kateketik umum rangkuman

NAMA            :THERESIA LEDA MAMA

NIM                :IK 2016 015

MK                  :KATEKETIK UMUM

SEMESTER    :II (DUA)

 

 

BAB I

HANYA SATULAH GURU KITA: YESUS KRISTUS

 

Istilah “Kristosentrisme” (sifat berpusat Kristus). Sifat Kristosentris mencakup maksud: bukan untuk menyampaikan ajarannya sendiri, atau entah ajaran seorang guru lain, melainkan ajaran Yesus Kristus, kebenaran yang diajarkan-Nya, atau lebih cermat lagi: kebenaran yang tak lain adalah Dia sendiri. Maka harus dikatakan bahwa dalam katekese Kristus sendirilah, Sabda yang menjelma dan Putra Allah, yang diajarkan; segala sesuatu lainya diajarkan mengacu kepada-Nya. Ajaran itu bukan seperangkat kebenaran-kebenaran yang abstrak. Melainkan komunikasi Misteri Allah yang hidup. Pribadi yang mengajarkan  dalam Injil jauh lebih unggul daripada “guru-guru” di israel, dan hakekat ajaran-Nya dalam segalanya  melampaui ajaran mereka, karena ikatan yang unik antara apa yang dikatakan-Nya, apa yang diperbuat-Nya, dan siapa Dia itu sendiri. Dengan berbuat demikian , tidak melupakan, bahwa keagungan Kristus Sang Guru dan konsistensinya yang unik dan kemantapan ajaran-Nya, perumpamaan-perumpamaan serta argumentasi-Nya, tidak pernah dapat dipisahkan dari perihidup dan seluruh kenyataan-Nya sendiri. Maka seluruh perihidup Kristus merupakan pengajaran yang tak kunjung henti.

 

 

 

 

 

 

BAB II

SUATU PENGALAMAN SEUSAI GEREJA

 

Citra Kristus Sang  Guru termeteraikan dalam sanubari kelompok  Duabelas maupun para murid pertama, dan perintah “pergilah…..dan jadikanlah semua bangsa murid-murid-Ku, menggariskan perjalanan hidup mereka. Dalam Injil-Nya Santo Yohanes memberikan kesaksian tentang itu, ketika ia mencantumkan sabda Yesus: “aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya; tetapi aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah kudengar dari Bapa-Ku. Bukan mereka itulah yang memilih untuk mengikuti Yesus. Melainkan Yesus sendirilah yang memilih mereka, menghendaki meraka tingal bersama-Nya, bahkan mengangkat mereka sebelum Paska-Nya, supaya mereka pergi dan menghasilkan buah, dan supaya buah meraka lestari adanya. Para Rasul tidak lamban berbagi pelayanan mereka sebagai rasul dengan orang-orang lain. Kepada para pengganti meraka diturunkan tugas  mengajar. Mereka mempercayakan juga kepada para diakon sejak saat pengangkatan mereka. Gereja memandang katekese sebagai kewajiban suci dan hak yang tidak boleh diambil dari padanya. Ditilik dari sudut hak-hak manusiawi, setiap orang berhak mencari kebenaran keagamaan dan menganutnya dengan bebas, artinya: “tanpa paksaan dari pihak orang-orang prorangan atau kelompok-kelompok sosial atau kuasa manusiawi manapu juga.

 

BAB III

KATEKESE DALAM KEGIATAN PASTORAL DAN MISIONER GEREJA

Katekese merupaka pembinaan iman dan Evangelisasi adalah pewartaan terhadap semua orang baik umat yang belum memiliki kepercayaan, Katekese dan Evangelisasi merupaka suatu kegiatan pastoral. Ciri khas katekese, sebagai momen yng terbedakan dari pemakluman awal Injil yang menghantar kepada pertobatan, mempunyai sasaran rangkap, yakni mematangkan iman awal dan membina murid Kristus yang sejati melalui pengertian yang lebih mendalam dan lebih sistematis tentang pribadi atau amanat Tuhan Kita Yesus Kristus. Tujuan katekese adalah berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dari hari ke hari memekarkan menuju kepenuhan serta semakin memantapkan perihidup Kristen umat beriman, muda maupun tua. Kenyataan itu berarti: merangsang, pada taraf pengetahuan maupun penghayatan, pertumbuhan benih iman, yang ditaburkan oleh Roh Kudus melalui pewataan awal, yang dikaruniakan secara efektif melalui baptis. Dengan kata lain katekese ialah mengemangkan pengertian tentang misteri Kristus dalam cahaya firman Allah, sehingga seluruh pribadi manusia diresapi oleh firman itu.

