Kateketik umum

 

NAMA                           : ANASTASIA WINARTI MARDIANSTAH                                                 NIM                               : IK 2016 003

SEMESTER                   : II(Dua)

MATA KULIAH           : KATEKETIK UMUM

BAB I

DARI KRISTUS PERWARTA INJIL

KEPADA GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL

Kesaksian dan perutusan Yesus

Kesaksian yang diberikan Tuhan mengenai diri-Nya sendiridan yang dikumpulkan bersama-sama oleh Santo Lukas dalam Injil-Nya “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah”-tak dapat diragukanlagi mempunyai Injil konsekuensi yang amat besar, sebab merupakan ringkasan seluruh perutusan Yesus “sebab untuk itulah Aku diutus”.

Dengan pergi dari kota satu ke kota yang lain, sambil mewartakan kepada kaum termiskin, yang kerap kali justru yang paling siapmenerima, kabar gembira mengenai terpenuhnya janji-janji dan Perjanjian yang diberikan Allah, itulah perutusan Yesus.

 

Yesus, penginjil pertama

Selama Sinode, para Uskup kerap kali menunjukkan kepada kebenaran ini: Yesus sendiri, Kabar Baik Allah. Merupakan penginjil pertama dan terbesar. Ia sangatlah sempurna, bahkan sampai bersedia mengurbankan hidup duniawi-Nya.

 

Mewartakan Kerajaan Allah

Sebagai seorang pewarta Injil, Kristus pertama-tama mewartakan suatu Kerajaan, Kerajaan Allah; dan hal ini begitu penting, sehingga bila dibandingkan segala sesuatu yang lain menjadi”sisa”, yang “ diberikan sebagai tambahan”. Hanya Kerajaanlah yang bersifat mutlak, dan menjadikan setiap hal lainnya bersifat relatif.

Pewartaan tentang penbusan yang membebaskan

Sebagai poros dan pusat Kabar Baik-Nya Kristus mewartakan penebusan. Kurnia besar yang berasal dari Allah ini merupakan pembebasan dari setiap hal yang menindas manusia tapi lebih-lebih pembebasan dari dosa dan kejahatan.

Dengan bayaran berupa usaha memikul salib

Kerajaan dan keselamatan ini, yang merupakan kata-kata kunci dalam pewartaan injil Yesus Kristus, tersedia bagi setiap manusia sebagai rahmat dan belas kasih. Lebih-lebih setiap individu memperolehnya melalui suatu pembaharuan batin yang menyeluruh, yang oleh Injil disebut metanoia. Metanoia adalah suatu pertobatan yang radikal, perubahan pikiran dan hati yang mendalam.

Dengan khotbah yang tak kenal lelah

Kristus melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan Allah ini melalui khotbah yang tak kenal lelah,tentang satu kata yang tak ada bandingnya.

Dengan tanda-tanda Injil

Orang sakit disembuhkan, air diubah menjadi anggur roti diperbanyak orang mati dihidupkan dan masih banyak yang lainnya. Melalui tanda-tanda inilah Yesus melaksanakan pewartaan-Nya.

Bagi suatu jemaat yang harus menerima pewartaan

Dan menyampaikan pewartaan.

Perintah yang diberikan kepada keduabelas Rasul untuk pergi ke luar dan mewartakan Injil juga berlaku untuk semua orang Kristen, meskipun dengan cara yang berbeda. Mereka yang telah menerima Kabar Baik dan telah dikumpulkan oleh-Nya dalam jemaat yang telah ditebus, dapat dan harus meneruskannya dan menyebarluaskan Injil.

Mewartakan injil: panggilan yang khas bagi Gereja

Gereja ada untuk mewartakan injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran kurnia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan Kematian dan Kebangkitan-nYa yang mulia.

Mata rantai yang timbale balik

antara Gereja dan Pewartaan injil

Setelah diutus dan diberi pewartaan Injil, maka Geraja sendiri mengutus para pewarta Injil. Gereja menerangkan kepada mereka pesan yang disampaikan. Gereja memberikan mereka tugas yang telah diterima sendiri oleh Gereja.  Di mana dalam menyampaikan Injil ini, mereka harus menyampaikannya dengan menjadi pelayan-pelayan dan dengan kesetiaan sepenuh-penuhnya.

Gereja tak terpisahkan dari Kristus

Demikian ada hubungan yang mendalam antara Kristus, Gereja dan pewarta Injil. Dalam masa Gereja di mana kita hidup di dalamnya,menjadi tugas Gerejalah untuk mewartakan Injil. Perintah ini tidak dapat terlaksanakan tanpa Gereja, apalagi bertentangan dengan Gereja.

