadat, pendalaman iman, kasih persaudaraan, kontak dengan para pastor- yang terjadi di jemaat yang kecil secara sosiologis, seperti misalnya desa dan lain-lain. Jemaat-jemaat ini akan merupakan tempat untuk evangelisasi, bermanfaat untuk jemaat-jemaat yang lebih besar, lebih-lebih Gereja-Gereja secara perorangan. Mereka akan menjadi suatu harapan bagi Gereja universal sejauh mereka:

  • Mereka mencari santapan mereka dalam Sabda Allah dan tidak membiarkan diri mereka dijerat oleh polarisasi politis atau ideology yang sedang menjadi mode.
  • Mereka menghindari godaan.
  • Mereka selalu teguh tetap melekat pada Gereja lokal di mana mereka masuk menjadi anggotanya.
  • Mereka memelihara kesatuan yang tulus dengan Para Pastor.
  • Mereka tidak pernah memandang diri mereka sebagai satu-satunya yang layak menerima evangelisasi dan satu-satunya pelaksana evangelisasi.
  • Mereka terus-menerus bertumbuh dalam kesadaran misioner.
  • Mereka memperlihatkan diri mereka bersikap universal dalam segala hal dan tidak pernah bersikap sektarian.

 

 

BAB VI

PEKERJAAN-PEKERJAAN EVANGELISASI

Gereja dalam keseluruhannya bersifat misioner

Gereja mewartakan Kerajaan Allah dan membangunnya, Gereja membangun dirinya di tengah-tengah dunia sebagi tanda dan alat Kerajaan ini yang sudah ada dan yang akan datang. Kegiatan missioner Kedua Belas Rasul: “Mereka mewartakan sabda kebenaran dan menghasilkan Gereja-gereja.

Suatu kegiatan gerejani

Pengamatan bahwa Gereja telah diutus dan diberi perintah untuk mewartakan Injil kepada dunia, hendaknya membangkitkan dalam diri kita dua keyakinan.

Yang pertama ialah: penginjilan adalah suatu kegiatan yang secara mendalam bersifat gerejani. Bila seorang pengkhotbah di temapat paling tersembunyi, seorang katekis, atau seorang pastor di tempat yang paling jauh, berkhotbah tentang Injil, mengumpulkan jemaatnya yang kecil bersama-sama atau melayani suatu sakramen, Merskipun ia sendirian, ia melakukan suatu kegiatan gerejani.

 

Perspektif Gereja Universal

Suatu Gereja yang universal, tanpa batas-batas atau garis-garis pemisah, kecuali yang berasal dari hati dan pikiran manusia yang penuh dosa.

Perspektif Gereja Setempat

Gereja universal karena panggilannya dan perutusannya, namun ketika Gereja meletakkan akar-akarnya di dalam bermacam-macam bidang budaya, sosial dan manusiawi, maka Gereja menggunakan ungkapan lahiriah dan penampakkan yang berbeda di tiap-tiap tempat di dunia ini.

Dengan begitu Gereja setempat yang dengan sengaja memisahkan diri dari Gereja universal akan kehilangan hubungan dengan rencana Allah dan akan dimiskinkan dalam dimensi gerejaninya.

Penyesuaian dan kesetiaan dalam ungkapan

Ada bahaya bahwa evangelisasi kehilangan pengaruhnya dan akan lenyap jika isinya dikosongkan atau diubah, dengan dalil untuk menterjamahkannya. Dengan kata lain bila orang mengurbankan kenyataan dan menghancurkan kesatuannya, tanpa mana tak mungkin ada sifat universal, karena muncul keinginan menyesuaikan suatu kenyataan universal dengan sautu situasi local.

Keterbukaan terhadap Gereja Universal

Jika  suatu Gereja setempat semakin terikat pada Gereja Universal dengan ikatan-ikatan yang kokoh dalam persatuan, cinta kasih dan kesetiaan, dalam sikap terbuka terhadap Magisterium Petrus, dalam kesatuan Lex orandi juga merupakan Lex Credendi, dalam keinginan untuk bersatu dengan Gereja-Gereja lain yang mewujudkan keseluruhan-maka Gereja semacam itu semakin mampu menterjemahkan harta kekayaan iman dalam ungkapan-ungkapan yang sah, yang bermacam-macam.

Harta iman yang tak mungkin berubah

Tugas untuk menjaga isi iman katolik yang tak berubah, yang oleh Tuhan diserahkan kepada para Rasul. Meskipun diterjemahkan ke dalam semua ungkapan-ungkapan, isinya tidak boleh dilemahkan atau dikurangi.

Tugas yang bermacam-macam

Oleh karena itu Gereja dipanggil untuk melakukan evangelisasi, namun di dalam Gereja ada bermacam-macam tugas evangelisasi yang harus dilaksanakan. Keanekaragaman pelayanan dalam kesatuan perutusan yang sama merupakan kekayaan dan keindahan dari evangelisasi. Pertama, tugas yang diberikan Yesus kepada Para Rasul yakni mewartakan Injil.

 

Pengganti Petrus

Kekuasaan yang penuh, tertinggi dan universal, yang diberikan Yesus kepada Wakil-wakil-Nya yakni salah satunya petrus, untuk memerintah secara Pastoral Gereja-Nya dengan demikian secara khusus dilaksanakan oleh Paus dalam kegiatan mewartakan dan menyuruh diwartakannya Kabar Baik tentang Penebusan.

Para Uskup dan Para Imam

Bersatu dengan para Uskup dalam pelayanan penginjilan dan bertanggung jawab karena suatu gelar khusus, ialah mereka yang karena tahbisan imamatnya “bertindak dalam pribadi Kristus”. Mereka adalah pendidik-pendidik umat Allah dalam iman dan pengkhotbah-pengkhotbah, pada saat yang sama sekaligus juga menjadi pelayan-pelayan Ekaristi dan Sakramen lainnya.

Kaum Rohaniwan-rohaniwati

Dalam pesrpektif ini dapat dilihat peranan dalam evangelisasi yang dimainkan oleh para rohaniwan-rohaniwati , yang menguduskan diri bagi doa, keheningan, laku tpa dan pengurbanan. Kegiatan missioner mereka dengan jelas tergantung pada hirarki dan harus dikoordinasikan dengan rencana pastoral yang diambil oleh hirarki. Mereka murah hati dan penuh usaha dan kerasulan.

Kaum Awam

Kaum awam, yang oleh panggilan khusus mereka ditempatkan ditengah-tengah dunia dan diberi tugas-tugas duniawi yang sangat beranekaragam, justru karena alas an-alasan tadi tentu melaksanakan suatu bentuk evangelisasi yang sangat khusus.

Bidang mereka di dalam kegiatan evangelisasi ialah dunia politik yang luas dan kompleks, bidang kemasyarakatan dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan seni, kehidupan internasional, bidang media massa.

Kaum kelurga

Dalam sebuah kelurga, semua anggota melakukan evangelisasi dan menerimannya. Orang tua tidak hanya mengkomunikasikan Injil kepada anak-anak mereka, tetapi  dari anak-anak mereka orangtua sendiri dapat menerima Injil yang sama, seperti yang dihayati secara mendalam oleh mereka.

Kaum muda

Kaum muda yang terlatih dalam iman dan doa, haruslah semakin menjadi rasul-rasul bagi kaum muada yang lain. Gereja sangat menghargai sumbangan mereka, dan kami sendiri telah kerap kali menyatakan kepercayaan kami yang penuh pada mereka.

Para pelayan yang bermacam-macam

Para pelayan akan merupakan suatu nilai pastoral yang riil sejauh mereka, dengan tetap menghormati secara mutlak kesatuan dan tunduk pada petunjuk-petunjuk pastor, yang bertanggung jawab mengenai kesatuan Gereja dan oleh karenanya juga merupakan para pembangun.

 

BAB VII

SEMANGAT EVANGELISASI

Seruan yang mendesak

Atas nama Tuhan Yesus Kristus, dan atas nama Rasul-Rasul Petrus dan Paulus, kami ingin mendorong mereka semua, yang berkat krima Roh Kudus dan berkat madat Gereja, menjadi penginjil-penginjil sejati agar suapay hidup sesuai dengan panggilan ini, untuk melakukannya tidak dengan diam karena ragu-ragu atau takut, dan untuk tidak mengabaikan kondisi-kondisi yang tidak hanya akan membuat evangelisasi menjadi mungkin, tetapi juga menjadi aktif dan berbuah. Diantara banyak hal, hal-hal inilah yang merupakan syarat mutlak, yang kami anggap penting untuk ditekankan.

Dibawah karya Roh Kudus

Justru di dalam “hiburan Roh Kudus” Gereja berkembang. Roh Kudus adalah jiwa Gereja. Dialah yang menerangkan kepada kaum beriman makna terdalam ajaran Yesus dan Misteri-Nya. Roh Kuduslah yang sekarang ini persis seperti pada awal Gereja, bertindak di dalam setiap penginjil yang membiarkan dirinya dikuasai dan dipimpin oleh Dia. Roh Kudus meletakkan dalam bibirnya kata-kata, yang orang itu dapat menemukannya sendiri, dan sekaligus Roh Kudus menyiapkan jiwa pendengar untuk terbuka dan siap menerima Kabar Baik dan Kerajaan yang sedang diwartakan.

Haruslah dikatakan bahwa Roh Kudus adalah pelaku utama evangelisasi.: Dialah yang mendorong tiap individu untuk mewartakan Injil, dan dialah yang dalam kesadaran hatinurati menyebabkan kata penebusan diterima dan dipahami. Tapi dengan cara yang sama dapat dikatakan bahwa Dialah tujuan evangelisasi: Dialah yang menggerakkan ciptaan baru, kemanusiaan baru, di mana evangelisasi merupakan hasilnya dengan kesatuan dalam keragaman itu, yang ingin dicapai oleh evangelisasi di dalam jemaat Kristen. Melalui Roh Kudus Injil meresapi jantung dunia, sebab Rohlah yang menyebabkan orang-orang dapat membeda-bedakan tanda-tanda zaman-tanda-tanda yang dikehendaki oleh Allah-yang diungkapkan oleh evangelisasi dan digunakan di dalam sejarah.

Saksi-saksi hidup, yang otentik

Dunia membutuhkan dan mengharapkan dari kita kesederhanaan hidup, semangat doa, kasih terhadap semua orang, lebih-lebih terhadap orang yang rendah dan miskin, ketaatan dan kerendahan hati, sikap lepas bebas dan pengorbanan diri. Tanp tanda kesucian ini, kata-kata kita akan sulit menyentuh hati orang-orang modern. Bahkan ada resiko akan menjadi sisa-sisa dan mandul.

Mencari kesatuan

Kepada kaum beriman dalam dunia katolik bahwa, sebelumsemua manusia dapat dibawa bersama-sama dan dipulihkan ke rahmat Allah Bapa kita, haruslah dibangun kembali persatuan antara merekayang berkat iman telah mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan belas kasih, yang telah membebaskan manusia dan mempersatukan mereka dala Roh Kudus mahacinta dan kebenaran.

Hamba-hamba kebenaran

Kita adalah gembala-gemla umat beriman, dan pengabdian pastoral kita mendorong untuk memelihara, menjaga, dan menyampaikan kebenaran, tak peduli pengurbana-pengurbanan yang terkandungdi dalamnya begitu banyak gembala yang mulia dan suci yang memberikan contoh pada kita untuk mencintai kebenaran.

Dijiwai oleh kasih

Karya evangelisasi mengandaikan di dalam diri pengjinjil ada suatu kasih yang semakin besar terhadap mereka yang diberi pewartaan Injil olehnya. Salah satu tanda kasih ialah keprihatinan untuk membangun Gereja.

Dengan semangat Para Orang Kudus

Kurangnya semangat dapat terlihat dari khayalan, kelelahan, sikap kompromi, kurang minat dan lebih-lebih tidak adanya sukacita dan kurang pengharapan. Kami mendorong semua orang yang mempunyai tugas untuk melakukan evangelisasi, selalu memupuk semangat rohaninya. Kita dapat meneladani semangat orang-orang Kudus dalam mewartakan Kabar Baik, seperti Santo Yohanes, Paulus dan sebagainnya.