 

BAB IV

WARTA GEMBIRA DIGALI DARI SUMBERNYA

Karena katekese merupakan suatu momen atau aspek dalam pewartaan Injil, isinya juga tidak dapat lain kecuali isi pewartaan Injil sendiri secara menyeluruh. Satu-satunya Amanat,- yakni Warta  Gembira Keselamatan, yang telah didengar sekali dan ratusa kali, dan telah diterima setulus hati, dalam katekese terus menerus didalami dan direfleksi dan studi sistematis, melalui kesadaran akan gema pantulannya dalam kehidupan pribadi seseorang, suatu kesadaran yang meminta komitmen yang semakin penuh dan dengan mengintegrasikannya dalam keseluruhan yang organis dan selaras, yakni perihidup Kristen dalam masyarakat dan dunia.Katekese selalu akan menggali isinya dari sumber hidup, yakni Sabda Allah, yang disalurkan dalam Tradisi dan Kitab Suci. Berbicara tentang Tradisi dan Kitab Suci sebagai sumber katekese berarti: meminta perhatian terhadap kenyataan, bahwa katekese harus diwarnai, dan diresapi oleh gagasan, semangat dan visi kitab suci serta Injil melalui kontak terus menerus dengan teksnya sendiri.

 

BAB V

ORANG PERLU MENGALAMI KATEKESE

Katekese pada zaman sekarang, dengan perhatian khas terhadap katekese untuk anak-anak dan kaum muda. Tidak ayal lagi, bertambahnya jumlah kaum muda ialah kenyataan yang membawa harapan, dan sekaligus mencantumkan kegelisahan bagi sebagian besar masyarakat masa kini. Suatu masa yang sering menentukan sekali ialah masa kanak-kanak menerima unsur-unsur pertama katekese dari orang tuanya dan lingkungan keluarga. Bagi anak, di sekolah dan di gereja, di lembaga-lembaga yang berhubungan dengan paroki atau reksa rohani sekolah Katolik atau sekolah negeri, tibalah saatnya memasuki kalangan sosial yang lebih luas, tetapi juga saat bagi katekese yang bertujuan memasukan anak secara organis ke dalam kehidupan Gereja. Selain anak-anak, yang perlu untuk menerima katekese secara utuh adalah orang muda, yang pada usia ini mereka masih mencari-cari jati diri, dan juga  masih mencari identitas diri, setelah remaja kemudian menyusul kaum muda dan juga orang dewasa dan orang yang lanjut usia. Selain berdasarkan usia katekese juga perlu diberikan untuk orang-orang yang berkebutuhan khusus misalnya: para penyandang cacar, orang-orang terlantar, orang-orang miskin, serta orang-orang yang dianggap sebagai katekumenat.

 

BAB VI

CARA DAN SARANA KATEKESE

Dari pengajaran lisan para rasul maupun surat-surat yang beredar di antara gereja-gereja, sehingga upaya-upaya yang paling modern, katekese tiada hentinya mencari cara maupun sarana yang paling cocok bagi perutusannya, didukung oleh peranserta aktif jemaat-jemaat dan atas desakan para gembala. Tentang peluang yang tersedia berkat media komunikasi dan media komunikasi sosial dan media komunikasi dalam kelompok: televisi, radio, media cetak, piringan hitam, rekaman tape, seluruh deretan media audio visual. Yang harus dipikirkan ialah pelbagai kesempatan yang berharga sekali, yang justru cocok untuk katekese, misalnya: ziarah keuskupan yang dipusatkan  pada beberapa tema yang dipilih dengan cermat berdasarkan kehidupan Kristus, santa Perawan Maria dan Para Kudus. Cara lain untuk berkatekese adalah lewat Homili yang merupakan bentuk katekese yang dilakukan oleh para imam dan biarawa dan biarawati, yang dilakukan pada saat perayaan Ekaristi, selain itu juga ada buku-buku tentang iman katolik atau buku kepustakaan katekis atau buku-buku yang seharusnya dipegang oleh calon pewarta sabda atau calon katekis, buku katekismus yang merupakan buku tentang ajaran-ajaran gereja yang dikelurkan oleh Magisterium gereja.

 

 

 

 

BAB VII

BERKATEKESE

Dalam berkatekese ada berbagai metode-metode yang sebaiknya digunakan dalam proses berkatekese, sehingga dalam berkatekese, apa yang kita sampaikan dapat dimengerti oleh pendengar. Umur dan perkembangan nalar orang Kristen, taraf kematangan rohaninya sebagai anggot Gereja, dan banyak kondisi pribadi lainnya meminta, agar katekese menggunakan metode-metode yang bermacam ragam untuk mencapai tujuannya yang khas, yakni pembinaan iman.  Pada tingkat yang lebih umum, keanekaan ini dibutuhkan juga untuk menanggapi lingkungan sosio-budaya, yang bagi Gereja menjadi gelanggang karya katekesenya.  Keanekaragaman metode yang digunakan itu menandakan  kehidupan dan  merupakan sumber daya. Berbagai metode yang menyangkut unsur-unsur devosi populer yang sah dalam pendidikan katekis. Serta dengan amanat Injil yang meraga dalam kebudayaan-kebudayaan, seorang katekis juga harus mengabdi perwahyuan dan pertobatan, serta menghafalkan berbagai isi pewartaan Yesus Kristus.

