rangkuman buku evangelii nuntiandi

NAMA       : THERESIA LEDA MAMA

NIM           : IK 2016 015

MK             : KATEKETIK UMUM

 

 

 

EVANGELII NUNTIANDI

(MEWARTAKAN INJIL)

 

 

BAB I

DARI KRISTUS PEWARTA INJIL

KEPADA GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL

 

  1. Kesaksian dan Perutusan Yesus

Kesaksian yang diberikan Tuhan mengenai diri-Nya sendiri dan yang dikumpulkan bersama-sama oleh santo Lukas dan Injilnya “Aku harus memberitakan Injil kerajaan Allah”. Dengan pergi dari satu kota ke kota lain, sambil mewartakan kepada kaum termiskin, yang kerap kali justru paling siap menerima, kabar baik mengenai terpenuhinya janji-janji dan perjanjian yang diberikan Allah, itulah perutasan Yesus. Yesus mengatakan waktu itulah Ia telah diutus Bapa. Dan segala segi dari misteri-Nya  merupakan unsur-unsur dalam kegiatan penginjilan-Nya. Segi misteri-Nya ialah Penjelmaan itu sendiri, mukjizat-mukjizat-Nya, ajaran-Nya, berkumpulnya para murud-Nya, perutusan dua belas murid-Nya, perutusan dua belas Murid, Salib dan Kebangkitan, kehadiran-Nya yang tetap di tengah-tengah murid-murid-Nya.

  1. Yesus, Penginjil Pertama

Selama Sinode, para Uskup kerap kali menunjukan kepada kebenaran ini: Yesus sendiri kabar baik Allah, merupakan penginjil Pertama dan Terbesar. Ia sangatlah sempurna, bahkan sampai mengurbankan hidup duniawi-Nya.

  1. Mewartakan Kerajaan Allah

Sebagai seorang pewarta Injil, Kristus pertama-tama mewartakan suatu kerajaan, Kerajaan Allah; dan hal ini begitu penting, sehingga bila dibandingkan dengan segala sesuatu yang lain menjadi “sisa”, yang “diberikan sebagai tambahan”. Hanya Kerajaanlah yang bersifat mutlak, dan menjadikan setiap hal lainnya bersifat relatif. Tuhan dengan senang hati menggambarkan dengan banyak cara kebahagiaan masuk kedalam  kerajaan ini (suatu kebahagiaan yang bersifat paradoks yang terdiri dari hal-hal yang ditolak oleh dunia). Juga digambarkan-Nya tuntunan Kerajaan dan “Magna Charta” Kerajaan itu, pewarta-pewarta kerajaan, misteri-misteri Kerajaan, anak-anak Kerajaan, kesiapan dan kesetiaan yang dari siapa pun yang menantikan yang pasti dari Kerajaan itu.

 

 

  1. Pewartaan tentang Penebusan yang membebaskan

Sebagai poros dan pusat kabar baik-Nya Kristus mewartakan penebusan. Kurnia besar yang berasal  dari setiap hal menindas manusia tetapi lebih-lebih pembebasan daro dosa dan kesalahan.

  1. Dengan bayaran berupa usaha memikul salib

Kerajaan dan keselamatan ini, yang merupakan kata-kata kunci dalam pewartaan injil Yesus Kristus, tersedia bagi setiap manusia sebagai rahmat dan belas kasih. Namun pada saat yang sama tiap-tiap individu harus memperolehnya dengan sebuah perjuangan, sebab hal itu direbut dengan kekerasan, demikian kata Tuhan, melalui jerih-payah dan penderitaan, melalui hidup yang dihayati sesuai dengan Injil, melalui penyangkalan dan salib, melalui semangat Sabda Bahagia. Tapi lebih-lebih setiap individu memperolehnya malalui suatu pembaharuan batin yang menyeluruh, yang oleh Injil disebut metanoia. Metanoia  ialah suatu pertobatan yang radikal, perubahan pikirn dan hati yang mendalam.

  1. Dengan khotbah yang tak kenal lelah

Kristus melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan Allah ini melalui khotbah yang tak kenal lelah, tentang suatu kata yang tak ada bandingannya, demikian akan dikatakan oleh orang-orang: “suatu ajaran yang baru, dan dengan suatu wibawa di belakangnya”. Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya. “Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu”. Kata-kata-Nya mengungkapkan rahasia Allah, rencana-Nya, dan janji-Nya, dan oleh karenanya merubah hati manusia dan nasibnya.