 

 

 

 

REFLEKSI PRIBADI

Dengan merangkum buku yang berjudul “EVANGELII NUNTIANDI” (Mewartakan Injil) ini, saya banyak memperoleh pengetahuan bagaimana cara evangelisasi yang baik. Dan implikasinya bagi hidup saya, tentunya sangat besar sebab dengan pengetahuan yang saya dapat dari buku ini membuat saya semakin mudah untuk mendalami apa yang disebut dengan evangelisasi. Mewartakan Kabar Baik melalui evangelisasi tidak semudah yang diucapkan, tentunya harus benar-benar mampu menghayati imannya  sendiri barulah dapat melakukan hal ini. Dalam mewaratakan Kerajaan Allah tentu banyak rintangan-rintangan yang akan kita hadapi, namun dibalik rintangan tersebut Tuhan dengan Kuasa Roh Kudus-Nya memampukan kita untuk dapat menghadapi rintangan tersebut. Hanya saja dalam hal mewartakan Kerajaan Allah ditengah-tengah umat atau masyarakat secara lebih luas, di mana pada setiap individu atau kelompok memiliki suku, agama, ras, golongan, dan kebudayaan-kebudayaan tertentu yang berbeda-beda dan dengan karakter dari masing-masing individu yang berbeda pula, tentunya tidak dapat kita satukan tanpa Kuasa dari Allah itu sendiri. Kita sebagai perpanjangan tangan Allah untuk mewartakan Kerajaan-Nya keseluruh dunia. Kita semua dipanggil menjadi pewarta Sabda. Maka dari itu untuk dapat menjadi pewarta Kabar Baik yang sesuai dengan teladan Yesus, maka kita harus mampu  memahami, mengerti dan menghayati pesan Sabda yang akan kita sampaikan keseluruh pelosok dunia itu terlebih dahulu barulah kita akan mampu berkatekese dan melaksanakan evangelisasi dengan baik. Sehingga apa yang kita wartakan dapat diterima dengan baik dan dapat membawa pendewasaan iman bagi banyak orang, terkhusus bagi mereka yang belum mengenal Kristus. Namun tidak menutup kemungkinan juga bagi mereka yang sudah mengenal Kristus. Mereka pun juga harus tetap diperhatikan agar iman mereka tetap dapat bertumbuh dan berkembang dalam penghayatan hidup mereka.

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

KATEKETIK UMUM REFLEKSI

KELOMPOK  5

NAMA:

  • WIWIT ARIS PRANATA
  • YAKOBUS CHRISTIAN WELAN
  • THERESIA LEDA MAMA

 

 

 

HANYA SATULAH GURU KITA: YESUS KRISTUS

 

 

 

REFLEKSI

Dalam materi ini kami dapat mengetahui bahwa Yesus Kristus adalah Katekis yang pertama, serta Yesus adalah Sabda itu sendiri. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan katekese berpusat pada Kristus, dan itu merupakan katekese yang benar. Dalam berkatekese  kami harus mampu mengenal diri Kristus itu sendiri karena jika kita tidak mengenal Kristus dengan baik, bagaiman kita dapat berkatekese dengan baik kepada orang lain.

Dalam hal ini juga dapat dikatakan bahwa kami harus mampu mengikuti teladan Kristus, sebagai guru abadi. Setelah kami mendalami materi ini, terbentuklah suatu semangat untuk kami dapat memanggul salib dan bertanggung jawab akan semua tugas dalam mewartakan sabda Allah. Kami juga dapat mengetaui bahwa dalam berkatekese Kristuslah yang objek dalam berkatekese. Meskipun kami masih sebagai calon katekis, namun kami sadari bahwa kami harus siap sedia jika suatu saat menerima sebuah tugas dalam berkatekese. Kami juga mengetahui bahwa menjadi seorang katekis adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia karena dapat memberikan terang bagi semua orang. Dalam meteri ini kami juga harus menjadi pengikut Kristus yang setia, dan menjadi saksi Kristus, serta meneladani Yesus sebagai guru yang mengajar selama hidup-Nya.

 

 

 

 

IMPLIKASI DALAM KEHIDUPAN

Kami harus mendekatkan diri kepada Kristus, setia dalam doa dan selalu mengikuti segala nasihat dan perintah-Nya. Serta mengenal Kristus secara lebih dalam. Karena kami sebagai seorang katekis, kami harus dengan setia dan takwa kepada Kristus. Serta tanggung jawab atas segala tugas dan pekerjaan kami sebagai pewarta sabda, serta berani menerima segala konsekuensi yang akan kami terima atas pengabdian kami sebagai katekis. Kami harus lebih mengenal Kristus karena Kristus adalah patokan dalam berkatekese dan sebagai pusat dari seluruh kegiatan katekese

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

kateketik umum rangkuman

NAMA            :THERESIA LEDA MAMA

NIM                :IK 2016 015

MK                  :KATEKETIK UMUM

SEMESTER    :II (DUA)

 

 

BAB I

HANYA SATULAH GURU KITA: YESUS KRISTUS

 

Istilah “Kristosentrisme” (sifat berpusat Kristus). Sifat Kristosentris mencakup maksud: bukan untuk menyampaikan ajarannya sendiri, atau entah ajaran seorang guru lain, melainkan ajaran Yesus Kristus, kebenaran yang diajarkan-Nya, atau lebih cermat lagi: kebenaran yang tak lain adalah Dia sendiri. Maka harus dikatakan bahwa dalam katekese Kristus sendirilah, Sabda yang menjelma dan Putra Allah, yang diajarkan; segala sesuatu lainya diajarkan mengacu kepada-Nya. Ajaran itu bukan seperangkat kebenaran-kebenaran yang abstrak. Melainkan komunikasi Misteri Allah yang hidup. Pribadi yang mengajarkan  dalam Injil jauh lebih unggul daripada “guru-guru” di israel, dan hakekat ajaran-Nya dalam segalanya  melampaui ajaran mereka, karena ikatan yang unik antara apa yang dikatakan-Nya, apa yang diperbuat-Nya, dan siapa Dia itu sendiri. Dengan berbuat demikian , tidak melupakan, bahwa keagungan Kristus Sang Guru dan konsistensinya yang unik dan kemantapan ajaran-Nya, perumpamaan-perumpamaan serta argumentasi-Nya, tidak pernah dapat dipisahkan dari perihidup dan seluruh kenyataan-Nya sendiri. Maka seluruh perihidup Kristus merupakan pengajaran yang tak kunjung henti.

 

 

 

 

 

 

BAB II

SUATU PENGALAMAN SEUSAI GEREJA

 

Citra Kristus Sang  Guru termeteraikan dalam sanubari kelompok  Duabelas maupun para murid pertama, dan perintah “pergilah…..dan jadikanlah semua bangsa murid-murid-Ku, menggariskan perjalanan hidup mereka. Dalam Injil-Nya Santo Yohanes memberikan kesaksian tentang itu, ketika ia mencantumkan sabda Yesus: “aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya; tetapi aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah kudengar dari Bapa-Ku. Bukan mereka itulah yang memilih untuk mengikuti Yesus. Melainkan Yesus sendirilah yang memilih mereka, menghendaki meraka tingal bersama-Nya, bahkan mengangkat mereka sebelum Paska-Nya, supaya mereka pergi dan menghasilkan buah, dan supaya buah meraka lestari adanya. Para Rasul tidak lamban berbagi pelayanan mereka sebagai rasul dengan orang-orang lain. Kepada para pengganti meraka diturunkan tugas  mengajar. Mereka mempercayakan juga kepada para diakon sejak saat pengangkatan mereka. Gereja memandang katekese sebagai kewajiban suci dan hak yang tidak boleh diambil dari padanya. Ditilik dari sudut hak-hak manusiawi, setiap orang berhak mencari kebenaran keagamaan dan menganutnya dengan bebas, artinya: “tanpa paksaan dari pihak orang-orang prorangan atau kelompok-kelompok sosial atau kuasa manusiawi manapu juga.

 

BAB III

KATEKESE DALAM KEGIATAN PASTORAL DAN MISIONER GEREJA

Katekese merupaka pembinaan iman dan Evangelisasi adalah pewartaan terhadap semua orang baik umat yang belum memiliki kepercayaan, Katekese dan Evangelisasi merupaka suatu kegiatan pastoral. Ciri khas katekese, sebagai momen yng terbedakan dari pemakluman awal Injil yang menghantar kepada pertobatan, mempunyai sasaran rangkap, yakni mematangkan iman awal dan membina murid Kristus yang sejati melalui pengertian yang lebih mendalam dan lebih sistematis tentang pribadi atau amanat Tuhan Kita Yesus Kristus. Tujuan katekese adalah berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dari hari ke hari memekarkan menuju kepenuhan serta semakin memantapkan perihidup Kristen umat beriman, muda maupun tua. Kenyataan itu berarti: merangsang, pada taraf pengetahuan maupun penghayatan, pertumbuhan benih iman, yang ditaburkan oleh Roh Kudus melalui pewataan awal, yang dikaruniakan secara efektif melalui baptis. Dengan kata lain katekese ialah mengemangkan pengertian tentang misteri Kristus dalam cahaya firman Allah, sehingga seluruh pribadi manusia diresapi oleh firman itu.

 

BAB IV

WARTA GEMBIRA DIGALI DARI SUMBERNYA

Karena katekese merupakan suatu momen atau aspek dalam pewartaan Injil, isinya juga tidak dapat lain kecuali isi pewartaan Injil sendiri secara menyeluruh. Satu-satunya Amanat,- yakni Warta  Gembira Keselamatan, yang telah didengar sekali dan ratusa kali, dan telah diterima setulus hati, dalam katekese terus menerus didalami dan direfleksi dan studi sistematis, melalui kesadaran akan gema pantulannya dalam kehidupan pribadi seseorang, suatu kesadaran yang meminta komitmen yang semakin penuh dan dengan mengintegrasikannya dalam keseluruhan yang organis dan selaras, yakni perihidup Kristen dalam masyarakat dan dunia.Katekese selalu akan menggali isinya dari sumber hidup, yakni Sabda Allah, yang disalurkan dalam Tradisi dan Kitab Suci. Berbicara tentang Tradisi dan Kitab Suci sebagai sumber katekese berarti: meminta perhatian terhadap kenyataan, bahwa katekese harus diwarnai, dan diresapi oleh gagasan, semangat dan visi kitab suci serta Injil melalui kontak terus menerus dengan teksnya sendiri.

 

BAB V

ORANG PERLU MENGALAMI KATEKESE

Katekese pada zaman sekarang, dengan perhatian khas terhadap katekese untuk anak-anak dan kaum muda. Tidak ayal lagi, bertambahnya jumlah kaum muda ialah kenyataan yang membawa harapan, dan sekaligus mencantumkan kegelisahan bagi sebagian besar masyarakat masa kini. Suatu masa yang sering menentukan sekali ialah masa kanak-kanak menerima unsur-unsur pertama katekese dari orang tuanya dan lingkungan keluarga. Bagi anak, di sekolah dan di gereja, di lembaga-lembaga yang berhubungan dengan paroki atau reksa rohani sekolah Katolik atau sekolah negeri, tibalah saatnya memasuki kalangan sosial yang lebih luas, tetapi juga saat bagi katekese yang bertujuan memasukan anak secara organis ke dalam kehidupan Gereja. Selain anak-anak, yang perlu untuk menerima katekese secara utuh adalah orang muda, yang pada usia ini mereka masih mencari-cari jati diri, dan juga  masih mencari identitas diri, setelah remaja kemudian menyusul kaum muda dan juga orang dewasa dan orang yang lanjut usia. Selain berdasarkan usia katekese juga perlu diberikan untuk orang-orang yang berkebutuhan khusus misalnya: para penyandang cacar, orang-orang terlantar, orang-orang miskin, serta orang-orang yang dianggap sebagai katekumenat.

 

BAB VI

CARA DAN SARANA KATEKESE

Dari pengajaran lisan para rasul maupun surat-surat yang beredar di antara gereja-gereja, sehingga upaya-upaya yang paling modern, katekese tiada hentinya mencari cara maupun sarana yang paling cocok bagi perutusannya, didukung oleh peranserta aktif jemaat-jemaat dan atas desakan para gembala. Tentang peluang yang tersedia berkat media komunikasi dan media komunikasi sosial dan media komunikasi dalam kelompok: televisi, radio, media cetak, piringan hitam, rekaman tape, seluruh deretan media audio visual. Yang harus dipikirkan ialah pelbagai kesempatan yang berharga sekali, yang justru cocok untuk katekese, misalnya: ziarah keuskupan yang dipusatkan  pada beberapa tema yang dipilih dengan cermat berdasarkan kehidupan Kristus, santa Perawan Maria dan Para Kudus. Cara lain untuk berkatekese adalah lewat Homili yang merupakan bentuk katekese yang dilakukan oleh para imam dan biarawa dan biarawati, yang dilakukan pada saat perayaan Ekaristi, selain itu juga ada buku-buku tentang iman katolik atau buku kepustakaan katekis atau buku-buku yang seharusnya dipegang oleh calon pewarta sabda atau calon katekis, buku katekismus yang merupakan buku tentang ajaran-ajaran gereja yang dikelurkan oleh Magisterium gereja.

 

 

 

 

BAB VII

BERKATEKESE

Dalam berkatekese ada berbagai metode-metode yang sebaiknya digunakan dalam proses berkatekese, sehingga dalam berkatekese, apa yang kita sampaikan dapat dimengerti oleh pendengar. Umur dan perkembangan nalar orang Kristen, taraf kematangan rohaninya sebagai anggot Gereja, dan banyak kondisi pribadi lainnya meminta, agar katekese menggunakan metode-metode yang bermacam ragam untuk mencapai tujuannya yang khas, yakni pembinaan iman.  Pada tingkat yang lebih umum, keanekaan ini dibutuhkan juga untuk menanggapi lingkungan sosio-budaya, yang bagi Gereja menjadi gelanggang karya katekesenya.  Keanekaragaman metode yang digunakan itu menandakan  kehidupan dan  merupakan sumber daya. Berbagai metode yang menyangkut unsur-unsur devosi populer yang sah dalam pendidikan katekis. Serta dengan amanat Injil yang meraga dalam kebudayaan-kebudayaan, seorang katekis juga harus mengabdi perwahyuan dan pertobatan, serta menghafalkan berbagai isi pewartaan Yesus Kristus.