 

BAB II

APAKAH EVANGELISASI ITU ?

Kompleksnya kegiatan mewartakan Injil

Di dalam Gereja untuk mewartakan Injil memang ada unsur-unsur tertentu dan segi-segi tertentu yang secara khusus harus ditekankan. Beberapa unsur dan segi tadi sedemikian penting sehingga ada suatu kecenderungan untuk mengidentikkan hal-hal tadi dengan kegiatan mewartakan Injil.

Pembaharuan umat manusia

Bagi Gereja, pengijilan(evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru: Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru”.

Dan segala lapisan manusia

Bagi Gereja yang menjadi soal bukan hanya mewartakan Injil dalam kawasan geografis yang lebih luas atau jumlah manusia yang lebih banyak, tapi juga bagaimanakah mempengaruhinya dan menjungkirbalikannya dengan kekuatan Injil.

Evangelisasi kebudayaan-kebudayaan

Perpisahan antara Injil dan kebudayaan tak dapat diragukan lagi merupakan suatu drama untuk zaman kita, seperti halnya untuk zamanzaman lain. Oleh karenanya setiap usaha harus dilakukan untuk menjamin penginjilan kebudayaan sepenuhnya, atau lebih tepat kebudayaan-kebudayaan. Kebudayaan-kebudayaan harus dilahirkan kembali dalam suatu pertemuan dengan Injil. Namun pertemuan ini tidak akan terjadi bila Injil tidak diwartakan.

Pentingnya kesaksian hidup

Lebih-lebih Injil harus diwartakan melalui kesaksian. Seorang Kristen yang di tengah-tengah masyarakat mereka sendiri., menunjukkan kemampuan mereka untuk memahami dan menerima, untuk membagi hidup dan nasibnya dengan orang lain, solidaritas mereka serta usaha mereka untuk melakukan semua hal yang luhur dan baik. Di samping itu, mereka dengan secara sederhana dan tidak terpengaruh, memancarkan iman mereka dalam nilai-nilai yang diluar nilai-nilai yang sedang berlaku.

Perlunya pewartaan yang eksplisit

Pewartaan ini-“Kerygma” , khotbah atau katekese menduduki tempat yang penting di dalam evangelisasi sehingga kerapkali menjadi sinonim dengannya; namun hal tadi hanyalah salah satu segi dari evangelisasi.

 

Supaya diterima dalam hidup dan diterima secara menjemaat

Dalam dinamisme penginjilan, seorang pribadi yang menerima Gereja sebagai Sabda yang menyelamatkan, biasanya menterjemahkannya dalam kegiatan-kegiatan sakramental berikut ini: tunduk kepada Gereja, menerima sakramen-sakramen, yang menampakkan  dan mendukung ketaatan  tadi melalui rahmat yang mereka berikan.

 

 

 

 

BAB III

ISI EVANGELISASI

Isi pokok dan unsur-unsur sekunder

Di dalam pesan yang disampaikan Gereja tentu ada banyak unsur-unsur yang sekunder. Penyajiannya sangat tergantung dari situasi-situasi yang berubah. Tetapi ada isi pokok, hakiki, subtansi yang hidup, yang tidak boleh diubah-ubah atau disangkal, karena secara serius pasti merubah hakikat evangelisasi itu sendiri.

Kesaksian yang diberikan mengenai kasih Bapa

Mewartakan Injil pertama-tama berarti memberikan kesaksian, secara sederhana dan langsung, mengenai Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus, dalam Roh Kudus. Memberikan kesaksian bahwa dalam Putera-Nya Allah telah mengasihi dunia-bahwa dalam Sabda-Nya Yang Menjadi Daging, Allah telah menciptakan semua hal dan telah memanggil umat manusia ke dalam hidup kekal.

Merupakan pokok pewartaan:

penebusan dalam Yesus Kristus

Suatu penebusan yang mengatasi segala batas iniagar mencapai kepenuhan dalam suatu persatuan dengan Yang Mutlak dan Yang Ilahi: suatu penebusan yang transendens dan eskatologi yang memang dimulai di dalam hidup sekarang ini tapi yang dipenuhi di keabadian.

Di bawah tanda harapan

Evangelisasi juga mencakup pewartaan tentang pengharapan akan janji-janji yang dibuat oleh Allah dalam Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus, pewartaan tentang kasih Allah kepada kita dan kasih kita kepada Allah. Evangelisasi juga mencakup pewwartaan tentang kasih persaudaraan terhadap semua orang -kemampuan untuk memberikan dan mengampuni, penyangkalan diri, membantu saudara dan saudari yang berasal dari kasih kepada Allah merupakan benih Injil.