 

BAB VIII

KEGEMBIRAAN IMAN DALAM DUNIA YANG KACAU-BALAU

Kita hidup dalam dunia yang serba sulit:kegelisahan menyaksikan hasil-hasil ciptaan terbaik  manusia yang terbaik lolos daripadanya dan pemberontakan melawannya menimbulkan iklim ketidak-pastian. Didunia ini katekese wajib membantu umat Kristen demi kegembiraan mereka sendiri dan pengabdian kepada semua orang untuk – demi menjadi “terang” dan “garam”. Sudah pasti yang diperlukan yakni: supaya katekese meneguhkan mereka dalam jatidiri mereka, dan tiada hentinya harus memisahkan diri dari iklim keragu-raguan, ketidakpastian dan kejenuhan yang mengelilinginya. Konsekuensi dan kondisi sifat khas original jatidiri Kristen ialah perlunya pedagogi iman yang tidak kalah original pula. Ada kalanya muncul tantangan lebih rumit dari cara memahami iman sendiri. Aliran-aliran tertentu dalam falsafah masa kini, agaknya berpengaruh kuat atas beberapa arus teologi, dan melalui itu atas praktek pastoral, suka menekankan bahwa sikap manusiawi yang mendasar ialah: mencari yang ridak terbatas, suatu usaha yang tidak pernah mencapai sasaran.

 

 

BAB IX

YANG MENYANGKUT KITA SEMUA

Katekese merupakan suatu bentuk pengajaran iman Katolik yang merupaka tugas dari orang-orang yang diutus untuk katekese itu sendiri, seperti imam, diakon, biarawan-biarawati dan katekis, yang diinginkan ialah: menaburkan keberanian, pengharapan dan entusiasme yang berlimpah dihati sekian banyak orang yang bermacam-macam, yang diserahi tugas memberi pendidikan keagamaan dan latihan bagi kehidupan seturut Injil. Yang bertanggung jawab yang pertama berkaitan dengan urusan katekese atau pembinaan iman ialah, paus yang bersama dengan dan dalam semangat kolegialitas para Uskup, serta para imam. Selain itu banyak  tarekat religius pria dan wanita yang didirikan untuk menyelenggarakan pendidikan Kristen bagi anak-anak dan kaum muda, khususnya bagi mereka yang terlantar. Di sepanjang sejarah religius pria dan wanita sepenuhnya membaktikan diri dalam kegiatan katekese Gereja denga menjalankan karya yang sangat cocok da efektif. Dalam proses katekese yang tidak kalah penting peranannya adalah para katekis kaum awam, mereka lahir di lingkungan kaum Kristen atau suatu ketika masuk agama Kristen yang mendapat pendidikan dari para misionaris atau dari seorang katekis, kemudian membaktikan hidup mereka kepada katekese bagi anak-anak dan orang-orang dewasa di negeri mereka sendiri.

REFLEKSI

Dalam buku “penyelenggaraan katekese” saya dapat menemukan hal-hal pokok yang berkaitan denga tugas pelayanan yang akan saya lakukan yaitu pelayanan untuk pembinaan iman, baik untuk anak-anak, remaja, orang muda, orang tua, selain pelayanan iman yang dilakukan berdasarkan usia seseorang pelayanan juga dapat dilakukan untuk orang yang benar-benar harus mendapatkan perhatian khusus misalnya: orang miskin, orang cacat, orang yang terlantar, dan para katekumenat. Dalam buku ini saya juga dapa mengerti bahwa sang katekis sejati ialah Yesus Kristus, ia mewartakan Injil Tuhan dan juga mewartakan tentang dirinya sendiri, saya juga ingin mengikuti teladan Yesus Kristus yang selalu mewartakan Injil sepanjang hidup-Nya dan juga mati di kayu salib karena iman dan keyakinan-Nya.Sebagai seorang calon pewata sabda, saya juga mengetahui lewat buku ini, bahwa setiap apa yang kita bicarakan harus sesuai dengan apa yang akan kita lakukan dan semuanya harus seimbang dan seiring sejalan, seperti halnya Yesus Kristus yang mewartakan sabda sekaligus mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat dikatakan bahwa Yesus Kristuslah guru sejati dan melebihi dari segala guru, tidak seperti guru orang Yahudi yang hanya memberitakan tapi tidak dapat melaksanakannya sesuai dengan apa yang di katakan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kateketik Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s