 

BAB VIII

KEGEMBIRAAN IMAN DALAM DUNIA YANG KACAU-BALAU

Kita hidup dalam dunia yang serba sulit:kegelisahan menyaksikan hasil-hasil ciptaan terbaik  manusia yang terbaik lolos daripadanya dan pemberontakan melawannya menimbulkan iklim ketidak-pastian. Didunia ini katekese wajib membantu umat Kristen demi kegembiraan mereka sendiri dan pengabdian kepada semua orang untuk – demi menjadi “terang” dan “garam”. Sudah pasti yang diperlukan yakni: supaya katekese meneguhkan mereka dalam jatidiri mereka, dan tiada hentinya harus memisahkan diri dari iklim keragu-raguan, ketidakpastian dan kejenuhan yang mengelilinginya. Konsekuensi dan kondisi sifat khas original jatidiri Kristen ialah perlunya pedagogi iman yang tidak kalah original pula. Ada kalanya muncul tantangan lebih rumit dari cara memahami iman sendiri. Aliran-aliran tertentu dalam falsafah masa kini, agaknya berpengaruh kuat atas beberapa arus teologi, dan melalui itu atas praktek pastoral, suka menekankan bahwa sikap manusiawi yang mendasar ialah: mencari yang ridak terbatas, suatu usaha yang tidak pernah mencapai sasaran.

 

 

BAB IX

YANG MENYANGKUT KITA SEMUA

Katekese merupakan suatu bentuk pengajaran iman Katolik yang merupaka tugas dari orang-orang yang diutus untuk katekese itu sendiri, seperti imam, diakon, biarawan-biarawati dan katekis, yang diinginkan ialah: menaburkan keberanian, pengharapan dan entusiasme yang berlimpah dihati sekian banyak orang yang bermacam-macam, yang diserahi tugas memberi pendidikan keagamaan dan latihan bagi kehidupan seturut Injil. Yang bertanggung jawab yang pertama berkaitan dengan urusan katekese atau pembinaan iman ialah, paus yang bersama dengan dan dalam semangat kolegialitas para Uskup, serta para imam. Selain itu banyak  tarekat religius pria dan wanita yang didirikan untuk menyelenggarakan pendidikan Kristen bagi anak-anak dan kaum muda, khususnya bagi mereka yang terlantar. Di sepanjang sejarah religius pria dan wanita sepenuhnya membaktikan diri dalam kegiatan katekese Gereja denga menjalankan karya yang sangat cocok da efektif. Dalam proses katekese yang tidak kalah penting peranannya adalah para katekis kaum awam, mereka lahir di lingkungan kaum Kristen atau suatu ketika masuk agama Kristen yang mendapat pendidikan dari para misionaris atau dari seorang katekis, kemudian membaktikan hidup mereka kepada katekese bagi anak-anak dan orang-orang dewasa di negeri mereka sendiri.

REFLEKSI

Dalam buku “penyelenggaraan katekese” saya dapat menemukan hal-hal pokok yang berkaitan denga tugas pelayanan yang akan saya lakukan yaitu pelayanan untuk pembinaan iman, baik untuk anak-anak, remaja, orang muda, orang tua, selain pelayanan iman yang dilakukan berdasarkan usia seseorang pelayanan juga dapat dilakukan untuk orang yang benar-benar harus mendapatkan perhatian khusus misalnya: orang miskin, orang cacat, orang yang terlantar, dan para katekumenat. Dalam buku ini saya juga dapa mengerti bahwa sang katekis sejati ialah Yesus Kristus, ia mewartakan Injil Tuhan dan juga mewartakan tentang dirinya sendiri, saya juga ingin mengikuti teladan Yesus Kristus yang selalu mewartakan Injil sepanjang hidup-Nya dan juga mati di kayu salib karena iman dan keyakinan-Nya.Sebagai seorang calon pewata sabda, saya juga mengetahui lewat buku ini, bahwa setiap apa yang kita bicarakan harus sesuai dengan apa yang akan kita lakukan dan semuanya harus seimbang dan seiring sejalan, seperti halnya Yesus Kristus yang mewartakan sabda sekaligus mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat dikatakan bahwa Yesus Kristuslah guru sejati dan melebihi dari segala guru, tidak seperti guru orang Yahudi yang hanya memberitakan tapi tidak dapat melaksanakannya sesuai dengan apa yang di katakan.

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

tugas pasda doa tentang pekerjaan

NAMA                     : THERESIA LEDA  MAMA

NIM                         : IK 2016 015

SEMESTER             : II (DUA)

MATA KULIAH     : PASTORAL DASAR

TEMA                      :  PEKERJAAN

 

 

 

Doa Permohonan

 

 

Doa Trinitaris :

 

Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus,  aku berdoa agar segala usaha dan karya ku yang kulakukan semasa hidupku selalu diberkati oleh dikau,aku juga berdoa agar segala kerja ku yang kulakukan dalam proses perkuliahan ku dan segala karya ku selalu Engkau berkati, aku juga mau berdoa untuk segala usaha dan kerja kedua orang tuaku, berkatilah kiranya segala usaha dan karya mereka, aku juga mau berdoa agar Engkau senantiasa memberi kelancaran dalam pekerjaan kedua orang tua ku, aku juga mau berdoa agar segala usaha dan kerjaku serta kerja kedua orang tuaku dapat membuahkan hasil baik dan bermanfaat bagi kamidan juga orang lain yang membutuhkan. Hanya ini Doa yang ku sampaikan kepada-Mu dengan perantaraan Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

 

 

Doa Kristologi :

 

Ya Yesus, Engkau telah bersabda, “siapa yang menabur dia pasti yang akan menuai.” Aku berlutut di hadapan-Mu dengan penuh iman dan kepercayaan akan janji-Mu. Aku datang untuk memohon kepada-Mu, berkatilah usaha dan kerja ayahku, berkatilah segala tanaman yang telah ia tanam, jadikanlah dia seperti penabur yang menabukan benih ditanah yang baik, serta lindungi dia dalam proses pekerjaannya agar dia dapat bekerja dengan baik, dan penuh semangat, serta jagalah aku dalam  kerjaku dalam kuliah ini serta jadikanlah aku pribadi yang bertanggungjawab atas segala pekerjaan dan perbuatanku. Aku juga ingin berdoa bagi orang yang masih mencari-cari pekerjaan, tabahkanlah mereka, dan tuntunlah mereka agar mereka dapat mendapatkan pekerjaan sesuai dengan apa yang mereka inginkan dan mereka harapkan   Tuhan Yesus, apapun keputusan-Mu terhadap permohonan-Ku, aku akan tetap menyembah-Mu, mengasihi-Mu, memuji dan melayani-Mu. Karena Engkaulah Tuhan dan pengentara kami. Amin

 

Doa Syukur

 

 

Doa Trinitaris :

 

Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus, kami bersyukur atas penyertaanmu sepanjang hari ini dan juga atas penyertaan-Mu atas hari yang telah berlalu. Aku ingin bersyukur atas segala hasil karya yang telah Engkau berikan kepada aku dan juga keluargaku, sehingga kami dapat memuji dan memuliakan Dikau, aku juga besyukur atas hasil panen yang telah Engkau berikan kepda kelurgaku, dan juga segala yang telah Engkau berikan kepadaku.  Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

 

Doa Kristologis :

 

Ya Yesus, aku mengucapkan syukur kepada-Mu untuk hari baru ini yang telah Kau anugerahkan bagi ku. Engkau telah melindungi ku selama semalam yang telah berlalu dan memberikan begitu banyak rezeki hingga saat ini. Aku bersyukur atas segala berkat yang telah Engkau berikan atas segala usaha dan kerjaku, dan kerja kedua orang tuaku, aku juga bersyukur atas segala perlindungan dan bimbinganmu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kedua orang tuaku dalam menjalankan segala aktivitas dan kerja kami.Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin

 

 

 

Doa Pujian

 

 

Doa Trinitaris :

 

Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, kami memuji nama-Mu dan keajaiban kasih-Mu yang Engkau nyatakan di dalam Kristus Putera-Mu yang telah wafat dan bangkit bagi kami. Terima Kasih menjadikan aku sebagai alasan Engkau memberkati lingkunganku, pekerjaanku dan komunitasku. Aku menghaturksn pujian kepada-Mu karena engaku telah memberikan kedua orang tuaku pekerjaan dan juga segala berkat dan rahmat-Mu yang telah memberkati segala usaha dan kerja mereka, dan juga pujian karena Engkau telah memberikan segala pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkan, dan juga memberkati segala usaha dan kerja mereka.Hanya ini Doa yang ku sampaikan kepadamu dengan perantaraan Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

 

Doa Kristologis :

 

Ya Yesus  yang Maha Kasih ,hati-Mu yang penuh cinta, sejak pagi ku serahkan bebanku sehari ini,tak percuma ku berharap pada-Mu. Engkau melimpahi aku dengan rahmat-Mu. Dan juga pujin ku haturkan kepada-Mu karena engaku telah meberikan kami pekerjaan dan memberkati segala usaha dan kerja kami, semoga segala pekerjaan kami selalu membuahkan hasil yang baik agar dapat bermanfaat bagi kami dan juga orang lain.Semoga di setiap denyutan hatiku selalu menyerukan nama-Mu, Ya hati Yesus bagi-Mu segalanya.  Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

TUGAS PASDA TENTANG DOA

NAMA       : THERESIA LEDA MAMA

NIM           : IK 2016 015

MK             : PASTORAL DASAR

TEMA DOA        : UJIAN DAN PANEN PADI

 

 

  1. UJIAN

 

TRINITARIS

 

Allah yang maha kuasa, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, puji dan syukur aku haturkan kepada-Mu, karena atas segala berkat dan perlindungan-Mu yang Engkau berikan kepadaku selama proses pembelajaran yang telah aku lewati. Sekarang saat aku untuk menjalani ujian, aku mohon kepada-Mu ya Bapa, berkatilah aku dengan Roh Kudus-Mu agar aku dalam menjalani ujian ini aku dapat tenang dan mengerjakan soal dengan baik, dan juga berikan aku semangat belajar yang cukup agar aku dapat mempelajari semua yang telah ku terima dari guru dengan baik, serta berikan berkat-Mu oada ujianku ini agar semua yang ku kerjakan dapat sesuai dengan kehendak-Mu, dan juga dapat memperoleh nilai yang baik, sehingga dapat membahagiakan diriku sendiri, orang tua, serta Dikau. Aku juga ingin berdoa bagi teman-teman dan sahabatku yang sebentar lagi akan mengikuti ujian sama dengan aku dan juga mereka yang berada di tempat yang jauh yang juga akan melaksanakan ujian, berkatilah kami semua sehingga kami dapat mengerjakan semua soal ujian denga baik dan benar. Nama-Mu ku puji kini dan sepanjang segala abad. Amin

 

 

 

KRISTOLOGI

 

Ya Yesus Kristus yang maha baik, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu karena atas berkat dan segala peyertaan-Mu kepadaku sehingga aku dapat melewati proses pembelajaran denga baik, sekaran aku datang kehadapan-Mu untuk memohon berkat Roh Kudus-Mu agar aku dalam menjalani ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan dapat berjalan denga baik dan sesuai dengan rencana dan kehendak-Mu, karuniakanlah Roh Kudus-Mu kepadaku agar aku dalam melaksanakan ujian nanti dapat konsentrasi dan dengan tekun mengerjakan semua soal dalam ujian nanti, aku jugaa mau berdoa untuk teman-temanku yang sebentar lagi, sama-sama akan menghadapi ujian, semoga kami semua Engkau berkati, sehingga dalam ujian ini kami dapat memperoleh hasil yang maksimal, sehingga dapat membahagiakan diri kami sendiri, kedua orang rua kami, serta Dikau. Engkau Yesus Tuhan dan pengentara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang abad. Amin

 

 

  1. PANEN PADI

TRINITARIS

 

Ya Allah Yang Maha Esa, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Puji dan syukur aku haturkan kepada-Mu atas berkat dan segala penyertaan-Mu yang telah Engkau berikan kepada kedua orang tuaku, dalam melaksanakan usaha mereka untuk bertani, sekarang semua usaha mereka telah memperoleh hasil yang baik, sekarang mereka sedang mempersiapkan untuk panen padi, aku mohon berkatilah panen padi yang akan dilaksanakan kedua orang tuaku agar semuanya dapat berjaln dengan lancar, dan berkatilah juga bulir-bulir padi yang akan dipanen kedua orang tuaku agar dapat berguna tidak hanya bagi keluarga kami tetapi juga bagi orang lain yang membutuhkan, aku juga ingin berdoa bagi orang yang belum mengalami seperti yang keluargaku alami, semoga mereka Engkau berkati dengan rahmat-Mu agar mereka dapat tekun bekerja dan mereka dapat percaya bahwa suatu saat nanti mereka dapat mendapat hasil usaha mereka. Nama-Mu ku puji kini dan sepanjang masa. Amin

 