 

Pesan yang menyentuh hidup sebagai keseluruhan

Pewartaan tentang hidup di dalam masyarakat, mengenai hidup internasional, perdamaian, keadilan dan perkembangan –suatu pesan  yang secara khusus bersemangat pada zaman sekarang ini mengenai pembebasan.

Sebuah pesan tentang pembebasan

Gereja, seperti yang dikatakan berulang kali oleh para Uskup, mempunyai kewajiban untuk mewartakan pembebasan jutaan umat manusia, kebanyakkan dari mereka itu adalah anak-anaknya sendiri. Gereja mempunyai tugas membantu lahirnya pembebasan ini, untuk memberikan kesaksian mengenai hal itu, untuk menjamin bahwa hal tadi lengkap. Semua hal ini bukanlah sesuatu yang asing bagi evangelisasi.

Yang perlu dihubungkan dengan kemajuan umat manusia

Evangelisasi dan kemajuan juga mencakup hubungan-hubungan yang sangat erat berhubungan dengan perintah Injil, yaitu cinta kasih.

Tanpa menguranginya atau mengaburkannya

Dengan sapaan yang sama seperti pada pembukaan Sinode, “perlunya menyatakan kembali dengan jelas tujuan yang khas keagamaan dari evangelisasi. Hal ini akan kehilangan alasannya untuk ada jika evangelisasi menyimpang dari poros keagamaan yang menuntut: Kerajaan Allah di atas segala hal lainnya, dalam arti teologis yang sepenuh-penuhnya.

Pembebasan manurut Injil

Pembebasan tersebut tidak boleh dibatasi hanya pada dimensi-dimensi yang semata-mata dan secara terbatas bersifat ekonomis., politis dan sosial atau hidup budaya. Pembebasan harus mencakup seluruh manusia, dalam segala seginya, selaras dan termasuk keterbukaannya terhadap yang mutlak, bahkan terhadap Yang Ilahi Yang Mutlak.

 

 

Yang berpusat pada Kerajaan Allah

Gereja menegaskan kembali bahwa dia harus lebih mengutamakan panggilan rohaninya dan menolak untuk mengganti pewartaan Kerajaan Allah dengan pewartaan mengenai bentuk-bentuk pembebasan manusiawi. Gereja bahkan menegaskan bahwa sumbangannya bagi pembebasan tidaklah lengkap bila ia mengabaikanpewartaan penebusan dalam Yesus Kristus.

Berdasar pada suatu konsep injil tentang manusia

Gereja punya keyakinan yang teguh bahwa semua pembebasan duniawi, semua pembebasan politik meskipun diusahakan untuk mencari pembenarannya dalam halaman ini atau itu dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, meskipun dinyatakan sebagai dasar ideologisnya dan norma-norma tindakannya data-data dan kesimpulan teologis-dalam dirinya mengandung benih yang menyangkal dirinya dan gagal untuk mencapai ideal yang dikemukakannya.

Melibatkan suatu pertobatan yang mutlak diperlukan

Gereja sadar bahwa struktur-struktur yang terbaik dan sistem-sistem yang paling ideal dengan cepat akan menjadi tidak manusiawi bila kecenderungan-kecenderungan yang kurang manusiawi dari hati manusia tidak disehatkan, jika mereka yang hidup dalam struktur-struktur ini atau mengaturnya tidak mengalami pertobatan hati dan pandangan.

Tidak menggunakan kekerasan

Kekerasan tidak sesuai dengan Injil, bahwa kekerasan bukanlah sesuatu yang bersifat kristiani. Bahwa perubahan-perubahan struktur yang mendadak atau berdasarkan kekerasan adalah suatu yang menipu, tidak efektif, dan tentu saja tidak sesuai dengan martabat manusia.

Sumbangan yang khas dari Gereja

Gereja selalu berusaha untuk memasukkan perjuangan Kristen bagi pembebasan di dalam rencana penebusan yang universal yang diwartakan sendiri oleh Gereja. Pembebasan yang diwartakan oleh evangelisasi dan disiapkannya adalah pembebasan yang diwartakan oleh Kristus sendiri dan diberikan-Nya kepada manusia dengan pengorbanan-Mu.

 

Kebebasan agama

Perlunya menjamin hak-hak asasi yang fundamental tidak dapat dipisahkan dari pembebasan yang benar, yang berhubungan erat dengan evangelisasi dan yang berubah untuk membuat struktur-struktur yang menjamin kebebasan manusia.

 

BAB IV

METODE-METODE EVANGELISASI

Mencari sarana-sarana yang cocok

Metode-metode evangelisasi bermacam-macam, sesuai dengan situasi waktu yang berbeda-beda, situasi tempat dan budaya dan karena itu menimbulkan tantangan tertentu terhadap kemampuan kita untuk menemukannya dan mengadaptasikannya.