  1. Dengan tanda-tanda injili

Tetapi Kristus juga melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan Allah dengan banyak tanda yang tak terhitung jumlahnya, yang membuat heran banyak orang dan sekaligus juga menarik mereka kepada-Nya untuk mendengarkan Dia, melihat Dia, dan membiarkan diri mereka diubah oleh-Nya. Dia melaksanakan pewahyua-Nya, menggenapinya, dan meneguhkannya dengan seluruh perwahyuan yang telah Ia lakukan mengenai diri-Nya, dengan kata-kata dan perbuatan-perbuatan, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat, dan lebih-lebih lagi dengan kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan dengan mengutus Roh Kebenaran.

 

 

 

  1. Bagi suatu jemaat yang harus menerima pewartaan dan menyampaikan pewartaan

Mereka yang denga tulus menerima Kabar Baik, berkat daya yang berasal dari penerimaan ini dan iman yang telah mereka miliki, kemudian berkumpul bersama atas nama Yesus untuk bersama-sama mencari kerajaan, dan membangu serta menghayati. Mereka membentuk suatu jemaat yang pada gilirannya juga mewartakan injil.

  1. Mewartakan Injil: panggilan khas bagi gereja

Gereja mempunyai kesadaran yang hidup mengenai kenyataan bahwa kata-kata Sang Penebus,”Aku harus memberitahkan Injil Kerajaan Allah”, berlaku jga sebanrnya untuk Gereja. Mewrtakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan khas bagi Gereja, merupakan identitas yang terdalam. Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran kurnia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan kematian dan Kebangkitan-Nya yang mulia.

  1. Mata rantai yang timbal balik antara Gereja dan Pewartaan Injil

Gereja berhubungan erat dengan pewartaan Injil dalam hakekatnya yang terdalam.

  • Gereja lahir dari kegiatan pewartaan Injil dari Yesus dan kedua belas Rasul. Gereja adalah hasil yang wajar, yang diharapkan, hasil yang paling langsung dan paling kelihatan dari kegiatan ini: oleh karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.
  • Setelah dilahiran sebagai hasil perutusan, maka Gereja pada gilirannya juga diutus oleh Yesus.
  • Gereja adalah pewarta Injil, namun dia mulai hal ini dengan menerima pewartaan itu sendiri. Gereja adalah jemaat kaum beriman, jemaat pengharapan yang dihayati dan komunikasikan, jemaat kasih persaudaraan.
  • Gereja ialah yang dipercaya untuk menjaga kabar baik yang harus diwartakan.
  • Setelah diutus dan diberi pewartaan Injil, maka Gereja sendiri mengutus para pewarta Injil.
  1. Gereja tak terpisahkan dari Kristus

Demikianlah ada hubungan yang mendalam antara Kristus, Gereja dan pewartaan Injil. Dalam masa Gereja, di mana kita hidup di dalamnya, menjadi tugas Gerejalah untuk mewartakan Injil. Perintah ini tidak dapat terlaksana tanpa Gereja, apabila bertentangan dengan Gereja.

 

 

BAB II

APAKAH EVANGELISASI ITU?

 

  1. Kompleksnya kegiatan mewartakan Injil

Di dalam kegiatan Gereja untuk mewartakan Injil memang ada unsur-unsur tertentu dan segi-segi tertentu yang harus ditekankan.beberapa unsur dan segi tadi sedemikian penting sehingga ada suatu kecendrungan untuk mengidentikkan hal-hal kegiatan mewartakan Injil. Dengan demikian maka ada kemungkinan orang merumuskan penginjilan (evangelisasi) dengan rumusan seperti  misalnya mewartakan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Nya, berkhotbah, memberikan katekese, memberikan Baptis, dan Sakramen-sakramen lainnya

  1. Pembaharuan umat manusia

Bagi gereja, penginjilan (evangelisasi) berarti membawa kabar baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru: “Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru”.

  1. Dan segala lapisan umat manusia

Lapisan-lapisan umat manusia yang harus diubah: kriteria penilaian umat manusia, nilai-nilai yang menentukan, bidang-bidang minat, garis-garis pemikiran, sumber-sumber inspirasi dan model-model kehidupan, yang bertentangan dengan Sabda Allah dan rencana penyelamatan.