KRISTOLOGI

 

Ya Yesus Kristus yang maha baik, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu atas berkat dan rahmat yang berlimpah yang Engkau berikan kepada kedua orang tuaku sehingga mereka dapat merasaka buah dari segalah jerih payah mereka, sehingga mereka dapat panen padi pada tahun ini, aku datang kepada-Mu pada saat ini ingin memohon berkat-Mu agar orang tuaku dapat melaksanakan panen ini dengan baik dan lancar, aku juga ingin memohon sudih kiranya Engkau memberkati padi yang akan dipanen oleh kedua orang tuaku, sehingga dapat berguna bagi orang lain yang berada disekitar mereka yang membutuhkan, aku juga ingin berdoa bagi orang-orang yang belum merasakan seperti apa yang kami rasakan, aku mohon kiranya Engkau selalu menyartai mereka dan memberkati segala usaha dan karya mereka. Engkaulah Tuhan dan pengentara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

TUGAS KETEKETIK UMUM YANG KE-3

NAMA    : THERESIA LEDA MAMA

NIM        :IK 2016 015

MK          : KATEKETIK UMUM

 

 

Enam Belas Dokumen Gereja Sesudah Konsili Vatikan II

  1. Kelompok Konstitusi
  2. Sacrosanctum Concilium ( Konstitusi tentang Liturgi Suci), adalah salah satu dokumen yang paling signifikan yang dibuat oleh Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini mendorong perubahan tata-liturgi Gereja agar benar-benar menjadi ungkapan iman Gereja keseluruhan. Didasari eklesiologi yang menekankan umat Allah, maka liturgi yang dikembangkan dokumen ini mendorong peran serta aktif seluruh jemaat. Tekanannya pada “perayaan” bukan sekedar “upacara”. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.147 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963.Seperti biasanya dengan dokumen-dokumen Katolik, nama dokumen ini, Sacrosanctum Concilium (Bahasa Latin untuk “Konsili Suci”) diambil dari kata-kata pertama yang terdapat dalam dokumen berbahasa Latin tersebut. Bagi pemahaman umat Katolik Indonesia, diutamakan nama Konstitusi tentang Liturgi Suci.
  3. Lumen Gentium atau Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, adalah salah satu dokumen utama Konsili Vatikan Kedua. Konstitusi ini diumumkan secara resmi oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964, setelah disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.151 berbanding 5.Ketika bermaksud mengundang Konsili Vatikan II pada tahun 1959, Paus Yohanes XXIII mencanangkan “aggiornamento” atau pembaruan Gereja, menyesuaikan diri dalam zaman baru, agar dapat memberi sumbangan yang efektif bagi pemecahan masalah-masalah modern (Konstitusi apostolik Humanae Salutis 1961). Sebelum Konsili dimulai dari para uskup sedunia diminta saran-saran lebih dulu, yang disusun menjadi berbagai  skema. Di dalam Konsili para uskup berdasarkan skema-skema yang sudah disusun berusaha mendiskusikan dan merumuskan pandangan dan pemahaman teologis mereka akan Gereja dalam terang Tradisi dan Kitab Suci. Hasilnya adalah Lumen Gentium, suatu dokumen tentang Gereja yang menunjukkan pergeseran dari paham yang sangat institusionalistis organisatoris kepada paham yang dinamis dan organis. Gereja dipahami sebagai Umat Allah, dan itu membuat cakrawala pemahaman akan esensi Gereja lebih luas dari batas yang kelihatan (Gereja Katolik Roma), sebab banyak juga unsur-unsur Gereja dilihat dan diakui berada di luar batas-batas itu (Lumen Gentium 8). Namun Gereja memandang diri terutama sebagai tanda dan sarana persatuan dan kesatuan, baik dengan Allah maupun dengan seluruh umat manusia (Lumen Gentium 1). Hal ini nantinya mendorong semangat ekumenis dengan gereja-gereja lain, bahkan dialog dan kerjasama dengan agama-agama lain, juga dengan kaum ateis. Pusat Gereja bukan lagi Roma atau Paus, tetapi Kristus di tengah-tengah umat dan Uskup sebagai gembalanya. Maka Lumen Gentium menekankan teologi Gereja setempat (keuskupan). Ditekankan juga kesetaraan semua anggota umat Allah di dalam martabatnya, sekalipun berbeda fungsi. Maka Gereja semakin dipahami sebagai umat Allah secara keseluruhan kendati tetap mempertahankan fungsi hirarki sebagai pemersatu. Dalam dokumen pembahasan tentang awam justru didahulukan daripada pembahasan tentang para religius. Dengan demikian Gereja di mana saja lebih peka pada persoalan-persoalan di sekelilingnya dan dapat segera menyampaikan sumbang-saran pemecahan.
  4. Dei Verbum atau Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi adalah salah satu dokumen utama dari Konsili Vatikan Kedua, yang memiliki pokok-pokok mendasar mengenai sumber ajaran dan tindakan Gereja. Dan sumber itu adalah wahyu ilahi atau penyingkapan diri Allah sendiri kepada manusia. Dalam Gereja Katolik wahyu ilahi itu diterima dari dua saluran: Tradisi pengajaran lisan para rasul dan kemudian setelah sebagian dari pengajaran itu dituliskan, Kitab Suci. Maka Gereja Katolik melalui dokumen Dei Verbum menyerukan keseimbangan perhatian pada kedua macam saluran wahyu ilahi: Tradisi dan Kitab Suci. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.344 berbanding 6, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Dei Verbum berarti Sabda Allah (dalam Bahasa Inggris:”Word of God”) diambil dari kata-kata pertama dokumen berbahasa Latin, sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah, pencipta dan Tuhan, dapat diketahui dengan akal budi manusia dari semua karya ciptaanNya (Katekismus Gereja Katolik no 47). Tetapi pengetahuan itu saja tidak menjelaskan “mengapa” dan “untuk apa”. Maka “Dalam kebaikan dan kebijaksanaanNya Allah berkenan mewahyukan diriNya dan memaklumkan rahasia kehendakNya” (Dei Verbum 2). Untuk itu Ia mengutus PuteraNya yang terkasih, Yesus Kristus dan Roh Kudus (Katekismus Gereja Katolik no. 50). Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4), maka “Kristus Tuhan…memerintahkan kepada para rasul, supaya Injil…mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta memberi ajaran kesusilaan” (Dei Verbum 7). Kehendak Allah itu dilaksanakan dalam dua cara: secara lisan (disebut Tradisi) oleh para rasul dan pengganti-penggantinya, dan kemudian secara tertulis, setelah “para rasul dan tokoh-tokoh rasuli, atas ilham Roh Kudus juga telah membukukan amanat keselamatan” (Dei Verbum 7). Pada Bab Kedua mengenai “Meneruskan Wahyu Ilahi”, Konstitusi ini menyatakan secara khusus kesetaraan peran Tradisi Suci dean Kitab Suci. Jadi Tradisi suci dan Kitab suci berhubungan erat sekali dan berpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama. Sebab Kitab suci itu pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi. Sedangkan oleh Tradisi suci sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia. Dengan demikian gereja menimba kepastian tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun Kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita-rasa kesalehan dan hormat yang sama (DV9).
  5. Gaudium et Spes atau Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini adalah dokumen puncak dari Konsili Vatikan Kedua. Konstitusi ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.307 berbanding 75, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 7 Desember 1965. Judul Gaudium et Spes atau Kegembiraan dan Harapan (dalam Bahasa Inggris “Joy and Hope”) diambil dari baris pertama dokumen ini, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya.
  6. Kelompok Dekrik (Pernyataan)
  7. Inter Mirifica atau Dekrit tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui para Bapa Konsili dalam pemungutan suara 1.960 berbanding 164, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963.Istilah “Komunikasi Sosial”, terlepas dari kegunaan umumnya, telah menjadi suatu istilah yang sering digunakan dalam dokumen-dokumen Gereja Katolik untuk media massa. Sebagai suatu istilah, “Komunikasi Sosial” memiliki keuntungan karena konotasinya yang luas, di mana seluruh komunikasi adalah bersifat sosial, namun belum tentu semua komunikasi itu bisa disebarluaskan kepada “massa”. Kedua istilah tersebut akhirnya dipergunakan sebagai istilah yang sama. Hari Komunikasi Sosial Sedunia diperkenalkan pertama kali oleh Konsili Vatikan Kedua untuk memberikan pesan tahunan Gereja kepada jemaatnya dan kepada seluruh dunia. Paus Yohanes Paulus II sangat sering menyatakan bahwa tanggung jawab dan tujuan positif dari Komunikasi Sosial tidak hanya ditanggung oleh seorang individu namun melalui pesan-pesan yang disampaikan dalam festival religius ini dan melalui dukungan Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial.
  8. Orientalium Ecclesiarum atau Dekrit tentang Gereja-Gereja Timur Katolik adalah salah satu dokumen terpendek dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.110 berbanding 39, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama Orientalium Ecclesiarum atau Gereja-Gereja Timur diambil dari baris pertama dokumen tersebut. Dokumen ini mengakui hak dari Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur untuk tetap mempertahankan tata liturgi mereka sendiri. Dokumen ini menjelaskan beberapa dari kekuasaan otonomi dari Gereja-Gereja Timur. Secara khusus, Patriark (atau Uskup Agung) dan Sinode memiliki wewenang untuk menetapkan eparkia-eparkia, mengangkat Uskup-Uskup dalam wilayah Patriarkalnya, wewenang legislatif untuk menetapkan hak-hak dan kewajiban Tahbisan yang lebih rendah (termasuk subdiakonat, dan untuk menetapkan tanggal perayaan hari Paska dalam ritus mereka. Lebih lanjut, mengukuhkan Sakramen Krisma, dengan menyatakan bahwa seluruh imam Ritus Timur memiliki wewenang untuk menerimakan sakramen ini dengan menggunakan Krisma yang diberkati oleh Patriark atau Uskup.
  9. Unitatis Redintegratio atau Dekrit tentang Ekumenisme (Persatuan Gereja) adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.137 berbanding 11, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964. Judul Unitatis Redintegratio atau Pemulihan Kesatuan diambil dari baris pertama dekrit tersebut sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Karena didorong oleh keinginan untuk mengembalikan kesatuan antara umat beriman, maka UR mengajak semua umat Katolik untuk mengambil bagian di dalam karya ekumenism dengan mengikuti gerakan Roh Kudus yang membawa semua umat beriman pada persatuan yang erat dengan Kristus.
  10. Christus Dominus atau Dekrit tentang Tugas Pastoral Para Uskup dalam Gereja adalah salah satu dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.319 berbanding 2, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama dokumen Christus Dominus atau Kristus Tuhan diambil dari baris pertama dokumen tersebut. CD berhubungan erat dengan LG bab III, tentang ketentuan kolese uskup dan peran utama Bapa Paus, dan para uskup yang menerima kepenuhan sakramen Tahbisan Suci. “Terutama pada zaman sekarang ini para Uskup tidak jarang tidak dapat menunaikan tugas mereka dengan baik dan berhasil, tanpa bersama Uskup-Uskup lainnya menjalin kesepakatan yang semakin utuh dan mengerahkan usaha secara makin terpadu. Konferensi-Konferensi Uskup, yang telah dibentuk di berbagai bangsa, menyajikan bukti-bukti yang cemerlang berupa kerasulan yang lebih subur. Maka Konsili suci ini memandang sangat berguna, bahwa dimana-mana para Uskup sebangsa atau sedaerah membentuk suatu himpunan, dan pada waktu-waktu tertentu berkumpul, untuk saling berbagi buah pancaran kebijaksanaan serta pengalaman mereka. Dengan demikian pertemuan gagasan-gagasan akan menumbuhkan perpaduan tenaga demi kesejahteraan umum Gereja-Gereja. (CD 37)”
  11. Perfectae Caritatis atau Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius adalah salah satu dokumen terpendek dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam pemungutan suara 2.321 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Otober 1965. Kata “Religius” dalam dokumen ini ditujukan untuk Ordo-Ordo Religius di lingkup Gereja Katolik Roma. PC menjabarkan pembaharuan dan penyesuaian hidup religius, dengan menekankan pentingnya penerapan nasihat-nasihat Injili: kemurnian, ketaatan dan kemiskinan. Sebagaimana umumnya dokumen-dokumen Gereja Katolik, nama dokumen ini Perfectæ Caritatis atau Cinta Kasih Sempurna diambil dari baris pertama dekrit tersebut. Dekrit Perfectæ Caritatis memiliki susunan sebagai: Pendahuluan Asas-asas umum untuk mengadakan pembaharuan yang sesuai Norma-norma praktis pembaharuan yang disesuaikan Mereka yang harus melaksanakan pembaharuan Unsur-unsur yang umum pada pelbagai bentuk hidup religius Hidup rohani harus diutamakan Tarekat-tarekat yang seutuhnya terarah kepada kontemplasi Tarekat-tarekat yang bertujuan kerasulan Kelestarian hidup monastik konventual Hidup religius kaum awam Serikat-serikat sekular Kemurnian Kemiskinan Ketaatan Hidup bersama Pingitan / klausura para rubiah Busana religius Pembinaan para anggota Pendirian tarekat-tarekat baru Bagaimana melestarikan, menyesuaiakan atau meninggalkan karya khusus tarekat Terakat-tarekat dan biara-biara yang mengalami kemerosotan Perserikatan antara tarekat-tarekat religius Konferensi para Pemimpin tinggi Panggilan religius Penutup
  12. Optatam Totius atau Dekrit tentang Pembinaan Imam, adalah salah satu dekrit dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.318 berbanding 3, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. OT menguraikan berbagai prinsip dasar pendidikan imam yang meneguhkan ketetapan-ketetapan yang telah diuji melalui praktek berabad-abad lamanya, dan mengintegrasikan ke dalam unsur-unsur baru yang selaras dengan ketetapan Konsili ini.
  13. Apostolicam Actuositatem atau Dekrit tentang Kerasulan Awam adalah dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.340 berbanding 2, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Judul Apostolicam Actuositatem atau Kegiatan Merasul (Dalam Bahasa Inggris “Apostolic Activity”) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. Dengan maksud memacu KEGIATAN MERASUL Umat Allah, Konsili suci penuh keprihatinan menyapa Umat beriman awam, yang perannya yang khas dan sungguh perlu dalam perutusan Gereja sudah diuraikan dilain tempat. Sebab kerasulan awam, yang bersumber pada panggilan kristiani mereka sendiri, tak pernah dapat tidak ada dalam Gereja. Betapa sukarela sifat gerakan semacam itu pada awal mula Gereja, dan betapa suburnya, dipaparkan dengan jelas oleh Kitab suci sendiri (lih. Kis 11:19-21; 18:26; Rom 16:1-16; Fip 4:3).
  14. Ad Gentes atau Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.394 berbanding 5, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. Judul Ad Gentes atau Kepada Para Bangsa (dalam Bahasa Inggris “To the Nations”) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. Ad Gentes memfokuskan pada faktor-faktor yang terlibat dalam karya misi. Dokumen ini memutuskan tidak memaksakan kebudayaan yang sama untuk setiap tempat di mana Gereja mengirimkan misi, melainkan mendorong para misionaris untuk hidup bersama dengan masyarakat ke mana mereka di utus, menyerap cara hidup dan kebudayaan mereka (AG9). Konsili menyatakan pula bahwa Gereja melarang keras jangan sampai ada orang yang dipaksa atau dengan siasat yang tidak pada tempatnya dibujuk atau dipikat untuk memeluk agama Kristen. Bahkan lebih lanjut menjelaskan agar hendaknya alasan-alasan untuk bertobat diselidiki, dan bila perlu dijernihkan (AG13). Juga didorong untuk melakukan kerja sama karya misi melalui perwakilan-perwakilan serta kerja sama dengan kelompok-kelompok dan organisasi lainnya di dalam tubuh Gereja Katolik maupun dengan denominasi lainnya (AG35-41).
  15. Presbyterorum Ordinis atau Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dekrit ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.390 berbanding 4, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 7 Desember 1965. Keluhuran TINGKAT PARA IMAM dalam Gereja sudah seringkali oleh Konsili suci ini diingatkan kepada segenap umat beriman. Akan tetapi karena dalam pembaharuan Gereja Kristus kepada Tingkat itu diserahkan peranan yang penting sekali dan semakin sulit, maka pada hemat kami berguna sekali untuk secara lebih luas dan lebih mendalam berbicara tentang para imam. Apa yang dikemukakan disini berlaku bagi semua imam, khususnya mereka yang melayani reksa pastoral, tetapi – dengan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan – juga bagi para imam religius. Sebab para imam, berkat tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari para Uskup, diangkat untuk melayani Kristus Guru, Imam dan Raja. Mereka ikut menunaikan pelayanan-Nya, yang bagi Gereja merupakan upaya untuk tiada hentinya dibangun dunia ini menjadi umat Allah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus. Oleh karena itu, supaya dalam situasi pastoral dan manusiawi sering sekali mengalami perubahan begitu mendalam, pelayanan mereka tetap berlangsung secara lebih efektif, dan kehidupan mereka lebih terpeliharaJudul Presbyterorum Ordinis atau Tingkat Para Imam (dalam Bahasa Inggris “Order of Priests”) diambil dari baris pertama dekrit tersebut sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai.