Kesaksian hidup

Pertama-tama melalui langkah-laku hidupnya Gereja akan mewartakan Injil kepada dunia. Dengan kata lain dengan melalui kesaksian berupa kemiskinan dan sikap tidak melekat pada apa pun, sikap bebas terhadap para penguasa dunia ini, dengan secara ringkas, kesaksian kesucian.

Suatu khotbah yang hidup

Tak berlebihanlah menekankan perlunya dan pentingnya khotbah. Khotbah, pewartaan dengan memakai kata-kata mengenai suatu pesan, selalu harus ada. Sabda yang didengar menyebabkan orang percaya. Namun kata-kata ini juga harus dapat diwartakan melalui kesaksian hidup.

Liturgi Sabda

Kaum beriman yang berkumpul sebagai suatu Gereja Paskah, yang merayakan Tuhan yang hadir di tengah-tengah mereka, mengharapakan banyak dari khotbah. Mereka akan memperolehj manfaat yang besar darinya, asalkan khotbah tadi sederhana, singkat, langsung, selaras, dengan kebutuhan. Dan hendaknya juga secara mendalam bersumber pada ajaran Injil dan setia pada Kuasa Mengajar Gereja.

Katekese

Salah satu sarana evangelisasi yang tidak boleh diabaikan ialah pengajaran katekese. Pengajaran ini perlu diberikan untuk membentuk pola-pola hidup Kristen dan bukan hanya tetap tinggal berupa pengetahuan belaka. Dan metode-metode yang digunakan harus sesuai dengan usia, kebudayaan dan sikap pribadi-pribadi yang bersangkutan. Haruslah selalu diusahakan agar didalam ingatan, pikiran dan hati nurani mereka dapat tertanam kebenaran-kebenaran hakiki yang harus meresapi seluruh hidup mereka.

Menggunakan media masa

Dengan adanya media masa dapat memperluas wilayah di mana Sabda Allah dapat didengar, hamper tanpa batas. Dengan alat-alat media masa yang ada Kabar Baik dapat menjangkau jutaan manusia. Dengan ini pula Gereja menemukan penjabaran secara modern dan efektif mimbar. Berkat alat-alat ini Gereja berhasil berbicara kepada banyak orang.

Kontak pribadi yang tak dapat tidak harus ada

Bentuk penyampaian yang lain dari pribadi ke pribadi, tetap sah dan penting. Para imam membantu umat ketika umat jatuh. Dan selalu membantu umat dengan kemampuan  untuk membeda-bedakan dan kesediaan untuk selalu menolong.

Peranan sakramen-sakramen

Tidak pernah cukuplah hanya menekankan bahwa evangelisasi tidak hanya terdiri dari khotbah dan mengajarkan suatu doktrin. Karena evangelisasi harus menyentuh kehidupan: kehidupan kodrati, yang diberi suatu arti yang baru, berkat perspektir-perspektif injil yang diwahyukannya. Hidup adikodrati, bukan merupakan penyangkalan api kemurnian dan pengangkatan hidup kdrati. Peran evangelisasi justru untuk mendidik orang-orang di dalam iman sedemikian rupa, sehingga membimbing tiap-tiap individu Kristen untuk menghayati sakramen-sakramen sebagai sakramen-sakramen imandan bukannya untuk menerima sakramen-sakramen secara pasif tapi untuk benar berpartisipasi di dalam penerimaan sakramen-sakramen.

 

Kesalehan yang merakyat

Religiositas yang merakyat jmenyebabkan adanya kesadaran yang tajam terhadap sifat-sifat Allah yang mendalam: Kebapaan, penyelenggaraan Ilahi, kasih dan kehadiran-Nya yang terus-menerus. Juga hal tersebut melahirkan sikap-sikap batin, yang jarang-jarang Nampak ditempat lain, dalam kadar atau tingkat yang sama: Kesabaran, kesadaran akan adanya Salib dalam hidup sehari-hari, sikap lepas bebas, keterbukaan terhadap orang lain, Doevosi. Oleh karena segi-segi tadi, maka kami dengan senang hati menyebutkan “kesalehan yang merakyat” yaitu agama rakyat, umat dan bukannya religiositas, perasaan keagamaan.

 

BAB V

ORANG-ORANG YANG MENDAPATKAN MANFAAT

DARI EVANGELISASI

Ditujukan kepada setiap orang

Kata-kata Yesus yang terkahir dalam Injil Santo Markus memberikan sifat universal yang tanpa batas terhadap evangelisasi yang diserahkan oleh Tuhan kepda Para Rasul-Nya: “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”.