  1. Evangelisasi Kebudayaan-kebudayaan

Injil, dan oleh karenanya penginjilan, tentu saja tidak identik dengan kebudayaan, dan bersifat independen terhadap semua kebudayaan. Meskipun begitu, Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Injil dihayati oleh manusia-manusia yang secara sangat mendalam terikat pada suatu kebudayaan. Dan pembangunan kerajaan Allah tak dapat tidak harus meminjam unsur-unsur dari kebudayaan manusia atau kebudayaan-kebudayaan. Meskipun tidak tergantung dari kebudayaan, Injil dan penginjilan tidak harus bertentangan dengan kebudayaan. Malahan dapat merasuki kebudayaan tanpa menjadi tunduk terhadapnya.

  1. Pentingnya kesaksian hidup

Kesaksian yang melibatkan kehadiran, ikut berbagi, solidaritas, dan sesuatu yang hakiki dan pada umumnya merupakan hal yang pertama, di dalam penginjilan. Semua orang Kristen dipanggil untuk memberikan kesaksian dengan cara demikian dapat sungguh menjadi penginjil-penginjil sejati.

  1. Perlunya Pewartaan yang eksplisit

Kesaksian yang terbagus pun ternyata tidak efektif dalam jangka panjang, jika tidak dijelaskan, diberi alasan dan di eksplisitkan dengan suatu pewartaan tentang Yesus yang jelas dan tidak akan menimbulkan salah paham.

  1. Supaya diterima dalam hidup dan diterima secara jemaat

Sesunggunya pewartaan itu hanya mencapai perkembangan sepenuhnya bila didengarkan, diterima dan dicerna, dan bila hal itu membangkitkan keinginan untuk mengikuti secara tulus dari orang yang telah pewartaan itu. Di dalam dinamisme penginjilan, seorang pribadi yang menerima Gereja sebagai Sabda yang menyelamatkan, biasanya menterjemahkannya dalam kegiatan-kegiatan sakramantal berikut ini: meneriman sakramen-sakramen, yang menampakan dan mendukung ketaatan tadi melalui rahmat yang mereka berikan.

  1. Melibatkan bentuk kerasulan baru

Akhirnya: orang yang telah menerima pewartaan Injil, ia juga kemudian mewartakan Injil pada orang-orang lain. Di sinilah terletak uji kebenaran, batu penguji Injil: tak dapat dibayangkan bahwa seorang menerima dirinya bagi Kerajaan Allah tanpa menjadi seorang pribadi yang memberi kesaksian mengenai Kerajaan Allah dan pada gilirannya mewartakannya

 

 

 

BAB III

ISI EVANGELISASI

 

  1. Isi pokok dan unsur-unsur sekunder

Di dalam pesan yang disampaikan Gereja tentu banyak unsur-unsur yang sekunder. Penyajiannya sangat tergantung pada situasi yang berubah. Unsur-unsur ini juga berubah. Tetapi isi pokok, hakiki, subtansi yang hidup, yang tidak boleh diubah-ubah ataupun disangkal, karena secara serius pasti berubah hakiki evangelisasi itu sendiri.

  1. Kesaksian yang diberikan mengenai kasih Bapa

Bukan suatu yang berlebihan mengingat kembali butir-butir berikut ini: mewartakan Injil pertama-tama memberi kesaksian, secara sederhana dan langsung, mengenai Allah yang diwahyukan  oleh Yesus Kristus, dalam Roh Kudus.

  1. Merupakan pokok pewartaan: Penebusan dalam Yesus Kristus

Penginjilan juga selalu harus memuat-sebagai dasar, pusat dan sekaligus puncak dari dinamismenya-suatu pewartaan yang jelas, bahwa dalam Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit dari kematian, penebusan ditawarkan kepada segala manusia, sebagai suatu kurnia rahmat dan belaskasih Allah.

  1. Di bawah tanda harapan

Sebagai konsekuensinya evangelisasi mau tak mau menyangkut juga pewartaan profetis  tentang hari akhirat, panggilan manusia yang mendalam dan defenitif, baik dalam kesinambungannya dan terpisahnya dengan situasi sekarang ini: melampaui waktu dan sejarah, melampaui realita dunia ini yang bersifat sementara, melampaui hal-hal di dunai ini.

  1. Pesan yang menyentuh hidup sebagai keseluruhan

Penginjilan atau Evangelisasi tidak akan lengkap bila tidak memperhitungkan interaksi yang terus menerus, antara Injil dan hidup manusia yang konkret, baik dalam kehidupan pribadi maupun hidup sosial.