 

  1. KELOMPOK PERNYATAAN
  2. Gravissimum Educationis atau Pernyataan tentang Pendidikan Kristen adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.290 berbanding 35, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Judul Gravissimum Educationis atau Sangat Pentingnya Pendidikan, diambil dari baris pertama dokumen tersebut, sebagaimana umumnya judul dokumen Gereja Katolik dibuat. Pendidikan Kristiani bertujuan untuk membentuk keseluruhan pribadi seseorang dengan fokus utama pada pendidikan moral dan pembentukan hati nurani. Dengan demikian GE menekankan perhatian kepada martabat manusia.

 

  1. Nostra Aetate atau Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan Kristen, adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.221 berbanding 88, dan diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965. Judul Nostra Ætate atau Pada Zaman Kita (“In Our Time” dalam Bahasa Inggris) diambil dari baris pertama dokumen ini sebagaimana biasanya dokumen-dokumen Gereja Katolik dinamai. Pernyataan ini diawali dengan penjelasan mengenai semakin eratnya penyatuan dan hubungan-hubungan antar bangsa dan antar pelbagai bangsa berkembang serta satu asal dan tujuan akhir dari semua bangsa, yakni Allah. Dokumen ini mengungkapkan juga mengenai pertanyaan abadi yang telah ada di dalam pemikiran manusia sejak awal mulanya dan bagaimana berbagai tradisi keagamaan yang beraneka ragam telah berupaya untuk menjawabnya. Dokumen ini menyatakan jawaban-jawaban filosofis Agama Hindu dan Budha dan menyatakan dengan pasti: “Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang.” Bagian ketiga melanjutkan dengan pandangan Gereja Katolik yang menghargai umat Islam, dilanjutkan dengan mengungkapkan beberapa hal kesamaan antara Islam dengan Kristen dan Katolik: menyembah Allah satu-satunya, Allah yang hidup dan berkuasa, Penuh belas kasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, Yang telah bersabda kepada manusia; para Muslim menghormati Abraham dan Maria, dan bahwa mereka menghormati Yesus sebagai nabi dan bukan Allah. Sinode mendorong seluruh kaum Kristiani dan Muslim untuk melupakan pertikaian dan permusuhan dari masa lalu dan bekerja sama untuk membela dan mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang; nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan. Bagian keempat berbicara mengenai “ikatan rohani” antara Umat Perjanjian Baru (kaum Kristiani) dengan Umat Yahudi Keturunan Abraham. Dokumen menyatakan bahwa meskipun beberapa pemuka agama Yahudi dan para pengikut mereka telah mendesakkan kematian Kristus, namun kesalahan ini tidak dapat serta merta dibebankan sebagai kesalahan seluruh orang Yahudi (baik yang hidup ketika itu maupun sekarang). Lebih lanjut Konsili menyatakan bahwa “orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk”. Pernyataan ini juga menentang segala unjuk-rasa antisemitisme yang dilakukan kapan pun dan oleh siapa pun. Bagian kelima menjelaskan bahwa seluruh menusia diciptakan menurut citra kesamaan Allah, dan Gereja mengecam segala diskriminasi antara orang-orang, atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama. menghormati Yesus sebagai nabi dan bukan Allah. Sinode mendorong seluruh kaum Kristiani dan Muslim untuk melupakan pertikaian dan permusuhan dari masa lalu dan bekerja sama untuk membela dan mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang; nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan. Bagian keempat berbicara mengenai “ikatan rohani” antara Umat Perjanjian Baru (kaum Kristiani) dengan Umat Yahudi Keturunan Abraham. Dokumen menyatakan bahwa meskipun beberapa pemuka agama Yahudi dan para pengikut mereka telah mendesakkan kematian Kristus, namun kesalahan ini tidak dapat serta merta dibebankan sebagai kesalahan seluruh orang Yahudi (baik yang hidup ketika itu maupun sekarang). Lebih lanjut Konsili menyatakan bahwa “orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk”. Pernyataan ini juga menentang segala unjuk-rasa antisemitisme yang dilakukan kapan pun dan oleh siapa pun. Bagian kelima menjelaskan bahwa seluruh menusia diciptakan menurut citra kesamaan Allah, dan Gereja mengecam segala diskriminasi antara orang-orang, atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama
  2. Dignitatis Humanae atau Pernyataan tentang Kebebasan Beragama adalah salah satu dokumen penting dari Konsili Vatikan Kedua. Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.308 berbanding 70. Nama Dignitatis Humanæ (Martabat Pribadi Manusia; Of the Dignity of the Human Person) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai. MARTABAT PRIBADI MANUSIA semakin disadari oleh manusia zaman sekarang. Bertambahlah juga jumlah mereka yang menuntut, supaya dalam bertindak manusia sepenuhnya menggunakan pertimbangannya sendiri serta kebebasannya yang bertanggung jawab, bukannya terdorong oleh paksaan, melainkan karena menyadari tugasnya. Begitu pula mereka menuntut supaya wewenang pemerintah dibatasi secara yuridis, supaya batas-batas kebebasan yang sewajarnya baik pribadi maupun kelompok-kelompok jangan dipersempit. Dalam masyarakat manusia tuntutan kebebasan itu terutama menyangkut harta-nilai rohani manusia, dan teristimewa berkenaan dengan pengalaman agama secara bebas dalam masyarakat. Dengan saksama Konsili Vatikan ini mempertimbangkan aspirasi-aspirasi itu, dan bermaksud menyatakan betapa keinginan-keinginan itu selaras dengan kebenaran dan keadilan. Maka Konsili ini meneliti Tradisi serta ajaran suci Gereja, dan dari situ menggali harta baru, yang selalu serasi dengan khazanah yang sudah lama.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

KATEKETIK UMUM

 

NAMA                          : ANASTASIA  WINARTI MARDIASYAH

NIM                             : IK 2016 003

SEMESTER              :  II(Dua)

MATA KULIAH         : KATEKETIK UMUM

 

 

Konsili Vatikan II menghasilkan 16 Dokumen, terdiri dari 4 Konstitusi, 9 Dekret, dan 3 Pernyataan:

No. Nama Dokumen Jenis Mengenai Diumumkan pada
1 Sacrosanctum Concilium Konstitusi Liturgi Suci Sidang II (4 Desember 1963)
2 Inter Mirifica Dekret Upaya-Upaya Komunikasi Sosial Sidang II (4 Desember 1963)
3 Lumen Gentium Konstitusi Dogmatis Gereja Sidang III (21 November 1964)
4 Orientalium Ecclesiarum Dekret Gereja-Gereja Timur Katolik Sidang III (21 November 1964)
5 Unitatis Redintegratio Dekret Ekumenisme Sidang III (21 November 1964)
6 Christus Dominus Dekret Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja Sidang IV (28 Oktober 1965)
7 Perfectæ Caritatis Dekret Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius Sidang IV (28 Oktober 1965)
8 Optatam Totius Dekret Pembinaan Imam Sidang IV (28 Oktober 1965)
9 Gravissimum Educationis Pernyataan Pendidikan Kristen Sidang IV (28 Oktober 1965)
10 Nostra Ætate Pernyataan Hubungan Gereja dengan Agama-Agama bukan Kristiani Sidang IV (28 Oktober 1965)
11 Dei Verbum Konstitusi Dogmatis Wahyu Ilahi Sidang IV (18 November 1965)
12 Apostolicam Actuositatem Dekret Kerasulan Awam Sidang IV (18 November 1965)
13 Dignitatis Humanæ Pernyataan Kebebasan Beragama Sidang IV (7 Desember 1965)
14 Ad Gentes Dekret Kegiatan Misioner Gereja Sidang IV (7 Desember 1965)
15 Presbyterorum Ordinis Dekret Pelayanan dan Kehidupan para Imam Sidang IV (7 Desember 1965)
16 Gaudium et Spes Konstitusi Pastoral Gereja di Dunia Dewasa ini Sidang IV (7 Desember 1965)

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

Tugas Kateketik Umum tentang 16 Dokumen Konsili Vatikan II

 

NAMA                         : FITRIA

NIM                             : IK 2016 004

SEMESTER                 :  II(Dua)

MATA KULIAH         : KATEKETIK UMUM

 

 

Konsili Vatikan II menghasilkan 16 Dokumen, terdiri dari 4 Konstitusi, 9 Dekret, dan 3 Pernyataan:

No. Nama Dokumen Jenis Mengenai Diumumkan pada
1 Sacrosanctum Concilium Konstitusi Liturgi Suci Sidang II (4 Desember 1963)
2 Inter Mirifica Dekret Upaya-Upaya Komunikasi Sosial Sidang II (4 Desember 1963)
3 Lumen Gentium Konstitusi Dogmatis Gereja Sidang III (21 November 1964)
4 Orientalium Ecclesiarum Dekret Gereja-Gereja Timur Katolik Sidang III (21 November 1964)
5 Unitatis Redintegratio Dekret Ekumenisme Sidang III (21 November 1964)
6 Christus Dominus Dekret Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja Sidang IV (28 Oktober 1965)
7 Perfectæ Caritatis Dekret Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius Sidang IV (28 Oktober 1965)
8 Optatam Totius Dekret Pembinaan Imam Sidang IV (28 Oktober 1965)
9 Gravissimum Educationis Pernyataan Pendidikan Kristen Sidang IV (28 Oktober 1965)
10 Nostra Ætate Pernyataan Hubungan Gereja dengan Agama-Agama bukan Kristiani Sidang IV (28 Oktober 1965)
11 Dei Verbum Konstitusi Dogmatis Wahyu Ilahi Sidang IV (18 November 1965)
12 Apostolicam Actuositatem Dekret Kerasulan Awam Sidang IV (18 November 1965)
13 Dignitatis Humanæ Pernyataan Kebebasan Beragama Sidang IV (7 Desember 1965)
14 Ad Gentes Dekret Kegiatan Misioner Gereja Sidang IV (7 Desember 1965)
15 Presbyterorum Ordinis Dekret Pelayanan dan Kehidupan para Imam Sidang IV (7 Desember 1965)
16 Gaudium et Spes Konstitusi Pastoral Gereja di Dunia Dewasa ini Sidang IV (7 Desember 1965)

 

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

Tugas Kateketik Umum

 

 

NAMA                          : Anastasia Winarti Mardiasyah

NIM                             : IK 2016 003

SEMESTER                 :  II(Dua)

MATA KULIAH         : KATEKETIK UMUM

Konsili Vatikan II menghasilkan 16 Dokumen, terdiri dari 4 Konstitusi, 9 Dekret, dan 3 Pernyataan:

# Nama Dokumen Jenis Mengenai Diumumkan pada
1 Sacrosanctum Concilium Konstitusi Liturgi Suci Sidang II (4 Desember 1963)
2 Inter Mirifica Dekret Upaya-Upaya Komunikasi Sosial Sidang II (4 Desember 1963)
3 Lumen Gentium Konstitusi Dogmatis Gereja Sidang III (21 November 1964)
4 Orientalium Ecclesiarum Dekret Gereja-Gereja Timur Katolik Sidang III (21 November 1964)
5 Unitatis Redintegratio Dekret Ekumenisme Sidang III (21 November 1964)
6 Christus Dominus Dekret Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja Sidang IV (28 Oktober 1965)
7 Perfectæ Caritatis Dekret Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius Sidang IV (28 Oktober 1965)
8 Optatam Totius Dekret Pembinaan Imam Sidang IV (28 Oktober 1965)
9 Gravissimum Educationis Pernyataan Pendidikan Kristen Sidang IV (28 Oktober 1965)
10 Nostra Ætate Pernyataan Hubungan Gereja dengan Agama-Agama bukan Kristiani Sidang IV (28 Oktober 1965)
11 Dei Verbum Konstitusi Dogmatis Wahyu Ilahi Sidang IV (18 November 1965)
12 Apostolicam Actuositatem Dekret Kerasulan Awam Sidang IV (18 November 1965)
13 Dignitatis Humanæ Pernyataan Kebebasan Beragama Sidang IV (7 Desember 1965)
14 Ad Gentes Dekret Kegiatan Misioner Gereja Sidang IV (7 Desember 1965)
15 Presbyterorum Ordinis Dekret Pelayanan dan Kehidupan para Imam Sidang IV (7 Desember 1965)
16 Gaudium et Spes Konstitusi Pastoral Gereja di Dunia Dewasa ini Sidang IV (7 Desember 1965)
Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

TUGAS PASDA DOA PANEN PADI DAN UTS

Nama                           : ANASTASIA WINARTI MARDIANSYAH

NIM                            : IK 2016 003

Semester                      : II(Dua)

 

DOA UNTUK PERSIAPAN UJIAN

 

DOA TRINITARIS

Ya Allah Bapa Yang Maharahim pada kesempatan kali ini hamba bersyukur dengan sepenuh hati, karena engkau  selalu memberikan rahmat yang melimpah kepada kami umat-Mu.  Lebih-lebih pada saat ini, kami boleh mengikuti proses belajar selama beberapa tahun dengan baik. Sekarang ya Tuhan kami hendak melaksanakan ujian akhir semester. Kami mohon penyertaan dan bimbingan-Mu agar kami mampu mengikuti ujian dengan baik dan mampu menjawab soal dengan benar. Berilah kami kurnia Roh Kudus-Mu agar kami mampu belajar dengan baik dan lebih fokus. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin

DOA KRISTOLOGIS

Ya Yesus yang Mahakasih, terimakasih atas segala berkat dan limpahan rahmat-Mu atas diri kami. Sekarang Tuhan kami ingin melaksanakan ujian akhir kami. Kami mohon bantuan-Mu, agar kami mampu melaksanakan ujian ini dengan baik dan semoga apa yang telah kami pelajari  dapat kami tuangkan dalam proses ujian nanti. Semoga kami dapat menjawab soal dengan baik dan tepat sesuai dengan kehendak dan rencana-Mu. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin

 

 

 

 

 

DOA UNTUK UCAPAN SYUKUR ATAS HASIL PANENAN PADI

DOA TRINITARIS

Ya Allah Bapa Surgawi, kami mengucap syukur atas berkat dan karunia-Mu atas limpahan kasih-Mu. Ya Tuhan kami mohon berkat-Mu atas hasil panenan padi kami yang telah kami petik. Kami mohon semoga dengan panenan padi ini, kami mampu membagikan berkat kepada sesame kami dan dapat selalu mengucap syukur kepada-Mu.  . Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin

 

DOA KRISTOLOGIS

Ya Yesus Kristus Yang Mahabaik dan Mahakasih. Puji syukur atas segala limpahan kasih dan penyertaan-Mu sepanjang hidup kami. Pada saat ini, kami sedang mengumpulkan hasil panenan padi kami. Terimakasih Ya Tuhan karena berkat-Mulah kami mampu memperoleh hasil padi yang kami taman. Kami mohon, semoga dengan memetik hasil padi ini kami boleh menikmatinya bersama-sama dengan sesama kami, dan dapat selalu mengucap syukur kepada-Mu atas segala rezeki yang Engkau limpahkan kepada kami. Dan semoga hasil panenan padi ini dapat membawa berkat bagi sesama. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu ya Tuhan.Dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

PASDA, DOA TRINITARIS DAN KRISTOLOGIS TENTANG PANEN PADI DAN UJIAN

Nama                           : Fitria

NIM                            : IK 2016 004

Semester                      : II(Dua)

Mata Kuliah                : Pastoral Dasar

 

DOA MOHON PERSIAPAN DALAM UJIAN

DOA TRINITARIS

Ya Allah Bapa Yang Mahakuasa, puji syukur kami haturkan kepada-Mu atas segala rahmat dan kebaikan yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Lebih-lebih Engkau telah mendampingi dan menuntun kami sepanjang perjalanan kami dalam menempuh pendidikan kami. Kini kami akan menghadapi ujian. Kami mohon Ya Bapa, curahkanlah Roh Kudus-Mu atas diri kami dan kurniakanlah kebijaksanaan dalam diri kami, serta terangilah akal budi kami agar kami dapat melaksanakan ujian dengan baik dan dapat menjawab soal dengan baik dan benar sesuai dengan apa yang telah kami pelajari. Doa ini kami serahkan kedalam tangan-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin

 

DOA KRISTOLOGIS

Ya Yesus yang manis dan mahabaik, terimakasih atas segala berkat dan karunia yang telah Engkau berikan kepada kami. Sehingga pada hari ini kami boleh untuk tetap menghirup nafas segar. Ya Yesus yang baik, sekarang kami akan melaksanakan ujian akhir semester, kami mohon penyertaan-Mu dan bimbingan-Mu agar kami mampu mengikuti dan melaksanakan ujian dengan baik dan kami mohon curuhkanlah Roh Kudus-Mu atas diri kami agar kami mampu belajar dengan baik dan konsentrasi, sehingga kami mampu menjawab soal dengan baik sesuai dengan kehendak-Mu. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin

 

DOA UCAPAN SYUKUR  ATAS  HASIL  PANENAN PADI

 

DOA TRINITARIS

Ya Allah Bapa Yang Mahakudus, kami bersyukur atas segala limpahan kasih dan kebaikan-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari. Terlebih-lebih kami juga sangat bersyukur atas hasil panen padi yang telah kami dapatkan pada saat ini. Kiranya Engkau berkenan memberkati padi yang telah kami peroleh pada saat ini, agar  dapat bermanfaat bagi kami dan semua anggota keluarga kami serta juga bagi semua orang yang ikut menikmati hasilnya. Semoga dengan hasil panen padi ini, kami mampu untuk selalu mengucap syukur kepada-Mu dan mampu berbagi kepada sesame kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin

 

DOA KRISTOLOGIS

Ya Yesus Kristus Yang Mahabaik dan Mahakasih. Puji syukur atas segala limpahan kasih dan penyertaan-Mu sepanjang hidup kami. Pada saat ini, kami sedang mengumpulkan hasil panenan padi kami. Terimakasih Ya Tuhan karena berkat-Mulah kami mampu memperoleh hasil padi yang kami taman. Kami mohon, semoga dengan memetik hasil padi ini kami boleh menikmatinya bersama-sama dengan sesama kami, dan dapat selalu mengucap syukur kepada-Mu atas segala rezeki yang Engkau limpahkan kepada kami. Dan semoga hasil panenan padi ini dapat membawa berkat bagi sesama. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu ya Tuhan.Dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin

 

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

tugas pasda panen padi dan uts

NAMA : ALBERTA RANTI
NIM : IK 2016 002
SEMESTER : II (DUA).
TUGAS : PASTORAL DASAR.

“DOA PANEN PADI”
DOA TRINITARIS
Ya Allah Bapa yang Maha Rahim, aku bersyukur pada-Mu atas segala yang baik. Bimbinglah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk selalu mengucapkan syukur dan merenungkan Sabda-Mu. Dengan Daya Roh Kudus-Mu itu, bukalah telinga dan hati kami untuk mendengarkan Sabda-Mu. Terangilah budi dan hati kami untuk memahami Sabda-Mu. Jernihkanlah hasrat jiwa kami untuk meresapkan Sabda-Mu. Doronglah kehendak dan tekad kami, untuk mengamalkan Sabda-Mu dalam hidup dan perutusan kami sehari-hari. Sehingga kami dapat memperoleh hasil panenan padi yang melimpah untuk dapat kami nikmati bersama-sama dengan keluarga dan sanak saudara-saudari kami lainnya. Doa ini kami sampaikan dalam nama Tuhan Yesus dalam persekutuan Roh Kudus, Allah yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin
DOA KRISTOLOGIS
Tuhan Yesus Kristus terima kasih atas segala penyertaan-Mu sepanjang hidup kami pada hari ini. Sehingga kami dapat diberi kesehatan dan nafas kehidupan yang baru dalam sepanjang hidup kami. Dari hasil jerih payah yang kami taburkan dalam benih-benih padi, sudah kami peroleh dan kami nikmati bersama dengan sanak saudara-saudari kami lainnya. Semua ini berkat dan kasih ilahimu yang selalu menemani di setiap langkah hidup kami, setiap kehadiran-Mu membuat kami selalu merasa bahagia. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin

”DOA SAAT UJIAN UTS”
DOA TRINITARIS
Ya Allah Bapa yang Maha Kuasa atas segala rahmat panggilan yang kami terima dari-Mu. Engkau memahami kesulitan-kesulitan yang kami hadapi, Engkau juga memahami tekanan-tekanan yang sedang kami panggul di pundak kami. Kami mohon kepada-Mu, sudilah kiranya Engkau membimbing kami, ketika kami menjalani Ujian Tengah Semester pada hari ini, Sehingga kami dapat mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Bukalah pikiran kami, terangilah pikiran kami, dan anugerahkanlah konsentrasi yang penuh, sehingga kami dapat mengerjakannya sesuai dengan pengetahuan yang kami peroleh dari hasil belajar dan kami dapat membangun kerajaan-Mu dan demi kebaikan sesama kami. Doa ini kami sampaikan dalam nama Tuhan Yesus dalam persekutuan Roh Kudus, Allah yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin
DOA KRISTOLOGIS
Tuhan Yesus Kristus yang Maha Penyayang dan Maha Murah, hamba-Mu mengucapkan syukur atas segala rahmat kelimpahan dalam hari-hari yang telah Hamba lewati hingga pada saat ini. Bantulah Hamba dalam menghadapi Ujian Tengah Semester pada hari ini, berilah Hamba Rahmat Roh Kudus-Mu untuk dapat selalu membuka pikiran, benak-Ku, untuk memahami semua soal yang akan diberikan pada ku saat Ujian pada hari ini. Semua terang dalam kasih-Mu dapat hamba rasakan, dan dalam pertolongan dari Rahmat Panggilan untuk mencapai suatu puncak istimewa yang besar saat menjadi orang yang sukses. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin

Dipublikasi di Pastoral Dasar | Meninggalkan komentar

NAMA : ALBERTA RANTI
NIM : IK 2016 002
SEMESTER : II (DUA)
TUGAS : PASTORAL DASAR

1. DOA SYUKUR
• TRINITARIS
Ya Allah bapa yang Maha Rahim, akubersyukur pada-Mu atas segala yang baik dan indah yang Kau anugerahkan kepada keluargaku.Teristimewa, kali ini aku mengucap syukur karena seluruh keluargaku Kauberi kesehatan yang baik.Engkau tahu ya Bapa,bila tubuh tidak sehat, hamba tidak dapat bekerja,aku sendiri tidak dapat melayani keluargaku dan sesamaku tidak dapat mengembangkan diri secaramaksima, berkat kasih dan rahmat-Mu hamba tetap mengabdikepada-Mu. Doa ini kami sampaikan dalam namaTuhanYesus dalam persekutuan Roh Kudus, Allah yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin

• KRISTOLOGIS
TuhanYesusKristus, aku berdoa untuk sanak saudara dan orang lain yang menderita sakit. Semoga mereka tidak menjauh dari-Mu, sebaliknya menyadari kasih setiaMu sehingga mereka tetap berbahagia walaupun dalam keadaan sakit.
Dengan demikian, mereka justru dapat memberi kesaksian kepada dunia
Bahwa Engkaulah sumber harapan
yang tidak pernah padam.Demi Kristus Tuhan dan pengentara
kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin

2. DOA PERMOHONAN

• TRINITARIS
Allah Bapa yang MahaKuasa, apapunkeputusan-Mu terhadappermohonan-Ku, akuakantetapmenyembah-Mu, mengasihi-Mu, memujidanmelayani-Mu. TuhanYesus, berkenanlahmenerimadoakuinisebagaipenyerahandiriku yang sepenuhnyakepadakeputusanHati Kudus-Mu, yang sungguhkuingini agar bolehtergenapi di dalamdirikuselamanya.Demi YesusKristusTuhandanpengantara kami yang hidupdanberkuasa, bersamaDikaudalampersatuanRoh Kudus, Allah yang hidupdanberkuasakinidansepanjangmasa Amin.