Meskipun adanya semua rintangan

Kendati pun ada perlawanan-perlawanan atau pertentangan dalam mewartakan Injil, Gereja tetap terus-menerus memperbaharui inspirasinya yang terdalam, yang datang kepada Gereja langsung dari Tuhan: ke seluruh dunia. Kepada segala makhluk. Sampai ke ujung-ujung bumi.! Gereja melakukan hal itu sekali lagi pada Sinode terakhir, sebagai suatu seruan untuk tidak membelenggu pewartaan Injil dengan membatasinya pada salah satu sector umat manusia  atau salah satu kelompok orang atau pada salah satu corak kebudayaan.

 

 

Pewartaan yang pertama kepada mereka yang jauh

Gereja melakukan pewartaan tentang Yesus yang pertama ini dengan suatu kegiatan kompleks dan beraneka macam, yang kadang-kadang disebut dengan istilah “ pre-evangelisasi”.

Pewartaan yang diperbaharui  kepada

suatu dunia yang tidak Kristen lagi

Pewartaan pertama-tama ditujukan lebih-lebih kepada mereka yang tidak pernah mendengar Kabar Baik Yesus, atau kepada anak-anak. Diperlukan  untuk orang-orang sederhana yang tentu mempunyai iman namun pengetahuan yang tidak sempurna mengenai dasar-dasar iman. Dibutuhkan kaum intelektual yang merasa perlu mengetahui Yesus Kristus dalam suatu cahaya yang berbeda dengan pengajaran yang mereka terima ketika mereka masih kanak-kanak, dan juga bagi banyak orang lainnya.

Agama-agama bukan Kristen

Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen. Gereja menghormati dan menghargai agama-agama nonkristen sebab merupakan ungkapan hidup dari jiwa kelompok besar umat manusia. Menghormati dan menghargai agama-agama lain bukan berarti bahwa Gereja tidak mau mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Melainkan bahwa Gereja berpendapat orang-orang tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus. Kekayaan dalam mana seluruh umat manusia dapat menemukan, secara penuh dan tak dapat diragukan lagi.

Dukungan untuk iman kaum beriman

Gereja tidak merasa dirinya terbebas dari kewajiban untuk juga memberikan perhatian secukupnya kepada mereka yang telah menerima iman dan yang telah berkenalan dengan Injil. Gereja berusaha untuk memperdalam, memperkokoh, memupuk dan membuat semakinmatang iman mereka yang telah disebut kaum beriman atau orang-orang yang percaya, agar supaya mereka menjadi semakin lebih beriman lagi.

 

Orang-orang yang tidak percaya

Ateisme yang berpusat pada manusia, tidak lagi  abstrak dan metafisik tapi pragmatis, sistematis dan militan. Bersamaan dengan sekularisme yang ateis ini, setiap hari, dengan bentuk yang bermacam-macam, kita berhadapan dengan suatu masyarakat yang konsumtif di mana mengejar kenikmatan merupakan suatu nilai tertinggi, begitu pula keinginan untuk berkuasa dan mendominasi, dan diskriminasi dalam segala bentuk: kecenderungan-kecenderungan yang kurang manusiawi dalam “Humanisme” ini.

Orang yang tidak menjalankan agamanya

Suasana yang kedua ialah berasal dari mereka yang tidak lagi menjalankan agamanya. Perlawanan dari orang-orang ateis dan orang-orang yang tidak beriman berupa penolakkan tertentu dan ketidakmampuan untuk menangkap tata-nilai baru., artinya baru dari dunia ini, dari kehidupan dan sejarah. Penolakkan dari kelompok kedua yaitu orang-orang yang tidak menjalankan agamnya, berupa sikap lamban dan sikap yang agak bermusuhan, yang berasal dari pribadi yang merasa bahwa dirinya termasuk anggota keluarga, yang menyatakan bahwa mereka mengetahui semuanya dan telah mencoba semuanya, namun tidak mau percaya lagi.

Pewartaan kepada orang banyak

Gereja sadar akan kewajibannya untuk mewartakan keselamatan kepada semua orang. Menyadari bahwa pesan Injil tidak dikhususkan untuk sekelompok kecil orang-orang yang telah menerima inisiasi. Gereja harus menyampaikan pesannya ke hati orang banyak, kepada jemaat-jemaat kaum beriman, yang kegiatannya dapat dan pasti menjangkau orang-orang lain.