  1. Sebuah pesan tentang pembebasan

Orang-orang yang terlibat dengan seluruh tenaganya dalam usaha dan perjuangan mengatasi segala hal yang menghukum mereka untuk tetap dalam ambang kehidupan: kelaparan,penyakit kronis, buta huruf, kemiskinan, ketidak-adilan dalam hubungan internasional dan lebih-lebih dalam hubungan perdagangan, situasi ekonomi dan budaya neo-kolonialis, kadang-kadang sama kejamnya dengan kolonialisme kuno dibidang politik.

  1. Yang perlu dihubungkan dengan kemajuan umat manusia

Antara Evangelisasi dan kemajuan umat manusia-perkembangan dan pembebasan sesungguhnya ada ikatan yang mendalam. Hal ini mencakup atau hubungan dibidang antropologis karena manusia perlu pewartaan Injil bukan sesuatu yang abstrak tetapi dipemgaruhi oleh sosial dan ekomoni.

  1. Tanpa menguranginya atau mengaburkannya

Kita tidak boleh mengingkari kenyataan bahwa banyak orang, bahka orang-orang Kristen yang dermawan yang peka terhadap persoalan-persoalan dramatis yang terkandung dalam persoalan pembebasan, di dalam keinginan mereka untuk melibatkan diri dalam usaha gereja pembebasan kerap kali tergoda untuk memperkecil perutusan Gereja hanya pada dimensi-dimensi yang berasal dari suatu proyek yang semata-mata bersifat duniawi.

  1. Pembebasan menurut Injil

Sehubungan dengan pembebasan yang diwartakan oleh Injil dan dicoba untuk dilaksanakan dalam praktek, seharusnya dirumuskan demikian ini:

  • Pembebasan tersebut tidak boleh dibatasi hanya pada dimensi yang semata-mata dan secara terbatas bersifat ekomomis,politis, dan sosial atau hidup budaya. Pembebasan harus mencakup seluruh manusia dalam segala seginya, selaras dan termasuk dengan keterbukaannya terhadap yang mutlak, bahkan terhadap yang Ilahi Yang Mutlak.
  • Karena itu kebebasan terikat pada suatu konsep tertentu tentang manusia, terhadap suatu pandangan tentang manusia yang tak pernah boleh dikorbankan demi keperluan strategi manapun, kebiasaan atau efisiensi yang berjangka pendek.
  1. Yang berpusat pada kerajaan Allah

Oleh karena itu, bila mewartakan pembebasan dan menggabungkan diri dengan mereka yang bekerja dan menderita untuk pembebasan, Gereja tentu saja tidak mau membatasi perutusannya hanya dibidang keagamaan dan memisahkan diri dari persoalan-persoalan duniawi manusia. Meskipun begitu Gereja menegaskan kembali bahwa dia harus lebih mengutamakan panggilan rohaninya dan menolak untuk mengganti pewartaan Kerajaan Allah dengan pewartaan mengenai bentuk-bentuk pembebasan manusiawi. Gereja bahkan menegaskan bahwa sumbangan bagi pembebasan tidaklah lengkap bila pewartaan penebusan Yesus Kristus.

  1. Berdasar pada suatu konsep Injil tentang manusia

Gereja menghubungkan pembebasan manusia dengan penebusan dalam Yesus Kristus, tapi Gereja tidak pernah menyamahkan penebusan dengan pembebasan. Kerena Gereja tahu melalui perwahyuan, pengalaman sejarah dan refleksi iman bahwa tidak setiap gagasan tentang pembebasan sesuai dan cocok dengan pandangan Injili tentang manusia, tentang barang-barang da peristuwa-peristiwa.

  1. Melibatkan suatu pertobatan yang mutlak diperlukan

Gereja berpendapat bahwa tak dapat diragukan lagi pentingnya membangun struktur-struktru yang lebih manusiawi, lebih adil, lebih menghormati hak-hak pribadi dan tidak begitu menekan dan tidak begitu memperbudak. Tapi Gereja sadar bahwa struktur-struktur yang terbaik dan sistem-sistem yang paling ideal dengan akan menjadi tidak manusiawi bila kecendrungan-kecendrungan yang kurang manusiawi dari hati manusia tidak disehatkan, jika jiwa mereka yang hidup  dalam stuktur-struktur ini atau mengaturnya tidak mengalami pertobatan dan pandangan.

