KATEKETIK UMUM. RINGKASAN BUKU EVANGELII NUNTIANDI

RANGKUMAN DARI BUKU:
EVENGELII NUNTIANDI
(MEWARTAKAN INJIL)

PENGANTAR

(Keterlibatan secara khusus terhadap Penginjilan) menggaris bawahi tentang suatu pelayanan yang diberikan kepada jemat Kristen dan juga kepada seluruh umat manusia dengan tujuan agar dapat meneguhkan hati mereka. Tugas tersebut kiranya bagi kita semua menjadi lebih mulia dan penting bila hal ini menyangkut soal memberikan dukungan kepada saudara-saudara dalam perutusan mereka sebagai penginjil-penginjil agar supaya, dalam masa sekarang ini yang tidak menentu dan penuh kekacauan, mereka dapat memuliakan. Tugas ini dengan cinta kasih yang semakin bertambah, dengan cinta kasih yang semakin bertambah,dengan penuh semangat dan sukacita.

BAB I
DARI KRISTUS PEWARTA INJIL KEPADA GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL

konten yang disampaikan dalam Bab I adalah “Yesus” adalah pernginjil pertama dan terbesar, Yesus sendirilah kabar baik, Yesus juga mewartakan kabar baik kepada semua orang teristimewa bagi mereka yang miskin dan terlantar, mnyembuhkan yang sakit. Menjadi pewarta Sabda tentunya ada saat tertentu mengalami kesulitan dan tantangan dalam mengahdapi sebuah pelayanan, namun ada satu hal yang perlu di perjuangkan adalah iman yang kokoh kuat kepada Kristus, akan memampukan setiap pewarta Sabda untuk terus melayani dan mewartakan Injil kepada orang banyak.

BAB II

APAKAH EVANGELISASI ITU?
Bagi Gereja, penginjilan (evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru . Hal penting yang harus diperhatikan adalah dalam evangelisasi kebudayaan manusia dan kebudayaan-kebudayaan (bukan hanya sebagai suatu perhiasan seperti menempelkan suatu kayu tipis, tapi secara vital mendalam dan tepat pada akar-akarnya), dalam arti yang seluas-luasnya yang digunakan oleh Gaudium et Spes ialah selalu memperhatikan pribadi manusia sebagai titik pangkal dan selalu kembali ke hubungan antara umat manusia dengan diri mereka dan hubungannya dengan Allah. Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Injil dihayati oleh manusia-manusia yang secara sangat mendalam terikat pada suatu kebudayaan. Orang yang telah menerima pewartaan Injil, ia juga kemudian mewartakan Injil kepada orang lain.

BAB III
ISI EVANGELISASI

Mewartakan Injil pertama-tama berarti memberikan kesaksian, secara sederhana dan langsung, mengenai Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus, dalam Roh kudus. Memeberikan kesaksian bahwa dalam Putera-Nya Allah telah mengasihi dunia- bahwa dalam Sabda-Nya yang menjadi daging, Allah menciptakan semua hal dan telah memanggil umat manusia ke dalam hidup yang kekal. Mungkin kesaksian mengenai Allah ini bagi banyak orang ialah Allah yang tidak dikenal, yang mereka sembah tanpa menyebut nama-Nya, atau yang mereka cari melalui suatu panggilan rahasia dari hati, pada saat mereka mengalami kekosongan semua berhala. Penginjilan juga selalu harus memuat-sebagai dasar, pusat dan sekaligus puncak dari dinamismenya-suatu pewartaan yang jelas, bahwa dalam Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit dari kematian, penebusan ditawarkan kepada segala manusia, sebagai suatu kurnia rahmat dan belaskasih Allah.

BAB IV
METODE-METODE EVANGELISASI

Metode yang sangat tepat dalam pelaksanaan Evangelisasi adalah memberikan kesaksian hidup baik lewat tutur sapa, maupun tindakan nyata, juga evangelisasi berupa Khotbah, Liturgi Sabda, Katekese, Sharing, peranan Sakramen-Sakramen.

BAB V
ORANG-ORANG YANG MENDAPAT MANFAAT DARI EVANGELISASI

Injil Markus mengatakan bahwa “ Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makluk”. Dalam tugas perutusan tentu saja ada banyak pengalaman indah yang dihadapi nanti yakni ada pengalaman menggembirakan, ada juga pengalaman menyedihkan misalnya seperti ketika mengajak umat untuk berdoa, ada yang acuh tak acuh, tidak dihargai, dan lain sebagainya. Kendati ada tantangan semacam itu, Gereja tetap bertahan untuk mewartakan kabar keselamatan kepada semua orang.
Pewartaan pertama-tama ditujukan kepada mereka yang tidak pernah mendengar Kabar baik Yesus, atau kepada anak-anak. Tetapi salah satu akibat dari situasi yang acapkali karena dekristianisasi pada zaman sekarang ini, ternyata juga sama perlunya bagi banyak orang yang telah dibaptis tapi hidup di luar kehidupan Kristen. Juga diperlukan untuk orang-orang sederhana yang tentu mempunyai iman namun pengetahuan yang tidak sempurna mengenai dasar-dasar iman. Dibutuhkan kaum intelektual yang merasa perlu menegetahui Yesus Kristus dalam suatu cahaya yang berbeda dengan pengajaran yang mereka masih kanak-kanak, dan juga bagi banyak orang lainnya.

BAB VI
PEKERJA-PEKERJA UNTUK EVANGELISASI

Konsili Vatikan Kedua memberikan suatu jawaban yang mengenai persoalan ini: Hal ini merupakan tugas Gereja agar supaya “ berdasarkan perintah ilahi, tetap ada kewajiban untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil kepada segala makluk”. Dan dalam teks lain “ seluruh Gereja adalah missioner, dan karya evangelisasi merupakan salah satu tugas mendasar dari Umat Allah.
Tugas para pekerja-pekerja Kristus yakni mewartakan kabar baik; seperti memberikan semangat kepada umat yang menderita, menolong sesama yang membutuhkan. Menjadi contoh dan teladan yang baik lewat setiap tugas dan pelayanan bagi sesama.

BAB VII
SEMANGAT EVANGELISASI

Roh Kudus adalah pelaku utama evangelisasi: dialah yang mendorong tiap individu untuk mewartakan Injil, dan Dialah yang dalam kesadaran hati nurani menyebabkan kata penebusan diterima dan dipahami. Tapi dengan cara yang sama dapat dikatakan bahwa Dialah tujuan evangelisasi: Dialah yang menggerakan ciptaan baru, kemanusiaan baru, di mana evangelisasi merupakan hasilnya, dengan kesatuan dalam keanekaragaman itu, yang ingin dicapai oleh evangelisasi di dalam jemaat Kristen. Melalui Roh Kudus Injil meresapi jantung dunia, sebab Rohlah yang meyebabkan orang-orang dapat membeda-bedakan tanda-tanda zaman, tanda-tanda yang dikehendaki oleh Allah yang diungkapkan oleh evangelisasi dan digunakan di dalam sejarah.
Semangat evangelisasi memberikan pelayanan yang dijiwai oleh kasih yang tulus kepada sesama yang dijumpai dan dilayani.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kateketik Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s