“Komunitas Basis” gerejani

Komunitas-komunitas semacam ini, menurut cara mereka sendiri, dapat merupakan suatu perpanjangan pada tingkat spiritual dan religious-ibadat, pendalaman iman, kasih persaudaraan, kontak dengan para pastor- yang terjadi di jemaat yang kecil secara sosiologis, seperti misalnya desa dan lain-lain. Jemaat-jemaat ini akan merupakan tempat untuk evangelisasi, bermanfaat untuk jemaat-jemaat yang lebih besar, lebih-lebih Gereja-Gereja secara perorangan. Mereka akan menjadi suatu harapan bagi Gereja universal sejauh mereka:

  • Mereka mencari santapan mereka dalam Sabda Allah dan tidak membiarkan diri mereka dijerat oleh polarisasi politis atau ideology yang sedang menjadi mode.
  • Mereka menghindari godaan.
  • Mereka selalu teguh tetap melekat pada Gereja lokal di mana mereka masuk menjadi anggotanya.
  • Mereka memelihara kesatuan yang tulus dengan Para Pastor.
  • Mereka tidak pernah memandang diri mereka sebagai satu-satunya yang layak menerima evangelisasi dan satu-satunya pelaksana evangelisasi.
  • Mereka terus-menerus bertumbuh dalam kesadaran misioner.
  • Mereka memperlihatkan diri mereka bersikap universal dalam segala hal dan tidak pernah bersikap sektarian.

 

 

BAB VI

PEKERJAAN-PEKERJAAN EVANGELISASI

Gereja dalam keseluruhannya bersifat misioner

Gereja mewartakan Kerajaan Allah dan membangunnya, Gereja membangun dirinya di tengah-tengah dunia sebagi tanda dan alat Kerajaan ini yang sudah ada dan yang akan datang. Kegiatan missioner Kedua Belas Rasul: “Mereka mewartakan sabda kebenaran dan menghasilkan Gereja-gereja.

Suatu kegiatan gerejani

Pengamatan bahwa Gereja telah diutus dan diberi perintah untuk mewartakan Injil kepada dunia, hendaknya membangkitkan dalam diri kita dua keyakinan.

Yang pertama ialah: penginjilan adalah suatu kegiatan yang secara mendalam bersifat gerejani. Bila seorang pengkhotbah di temapat paling tersembunyi, seorang katekis, atau seorang pastor di tempat yang paling jauh, berkhotbah tentang Injil, mengumpulkan jemaatnya yang kecil bersama-sama atau melayani suatu sakramen, Merskipun ia sendirian, ia melakukan suatu kegiatan gerejani.

 

Perspektif Gereja Universal

Suatu Gereja yang universal, tanpa batas-batas atau garis-garis pemisah, kecuali yang berasal dari hati dan pikiran manusia yang penuh dosa.

Perspektif Gereja Setempat

Gereja universal karena panggilannya dan perutusannya, namun ketika Gereja meletakkan akar-akarnya di dalam bermacam-macam bidang budaya, sosial dan manusiawi, maka Gereja menggunakan ungkapan lahiriah dan penampakkan yang berbeda di tiap-tiap tempat di dunia ini.

Dengan begitu Gereja setempat yang dengan sengaja memisahkan diri dari Gereja universal akan kehilangan hubungan dengan rencana Allah dan akan dimiskinkan dalam dimensi gerejaninya.

Penyesuaian dan kesetiaan dalam ungkapan

Ada bahaya bahwa evangelisasi kehilangan pengaruhnya dan akan lenyap jika isinya dikosongkan atau diubah, dengan dalil untuk menterjamahkannya. Dengan kata lain bila orang mengurbankan kenyataan dan menghancurkan kesatuannya, tanpa mana tak mungkin ada sifat universal, karena muncul keinginan menyesuaikan suatu kenyataan universal dengan sautu situasi local.

Keterbukaan terhadap Gereja Universal

Jika  suatu Gereja setempat semakin terikat pada Gereja Universal dengan ikatan-ikatan yang kokoh dalam persatuan, cinta kasih dan kesetiaan, dalam sikap terbuka terhadap Magisterium Petrus, dalam kesatuan Lex orandi juga merupakan Lex Credendi, dalam keinginan untuk bersatu dengan Gereja-Gereja lain yang mewujudkan keseluruhan-maka Gereja semacam itu semakin mampu menterjemahkan harta kekayaan iman dalam ungkapan-ungkapan yang sah, yang bermacam-macam.

Harta iman yang tak mungkin berubah

Tugas untuk menjaga isi iman katolik yang tak berubah, yang oleh Tuhan diserahkan kepada para Rasul. Meskipun diterjemahkan ke dalam semua ungkapan-ungkapan, isinya tidak boleh dilemahkan atau dikurangi.