  1. Tidak menggunakan kekarasan

Gereja tidak menerima kekerasan, lebih-lebih kekuatan senjata, yang tidak dapat dikontrol sekali hal ini dibiarkan longgar. Bahwa perubahan struktur yang mendadak aau berdasarkan kekerasan adalah suatu yang menipu, tidak efektif, dan tentu saja tidak sesuai dengan martabat manusia.

  1. Sumbangan khas dari Gereja

Gereja melengkapi “pembebasan-pembebasan” kristen ini dengan inspirasi-inspirasi dari iman, motivasi kasih persaudaraan, suatu ajaran sosial gereja harus diketahui oleh orang kristen sejati dan harus dijadikannya dasar kebijaksanaan dan pengalamannya untuk menterjemahkan secara konkret dalam bentuk kegiatan, partisipasi, dan keterlibatan.

  1. Kebabasan agama

Perlunya menjamin hak-hak asasi yang fundamental yang tidak dapat dipisahkan dari pembebasan yang benar, yang berhubungan erat dengan evangelisasi dan yang berusaha untuk membuat struktur-struktur yang menjamin kebebasan manusia. Di antara hak-hak asasi yang fundamental ini, kebebasan agama menduduki tempat yang utama.

 

 

 

BAB IV

METODE-METODE EVANGELISASI

 

  1. Mencari sarana-sarana yang cocok

Persoalan “bagaimana melakukan evangelisasi” tetap selalu relevan, karena metode-metode evangelisasi bermacam-macam, sesuai dengan situasi waktu yang berbeda-beda, situasi tempat dan budaya, dan karena itu menimbulkan tantangan tertentu terhadap kemampuan kita untuk menemukan dan mngadaptasikannya.

  1. Kesaksian hidup

Bagi gereja sarana utama bagi penginjilan adalah kesaksian hidup kristen yang otentik, yang diberikan pada Allah dalam suatu persekutuan, yang tak dapat dibinasakan oleh apapun.

  1. Suatu khotbah yang hidup

Khotbah, pewartaan dengan memakai kata-kata mengenai suatu pesan, selalu harus ada.

  1. Liturgi Sabda
  2. Katekese
  3. Menggunakan media massa
  4. Peranan Sakramen-sakramen
  5. Kesalehan yang merakyat

 

 

 

 

 

BAB V

ORANG-ORANG YANG MENDAPAT MANFAAT DARI EVANGELISASI

 

  1. Ditunjukan kepada setiap orang

Kata-kata Yesus terakhir dalam Injil santo Markus memberikan sifat universal tanpa batas terhadap evangelisasi yang diserahkan oleh Tuhan kepada Para Rasul-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritahkanlah Injil kepada segala makluk”.

  1. Meskipun adanya semua rintangan

Di dalam perjalanan sejarah selama duapuluh abad, generasi-generasi umat Kristen telah secara perodik menghdapi macam-macam rintangan untuk melakukan perutusan yang universal ini. Di satu pihak pada para penginjil sendiri, selalu ada godaan dengan macam-macam alasan untuk menyempitkan medan kegiatan misioner mereka. Di pihak lain kerapkali ada perlawanan yang tak mungkin diatasi, yang berasal dari orang-orang dan ditujukan kepada para penginjil.

  1. Pewartaan pertama kepada mereka yang jauh

Permaklumkan Yesus Kristus dan Injil-Nya kepada mereka yang belum mengenal-Nya, sejak pagi pentakosta, merupakan program pokok yang oleh gereja dianggap diteimanya dari Pendirinya.

  1. Pewartaan yang diperbaharui kepada suatu dunia yang tak Kristen lagi

Pewartaan pertama-tama ditujukan lebih-lebih kepada mereka yang tidak pernah mendengar kabar baik Yesus, atau kepada anak-anak. Tatapi sebagai salah satu akibat dari situasi yang acapkali karena dekristianisasi pada zaman sekarang ini ternyata juga sama perlunya bagi banyak orang telah dipabtis tapi hidup diluar kehidupan kristen.

  1. Agama-agama bukan Kristen

Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama bukan Kristen. Gereja menghormati dan menghargai agama-agama bukan Kristen sebab merupakan ungkapan hidup dari jiwa kelompok besar umat manusia.