• KRISTOLOGIS
Tuhan Yesus Kristus yang Murah hati dan berbelas kasih, kami berdoa untuk kesembuhan mereka yang sedang sakit.Jamahlah merekayaYesus Kristus aku memohon,berikanlah rahmat kesehatan dan berkatkesembuhan-Mu, berikan ketabahan menjalani hari-hari selama diasakit, biarlah semua ini semakin mendekatkannya kepada-Mu.Bimbinglah tangan para dokter yang menanganinya, berkatilah dan biarlah hanyatangan-Mu yang menyelamatkan mereka.Sebab engkaulah Tuhan dan pengentara kami kini dan sepanjang segalamasa. Amin

3. DOA PUJIAN

• TRINITARIS
Allah Bapa yang MahaMulia, kami sangat bersyukur dan selalu memanjatkan doa-doa ini kepada mu, atas segala rahmat dan belaskasih terhadap sepanjang hidupku pada hari ini.Sehinggahamba-Mu dapat berkumpul bersama teman-teman dan saudaralainnya.Ini semua berkat rahmat panggilan yang hamba dapat dari-Mu.Doaini kami sampaikan kedalam Tuhan kami YesusKristus yang bersatu dengan dikau dalampersataun Roh Kudus, Allah yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin

• KRISTOLOGIS
Ya,TuhanYesus Allah kami, kami berterimakasih atas segala kelimpah-Mu pada hari ini.Khusus-Nya keistimewaan di hari ini, hamba dapat mengenal kehidupan baru dan kehidupan yang berbaukeharuman mewangi dalam hidup ini.Ini semua adalah kasih karunia yang begitu luar biasa dalam jarak dan waktu.Kini kumemuji dan memuliakan mu untuk selama-lama-Nya. Amin

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

refleksi kelompok 1 kateketik umum

Kelompok :I
Aguseda merayu yoel
Alberta ranti
Anastia winarti

Refleksi
Yang kami pahami:Yesus adalah seorang Guru yang istimewa dalam hal mengajar umat awam,karena ia memiliki krakter dari setiap Guru yang ideal.
Yesus adalah sosok yang taat dan setia seumur hidup dan selalu akrab dengan seluruh umat
Yesus mempunyai pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab yang patut di tiru oleh seorang katekis.
Implikasi bagi kelompok kami menjadi seorang katekis harus mempunyai jiwa dan iman yang teguh,pemberani dan tegar dalam menghadapi berbagai macam persoalan yang di hadapi di tenggah umat,menjadi seorang katekis yang setia dan taat seperti Yesus Kristus sendiri.
Bagi kami orang yang mengajar dengan cara itu ia mempunyai dasar seperti Yesus kristus sendiri yang sangat khas untuk digelari menjadi seorang guru.tanpa ada dasar untuk menjadi seorang Guru itu sangatlah mustahil bagi kami.sebab tampa ada dasarnya tidak akan bisa untuk berkatekese kepada umat tentang ajaran Yesus Kristus.
Sebagai calon katekis kami belajar menjadi pribadi yang setia terhadap pengajaran Kristus agar kami dapat berkatekese tentang Yesus Kristus di tenggah umat.
Kami sebagai calon katekis wajib berusaha terus menerus,untuk melalui pengajaran serta tingkah lakunya menyampaikan ajaran dan kehidupan Yesus kepada umat katolik.setiap calon katekis hendaknya mampu menerapkan pada dirinya tentang sabda Yesus yang penuh rahasia.

Dipublikasi di Kateketik Umum | Meninggalkan komentar

Renungan 24 Maret 2018. Kabar Suka Cita. Roh Kudus layaknya Tabung Udara untuk Astronaut Ketika Berada di Luar Angkasa.

Tidak  terasa,  besok  adalah  hari  Minggu  Palma,  Minggu  Raya  Penghormatan  dan  Peringatan  atas  Kegemberiaan  Kita,  Yesus  Mengunjungi  Yerusalem.  Dari  kegembiraan  itu,  saya  kemudian  merujuk  menjadi  komtemplatif.  Kalau  dipikir-pikir,  bukankah  Yesus  selaku  Kristus,  adalah  kepala  Gereja;  adalah  sumber  iman  dan  kepercayaan  akan  adanya  keselamatan  bagi  kita.  Kemudian  maka  ada  Gereja,  dan  bukankah  Gereja  berarti   muncul  karena  adanya  Putra  dari  Roh  Kudus?  Maka  Gereja  juga  merupakan  buah  tangan  dari  Roh  Kudus.  Kemudian,  entah  kebetulan  atau  memang  benar  adalah  hasil  dari  mekanisme  misteri,  muncul  kesesuaian  bahwa  Roh  Kudus  mengemban  tugas  layaknya  wali  dan  Gereja  layaknya  anak  yang  diayomi  oleh  wali.  Roh  Kudus  seakan-akan,  atau  bisa  juga  memang  tepat,  menjadi  awal  dan  masa  sekarang  bagi  Gereja  serta  perkembangannya.  Hari  ini,  kita  Gereja  sejagat  merayakan  Kabar  Suka  Cita.  Tentu,  banyak  orang  melihat  kehadiran  Bunda  Maria  selaku  pemeran  utama  dan  bunda  Yesus  sebagai  fundamental  refleksi  untuk  Kabar  Suka  Cita.  Namun,  saya  ingin  Roh  Kudus  yang  sulit  saya  kenali  yang  menjadi  subyek  dalam  refleksi  saya  kali  ini.  Sebab,  Sama  halnya  dengan  Gereja  yang  satu  juga  lahir  dan  besar  karena  adanya  Kristus,  maka  itu  tidak  lepas  dari  campur  tangan  Roh  Kudus  yang  membesarkannya.  Walaupun  begitu,  mungkin  saya  sebagai  jiwa  ilmuwan  tidak  bisa  lepas  dari  pendasaran  ilmiah  argumentatif  untuk  menggapai  kompetensi  teologis.  Karena  itu,  saya  mengatakan  bahwa  saya  memang  sulit  mengenali  roh  kudus.  Pernyataan  saya  juga  sesuai  dengan  pemahaman  bersama  bahwa  kata  Roh  Kudus  (Holy  Spirit  dalam  bahasa  Inggris)  bukanlah  nama  melainkan  frasa  (istilah  yang  muncul  dari  gabungan  dua  kata  atau  lebih  yang  memiliki  arti  tunggal).  Menurut  Brumann,  2007,  kata  Spirit  berasal  dari  kata  Latin  Spiritus  yang  berarti  nafas.  Ada  juga   pendapat  bahwa  sebenarnya  dahulu  sekali,  kata  Spirit  adalah  kata  Ibrani  Rûach  yang  kemudian  melalui  Septuaginta  menjadi  kata  Latin  pneuma;  Kata  spirit  adalah  terjemahan  bahasa  Inggris  untuk  pneuma,  yang  bagaimanapun,  pneuma  juga  berarti  nafas  dalam  bahasa  Indonesia.  Meminjam  teologi  Islam  yang  anonim  dan  disampaikan  lisan  bagi  saya  pada  suatu  kesempatan  di  masa  lalu,  ahli  agama  Islam  juga  memandang  UDARA  sebagai  Ujud  Dari  A…  R…   Allah.  Artinya,  selama  kita  memiliki  udara  dalam  tubuh  kita  maka  kita  hidup,  dan  jika  tidak  maka  kita  mati  sebab  tidak  ada  udara/nafas  di  dalam  tubuh  kita.  Roh  Kudus  mungkin  memang  lembut  seperti  angin,  sehingga  bisa  selalu  dekat  dengan  kita  untuk  menopang  kita.  Maka  itu,  Hal  yang  ada  di  sekitar  kita,  bahkan  sebagaian  atau  seluruh  diri  kita  juga  adalah  berasal  dari  Roh  Kudus,  berarti  kita  adalah  milik  Roh  Kudus.  Kita  hendaknya  seperti  Maria  yang  selalu  taat  dan  tidak  banyak  berkomentar  tentang  ilmu  ini;  dan  seperti  orang  yang  hidup  tidak  pernah  melepaskan  diri  dari  lingkungan  dimanapun  dia  berada,  kita  juga  harus  menyerahkan  segenap  jiwa  raga  kita  untuk  Roh  Kudus.  Kemudian  sebagaimanapun  manusia  tidak  dapat  hidup  tanpa  udara,  yang  dapat  diilustrasikan  sebagai  astronaut  yang  selalu  membawa  tabung  udara  kemana-mana  ketika  berada  di  luar  angkasa,  kita  juga  hendaknya  selalu  menyertakan  Tuhan  dalam  setiap  tindak-tanduk  kita,  terlebih  untuk  hal-hal  yang  besar.  Sebagaimana  Maria  menerima  kabar  suka  cita  untuk  membagikan  kebahagiaan  bagi  semua  orang,  kita  juga  selaku  Gereja  diberi  kesempatan  untuk  hidup  menerima  dan  mewartakan  suka  cita  bagi  semua  orang.