Tugas yang bermacam-macam

Oleh karena itu Gereja dipanggil untuk melakukan evangelisasi, namun di dalam Gereja ada bermacam-macam tugas evangelisasi yang harus dilaksanakan. Keanekaragaman pelayanan dalam kesatuan perutusan yang sama merupakan kekayaan dan keindahan dari evangelisasi. Pertama, tugas yang diberikan Yesus kepada Para Rasul yakni mewartakan Injil.

 

Pengganti Petrus

Kekuasaan yang penuh, tertinggi dan universal, yang diberikan Yesus kepada Wakil-wakil-Nya yakni salah satunya petrus, untuk memerintah secara Pastoral Gereja-Nya dengan demikian secara khusus dilaksanakan oleh Paus dalam kegiatan mewartakan dan menyuruh diwartakannya Kabar Baik tentang Penebusan.

Para Uskup dan Para Imam

Bersatu dengan para Uskup dalam pelayanan penginjilan dan bertanggung jawab karena suatu gelar khusus, ialah mereka yang karena tahbisan imamatnya “bertindak dalam pribadi Kristus”. Mereka adalah pendidik-pendidik umat Allah dalam iman dan pengkhotbah-pengkhotbah, pada saat yang sama sekaligus juga menjadi pelayan-pelayan Ekaristi dan Sakramen lainnya.

Kaum Rohaniwan-rohaniwati

Dalam pesrpektif ini dapat dilihat peranan dalam evangelisasi yang dimainkan oleh para rohaniwan-rohaniwati , yang menguduskan diri bagi doa, keheningan, laku tpa dan pengurbanan. Kegiatan missioner mereka dengan jelas tergantung pada hirarki dan harus dikoordinasikan dengan rencana pastoral yang diambil oleh hirarki. Mereka murah hati dan penuh usaha dan kerasulan.

Kaum Awam

Kaum awam, yang oleh panggilan khusus mereka ditempatkan ditengah-tengah dunia dan diberi tugas-tugas duniawi yang sangat beranekaragam, justru karena alas an-alasan tadi tentu melaksanakan suatu bentuk evangelisasi yang sangat khusus.

Bidang mereka di dalam kegiatan evangelisasi ialah dunia politik yang luas dan kompleks, bidang kemasyarakatan dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan seni, kehidupan internasional, bidang media massa.

Kaum kelurga

Dalam sebuah kelurga, semua anggota melakukan evangelisasi dan menerimannya. Orang tua tidak hanya mengkomunikasikan Injil kepada anak-anak mereka, tetapi  dari anak-anak mereka orangtua sendiri dapat menerima Injil yang sama, seperti yang dihayati secara mendalam oleh mereka.

Kaum muda

Kaum muda yang terlatih dalam iman dan doa, haruslah semakin menjadi rasul-rasul bagi kaum muada yang lain. Gereja sangat menghargai sumbangan mereka, dan kami sendiri telah kerap kali menyatakan kepercayaan kami yang penuh pada mereka.

Para pelayan yang bermacam-macam

Para pelayan akan merupakan suatu nilai pastoral yang riil sejauh mereka, dengan tetap menghormati secara mutlak kesatuan dan tunduk pada petunjuk-petunjuk pastor, yang bertanggung jawab mengenai kesatuan Gereja dan oleh karenanya juga merupakan para pembangun.

 

BAB VII

SEMANGAT EVANGELISASI

Seruan yang mendesak

Atas nama Tuhan Yesus Kristus, dan atas nama Rasul-Rasul Petrus dan Paulus, kami ingin mendorong mereka semua, yang berkat krima Roh Kudus dan berkat madat Gereja, menjadi penginjil-penginjil sejati agar suapay hidup sesuai dengan panggilan ini, untuk melakukannya tidak dengan diam karena ragu-ragu atau takut, dan untuk tidak mengabaikan kondisi-kondisi yang tidak hanya akan membuat evangelisasi menjadi mungkin, tetapi juga menjadi aktif dan berbuah. Diantara banyak hal, hal-hal inilah yang merupakan syarat mutlak, yang kami anggap penting untuk ditekankan.

Dibawah karya Roh Kudus

Justru di dalam “hiburan Roh Kudus” Gereja berkembang. Roh Kudus adalah jiwa Gereja. Dialah yang menerangkan kepada kaum beriman makna terdalam ajaran Yesus dan Misteri-Nya. Roh Kuduslah yang sekarang ini persis seperti pada awal Gereja, bertindak di dalam setiap penginjil yang membiarkan dirinya dikuasai dan dipimpin oleh Dia. Roh Kudus meletakkan dalam bibirnya kata-kata, yang orang itu dapat menemukannya sendiri, dan sekaligus Roh Kudus menyiapkan jiwa pendengar untuk terbuka dan siap menerima Kabar Baik dan Kerajaan yang sedang diwartakan.

Haruslah dikatakan bahwa Roh Kudus adalah pelaku utama evangelisasi.: Dialah yang mendorong tiap individu untuk mewartakan Injil, dan dialah yang dalam kesadaran hatinurati menyebabkan kata penebusan diterima dan dipahami. Tapi dengan cara yang sama dapat dikatakan bahwa Dialah tujuan evangelisasi: Dialah yang menggerakkan ciptaan baru, kemanusiaan baru, di mana evangelisasi merupakan hasilnya dengan kesatuan dalam keragaman itu, yang ingin dicapai oleh evangelisasi di dalam jemaat Kristen. Melalui Roh Kudus Injil meresapi jantung dunia, sebab Rohlah yang menyebabkan orang-orang dapat membeda-bedakan tanda-tanda zaman-tanda-tanda yang dikehendaki oleh Allah-yang diungkapkan oleh evangelisasi dan digunakan di dalam sejarah.

Saksi-saksi hidup, yang otentik

Dunia membutuhkan dan mengharapkan dari kita kesederhanaan hidup, semangat doa, kasih terhadap semua orang, lebih-lebih terhadap orang yang rendah dan miskin, ketaatan dan kerendahan hati, sikap lepas bebas dan pengorbanan diri. Tanp tanda kesucian ini, kata-kata kita akan sulit menyentuh hati orang-orang modern. Bahkan ada resiko akan menjadi sisa-sisa dan mandul.

Mencari kesatuan

Kepada kaum beriman dalam dunia katolik bahwa, sebelumsemua manusia dapat dibawa bersama-sama dan dipulihkan ke rahmat Allah Bapa kita, haruslah dibangun kembali persatuan antara merekayang berkat iman telah mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan belas kasih, yang telah membebaskan manusia dan mempersatukan mereka dala Roh Kudus mahacinta dan kebenaran.

Hamba-hamba kebenaran

Kita adalah gembala-gemla umat beriman, dan pengabdian pastoral kita mendorong untuk memelihara, menjaga, dan menyampaikan kebenaran, tak peduli pengurbana-pengurbanan yang terkandungdi dalamnya begitu banyak gembala yang mulia dan suci yang memberikan contoh pada kita untuk mencintai kebenaran.

Dijiwai oleh kasih

Karya evangelisasi mengandaikan di dalam diri pengjinjil ada suatu kasih yang semakin besar terhadap mereka yang diberi pewartaan Injil olehnya. Salah satu tanda kasih ialah keprihatinan untuk membangun Gereja.

Dengan semangat Para Orang Kudus

Kurangnya semangat dapat terlihat dari khayalan, kelelahan, sikap kompromi, kurang minat dan lebih-lebih tidak adanya sukacita dan kurang pengharapan. Kami mendorong semua orang yang mempunyai tugas untuk melakukan evangelisasi, selalu memupuk semangat rohaninya. Kita dapat meneladani semangat orang-orang Kudus dalam mewartakan Kabar Baik, seperti Santo Yohanes, Paulus dan sebagainnya.

 

REFLEKSI PRIBADI

Dengan merangkum buku yang berjudul “EVANGELII NUNTIANDI” (Mewartakan Injil) ini, saya banyak memperoleh pengetahuan bagaimana cara evangelisasi yang baik. Dan implikasinya bagi hidup saya, tentunya sangat besar sebab dengan pengetahuan yang saya dapat dari buku ini membuat saya semakin mudah untuk mendalami apa yang disebut dengan evangelisasi. Mewartakan Kerajaan Allah ditengah-tengah umat atau masyarakat secara lebih luas, di mana pada setiap individu atau kelompok memiliki suku, golongan, dan kebudayaan-kebudayaan tertentu yang berbeda-beda., tentunya tidak dapat kita satukan tanpa Kuasa dari Allah itu sendiri. Kita sebagai perpanjangan tangan Allah untuk mewartakan Kerajaan-Nya keseluruh dunia. Kita semua dipanggil menjadi pewarta Sabda. Maka dari itu untuk dapat menjadi pewarta Kabar Baik yang sesuai dengan teladan Yesus, maka kita harus mampu  memahami, mengerti dan menghayati pesan Sabda yang akan kita sampaikan keseluruh pelosok dunia itu terlebih dahulu barulah kita akan mampu berkatekese dan melaksanakan evangelisasi dengan baik. Sehingga apa yang kita wartakan dapat diterima dengan baik dan dapat membawa pendewasaan iman bagi banyak orang.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kateketik Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s