Dipublikasi di renungan | Meninggalkan komentar

Renungan 23 Maret 2018

J-P

Jika  saya  boleh  jujur,  saya  pribadi  adalah  manusia  biasa,  yang  ingin  hidup  sederhana.  Saya  ingin  berjuang  hanya  di  saat  diperlukan  atau  jika  itu  memang  merupakan  minat  pribadi  saya.  Saya  tidak  menginginkan  impian  yang  muluk-muluk,  tidak  ingin  menjadi  mewah,  namun  satu  keinginan  yang  pasti  adalah,   bahwa  sebagai  manusia  yang  masih  hidup,  keinginan  tulus  untuk  menjadi  manusia  yang  berguna  pasti  ada  di  hati  saya.  Sebab,  walaupun  setiap  manusia  memiliki  kepribadian  yang  berbeda-beda,  semuanya  pasti  menginginkan  ketenteraman  dan  ingin  menghindari  pertentangan  sosial  yang  tidak  perlu.  Saya  pribadi  juga  ingin  membantu  terwujudnya  ketenteraman  bersama  itu.  Pagi  hari  ini,  saya  mulai  tidur  pukul  02.00  W.I.B.  karena  alasan  membuat  makalah,  kemudian  pada  pukul  04.00  W.I.B.  setelah  tidur  dua  jam,  saya  bangun  untuk  bersama  teman-teman  sekamar  melaksanakan  kerja  bakti  subuh.  Adapun  kami  sekamar  berjumlah  tiga  orang,  alias  teman  sekamar  saya  berjumlah  dua  orang.  Yang  satu  mudah  dan  bisa  diajak  kerja  bakti  subuh,  namun  yang  satunya  memilih  untuk  tidak  ikut  kerja  bakti  subuh  supaya  tetap  tidur.  Padahal,  sudah  seharusnyalah  jika  adalah  tugas  kami  sekamar,  maka  kami bertiga  semuanya  harus  ikut  melaksanakan  kerja  bakti  bersama-sama.  Saya  sendiri  orangnya  easy-going  dan  memilih  untuk  memaklumi  saja  satu  orang  yang  tidak  kerja  ini.  Kami  berdua  akhirnya  melaksanakan  seluruh  tugas  kerja  bakti  subuh  sampai  selesai.  Singkat  cerita,  setelah  saya  selesai  kerja  bakti  subuh,  saya  lalu  mengucek  pakaian  yang  sudah  saya  rendam  semalaman,  kemudian  saya  mandi  untuk  mengikuti  brevir  dan  misa.  Setelah  misa,  kami  seasrama  sarapan.  Ketika  sarapan  ada  hal  yang  mengejutkan  bagi  saya  yakni  bahwa  ternyata  didalam  komunitas  sarapan  itu,  teman  sekamar  saya  yang  melaksanakan  kerja  bakti  subuh  tiba-tiba  menegur  teman  sekamar  saya  yang  tidak  melaksanakan  kerja  bakti  subuh.  Teguran  itu  muncul  karena  karena  teman  yang  tidak  mengikuti  kerja  bakti  juga  tidak  datang  misa  namun  datang  menghadiri  sarapan.  Yang  mana  sebetulnya  sudah  diumumkan  bahwa  jika  tidak  mengikuti  aturan  kerja  bakti  subuh  maka  tidak  perlu  diberi  jatah  makan  selama  satu  hari.  Teguran  itu  tentu  membuat  satu  komunitas  sarapan  terkejut,  dan  orang  yang  diusut  menjadi  down  secara  mental.  Akhirnya  teman  sekamar  tadi  yang  tidak  melaksanakan  kerja  bakti  subuh  pergi  meninggalkan  ruangan  dalam  keadaan  sakit  hati.  Tanggapan  saya  atas  peristiwa  pagi  hari  ini,  sejujurnya  sungguh  terbagi  menjadi  dua.  Sisi  pemikir  saya  memilih  untuk  membela  teman  saya  yang  menegur,  karena  telah  mengucapkan  informasi  yang  tegas  dan  menjunjung  tinggi  etika  ketertiban  di  asrama.  Namun,  sisi  perasa  saya  juga  kasihan  kepada  teman  yang  sakit  hati  itu.  Kemudian  jika  dibahas-bahas,  meminjam  psikologi  typologi  maka  kejadian  ini  bisa  dijelaskan  secara  ilmiah  klinis  bahwa,  teman  saya  yang  telah  melaksanakan  kerja  bakti  adalah  dari  tipe  Judging  yaitu  tipe  orang  yang  teliti,  mengikuti  setiap  aktivitas  sesuai  dengan  rencana  atau  kerangka,  dan  tidak  akan  mau  memilih  untuk  melanggar  peraturan  karena  membenci  masa  depan  yang  tidak  tertib.  Sementara  teman  yang  tidak  melaksanakan  kerja  bakti  subuh  adalah  berasal  dari  tipe  Percieving  yakni  orang  yang  selalu  mengikuti  keinginan  hati,  tidak  memiliki  struktur  terrencana,  senang  untuk  bebas  dan  fleksibel  sehingga  mudah  menerima  perubahan-perubahan  instan.  Saya  ingin  mengatakan  bahwa  semua  orang  memang  memiliki  kepribadiannya  masing-masing,  dan  dengan  cara  masing-masing  mengusahakan  ketenteraman,  namun  harus  selalu  diingat  supaya  senantiasa  berintrospeksi.  Tidak  hanya  mereka  berdua,  terkhusus  yang  lalai  saja  yang  berintrospeksi,  melainkan  semua  orang  juga  harus  introspeksi,  atau  minimal  berrefleksi.  Sebab  tidak  ada  manusia  yang  sempurna.  Saya  juga  bukan  manusia  sempurna.  Kemudian,  setelah  saya  selesai  sarapan,  saya  mulai  menjemur  pakaian  yang  sudah  selesai  saya  kucek,  sesuatu  yang  melelahkan  namun  memuaskan.  Oh  iya,  untuk  lebih  memahami  Judging  vs  Percieving,  silahkan  lihat  sendiri  gambar  di  atas.  Trima  kasih.  Lalu,  untuk  hubungannya  dengan  Injil,  adalah  bahwa  manusia  memang  akan  senantiasa  muncul  saat-saatnya  tidak  bisa  selaras,  sehingga  memang  perlu  senantiasa  introspeksi.

Dipublikasi di renungan | Meninggalkan komentar

Renungan Harian. 23 Oktober 2017

IMG_20171023_103408_514

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Sekedar Berkarya

IMG_20171018_154724_877

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Renungan Harian. 18 Oktober 2017

IMG_20171018_150036_132

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Renungan Harian. 17 Oktober 2017

IMG_20171017_081137_396

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Perayaan Tahbisan Diakon

PERAYAAN EKARISTI TAHBISAN DIAKON FRATER BENYAMIN WEDU

 

Sabtu, 14 Oktober 2017, merupakan hari di mana kami akan berangkat ke Kuala Kurun untuk menghadiri perayaan Ekaristi Tahbisan Frater Benyamin di paroki Santo Arnoldus Jansen. Kegiatan pertama dimulai dengan persiapan berangkat. Yakobus, Pak Wil, Mas Tarno, Pak Pati, Sr. Rosa, Sr. Aplonia, dan satu orang suster SPC, berkumpul di Gereja Katedral Santa Maria untuk bersiap-siap. Pukul 09.00 WIB kami berangkat menggunakan mobil yang dikendarai oleh Mas Tarno. Tidak lupa juga kami berdoa di dalam mobil yang dipimpin oleh Sr. Aplonia supaya diberi karunia keselamatan dari Tuhan selama di perjalanan. Perjalanan yang dilalui cukup panjang menuju ke Kuala Kurun. Selama di mobil kami bersenda gurau bersama untuk menghilangkan jenuh.

Satu setengah jam kami berjalan, kini tibalah kami di stasi Sepang Kota. Rupanya umat di stasi tersebut telah menyambut kami dan para tamu lainnya dengan penuh suka-cita. Setelah bersalaman, umat pun mengajak kami untuk mengikuti ibadat pemberkatan benih di Gereja Katolik Santa Maria Sepang Kota.  Ibadat tersebut dipimpin oleh Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF. Setelah ibadat tersebut telah usai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari seorang bapak perwakilan tiga stasi di Sepang. Beliau mengucapkan terima kasih dan syukur kepada Bapak Uskup serta semua tamu yang berkenan hadir saat itu. Ibadat pemberkatan benih telah usai, selanjutnya umat mengajak semua tamu untuk makan siang bersama sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Kuala Kurun. Semua tamu pun telah kenyang setelah menyantap hidangan yang disajikan oleh umat. Semua tamu kembali melanjutkan perjalanan menuju Kuala Kurun.

Singkat waktu, Bapak Uskup serta semua tamu telah sampai di paroki Arnoldus Jansen Kuala Kurun. Bapak Uskup serta semua tamu disambut umat dengan penuh suka-cita melalui tarian khas Dayak. Setelah itu dilanjutkan dengan tarian Khas flores, yakni Ja’i. Bapak Uskup beserta seluruh tamu menuju ke pastoran dan bersalaman satu sama lain. Rupanya umat paroki Santo Arnoldus Jansen telah menyiapkan segalanya guna perayaan tahbisan besok. Mulai dari menghias altar, menyusun kursi, hingga berlatih koor, telah disiapkan dengan baik. Pastor Lusius Sari Uran, SVD menyampaikan sambutan kepada Bapak Uskup dan seluruh tamu yang telah hadir saat itu. Singkat waktu, Pastor Lusius, SVD membagikan tempat penginapan, yakni: ada yang menginap di rumah umat dan ada yang menginap di sebuah Lokmen Nusantara. Semua umat mengunjungi tempat penginapannya masing-masing dan bersiap-siap untuk santap malam pukul 19.00 WIB

Singkat waktu, pukul 17.54 WIB seluruh tamu kembali ke pastoran untuk menyantap makan malam. Setelah makan malam selesai, semua tamu bersenda gurau bersama di sekitar paroki. Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul 21.00 WIB dan sudah saatnya seluruh tamu kembali ke tempat penginapannya untuk beristirahat supaya esok dapat kembali segar dalam mengikuti perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon Frater Benyamin.

Minggu, 15 Oktober 2017, merupakan hari yang paling dinanti oleh semua tamu dan umat di paroki tersebut, teristimewa bagi Frater Benyamin yang hari ini akan ditahbiskan menjadi seorang Diakon. Seluruh pastor dan umat dari berbagai kabupaten dan stasi datang berbondong-bondong untuk mengikuti perayaan Tahbisan tersebut. Perayaan Ekaristi Tahbisan tersebut dimulai pukul 07.54 WIB dan dipimpin oleh Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF serta beberapa pastor dari berbagai kabupaten. Misa dimulai dengan sebuah perarakan yang diiringi oleh tarian Dayak. Setelah sampai di altar, petugas koor menyanyikan lagu Datang Pada Tuhan dari Madah Bakti no. 715. Singkat waktu, Bapak Uskup telah menyampaikan salam dan kata pengantar, hingga pernyataan tobat. Setelah Lagu Tuhan Kasihanilah Kami dan Kemuliaan telah dinyanyikan, Bapak Uskup membuka perayaan dengan sebuah doa.

Kini saatnya umat akan disegarkan dengan tiga bacaan. Bacaan pertama diambil dari Kitab Yesaya 25: 6-10a, yang mengisahkan tentang Allah yang kita nanti-nantikan supaya menyelamatkan kita. Bacaan kedua diambil dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi 1: 20c-24.27a, yang menceritakan tentang hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Bacaan Injil diambil dari Yohanes 15: 1-8, yang menceritakan tentang banyak orang yang dipanggil, namun sedikit yang dipilih.

Kini tibalah saat yang dinanti, yakni upacara Tahbisan Diakon. Upacara dimulai dengan penyerahan calon, yaitu orang tua dari Frater Benyamin yang telah berkenan untuk mengantar dan mempersembahkannya menerima tahbisan Diakon. Berikutnya adalah pemanggilan dan penyelidikan calon diakon. Dengan lantang Frater Benyamin menjawab “Saya Hadir”. Berikutnya adalah upacara janji selibat calon diakon. Di hadapan Bapak Uskup dan seluruh saksi yang hadir saat itu, Frater Benyamin mengucapkan janji dan bersumpah demi Allah dan demi Injil Suci. Berikutnya adalah janji setia Diakon, di mana di dalam janji setia tersebut, Frater diberikan beberapa pertanyaan dari Bapak Uskup. Setelah janji setia telah diucapkannya, kini Frater Benyamin melakukan bahasa tubuh, yakni tiarap seraya para umat menyanyikan Litani Kudus. Setelah Litani Kudus telah usai, penumpangan tangan pun dilakukan seraya Bapak Uskup mengucapkan doa tahbisan. Bapak Uskup mengenakan stola dan dalmatik kepada Frater Benyamin serta menyerahkan Injil kepada Frater Benyamin seraya berdoa. Kini, Frater Benyamin telah resmi menjadi seorang Diakon.

Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan doa umat. Doa umat yang disampaikan berupa: doa bagi Gereja Tubuh Kristus, doa bagi pemimpin negara, doa bagi para gembala umat, doa bagi diakon baru, doa bagi umat paroki, serta doa bagi kita semua. Singkat kegiatan, persiapan persembahan, doa Syukur Agung, Komuni, hingga pengutusan telah selesai dilaksanakan. Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon telah berakhir dengan diiringi tarian Ja’i sepanjang perarakan penutup dan ditutup dengan lagu Jadilah Saksi Kristus dari Madah Bakti no. 455. Setelah perayaan Ekaristi berakhir, para tamu beserta umat memberikan selamat kepada Diakon Benyamin. Diakon Benyamin kini mendapat tugas pelayanan di paroki Hati Kudus Yesus, Rantau Pulut. Selamat bagi Diakon Yohanes Benyamin Wedu yang telah ditahbiskan. Semoga selalu dilimpahi karunia semangat merasul yang luar biasa oleh Allah Bapa, supaya menjadi gembala umat yang setia dalam mengemban tugas pelayanan.

Dipublikasi di berita | Meninggalkan komentar

Renungan Harian. 16 Oktober 2017

IMG_20171016_082834_214

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Renungan Harian. 12 Oktober 2017

Renungan Harian. 12 Oktober 2017

 

Lukas 11: 5-13

Setiap hari kita selalu merenung di dalam hati. Apakah kita sudah puas atau bersyukur atas segala yang terjadi di dalam hidup kita? Terkadang kita merasa Tuhan tidak adil dan sulit untuk mengerti perasaan kita. Akan tetapi, melalui Injil hari ini, kita tersadar bahwa kita adalah manusia yang sulit untuk bersyukur. Kita sering merendahkan diri sendiri. Melalui bacaan hari ini kita diajak untuk lebih peka dalam menerima karunia Tuhan. Begitu banyak hal yang selama ini Tuhan berikan kepada kita. Jikalau kita memiliki sebuah masalah dan membutuhkan sesuatu, maka hendaknya kita memintanya. Akan tetapi, kita juga hendaknya tahu diri. Janganlah kita hanya meminta ini dan itu, namun tidak pernah memberikan bunga kasih kepada Tuhan. Janganlah juga kita hanya membuat prinsip, “Semua akan indah pada waktunya”. Akan tetapi, hendaknya kita buat prinsip, “siapa yang berusaha lebih baik, maka dia yang akan mendapatkan sesuatu yang indah di dalam kemenangan”.

Dipublikasi di renungan | Meninggalkan komentar