  1. Dukungan untuk iman kaum beriman

Gereja berusaha untuk memperdalam, memperkokoh, dan memupuk, membuat semakin matang iman mereka yang telah disebut kaum beriman atau orang-orang yang percaya, agar supaya iman mereka semakin lebih beriman lagi. Iman pada zaman sekarang ini seolah-olah tidak terlindungi lagi, mengalami sekularisme, juga terhadap yang militan.

  1. Orang-orang yang tidak percaya

Dari segi pandangan rohani, dunia modern seolah-olah semakin tenggelam dalam suatu keadaan yang oleh seorang pengarang modern disebut istiah “drama humanisme ateis”. Di pihak lain orang terpaksa mencatat bahwa di dalam inti dari dunia modern ini fenomena yang mempunyai ciri yang sangat mencolok: sekularisme. Sekularisme adalah usaha untuk menemukan di dalam ciptaan, di dalam tiap hal dan tiap kejadian dalam semesta alam, hukum-hukum yang mengatur dengan otonomi tertentu, tapi dengan keyakinan batin bahwa sang pencipta telah meletakan hukum-hukum ini.

Di lain pihak dan ini merupakan suatu yang paradoks, dalam dunia modern yang sama, tak dapat disangkal adanya batu pijak yang nyata bagi orang kristen  dan juga nilai-nilai injili, sekurang-kurangnya dalam bentuk perasaan kosong atau nostalgia. Bukanlah suatu yang berlebih-lebihan untuk mengatakan bahwa muncul suatu daya tarik yang kuat dan tragis untuk diberi evangelisasi

  1. Orang yang tidak menjalankan agamanya

Sekularisme ateis dan sikap tidak mau menjalankan kehidupan agama terdapat di antara orang-orang dewasa dan kaum muda, di antara para pemimpin masyarakat baik dalam umat Gereja kuno maupun di dalam umat gereja-gereja muda. Gereja harus terus mencari sarana-sarana yang tepat dan bahasa yang tepat untuk menyajikan, atau menyajikan kembali wahyu Allah dan iman terhadap Yesus Kristus.

  1. Pewartaan kepada orang banyak

Seperti Kristus selama masa pewartaan-Nya, pun pula seperti kedua belas Rasul pada pagi pentakosta, Gereja yang melihat dihadapannya sejumlah besar orang yang membutuhkan Injil dan punya hak untuk menerima Injil, karena Allah, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaan.

  1. “Komunitas basis” gerejani

Komunitas ini muncul dan berkembang di dalam Gereja, punya solidaritas dengan hidup Gereja karena dibekali dengan ajaran gereja dan bersatu dengan pastor-pastornya. Dalam kasus ini komunitas basis muncul karena kebutuhan untuk menghayati hidup Gereja dengan lebih intensif, atau karena keinginan dan usaha mencari suatu dimensi yang lebih manusiawi, yang sukar didapat dari jemaat-jemaat yang lebih besar, lebih-lebih di kota modern yang besar yang menyebabkan mereka sendiri hidup di dalam massa dan anonim.

 

 

 

 

 

BAB VI

PEKERJA-PEKERJA UNTUK EVANGELISASI

 

 

  1. Gereja dalam keseluruhannya bersifat misioner

Hal ini merupakan tugas Gereja agar supaya “berdasarkan perintah ilahi, tetap ada kewajiban untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil ke segala makluk”. Dan dalam teks yang lain”…….seluruh Gereja adalah misioner, dan karya evangelisasi merupakan salah satu tugas mendasar dari Umat Allah. Seraya Gereja mewartakan kerejaan Allah dan membangunnya, Gereja membangun dirinya ditengah-tengah dunia sebagai tanda dan alat kerejaan ini yang sudah ada dan yang akan datang.

  1. Perspektif Gerja yang Universal

Tuhan menghendaki Gereja-Nya menjadi: Universal, suatu pohon yang besar yang cabang-cabangnya menaungi burung di udara, suatu jala yang menangkap ikan dari segala jenis, atau oleh Petrus ditarik penuh ikan-ikan besar sejumlah seratus lima puluh tiga ekor, suatu kawanan yang digembalakan oleh satu Gembala,

  1. Perspektif Gereja Setempat

Walaupun demikian Gereja yang Universal tadi dalam prakteknya menjelma di dalam Gereja-gereja setempat yang terdiri dari umat manusia tertentu, yang berbicara dengan bahasa manusia tertentu, suatu pandangan tertentu mengenai dunia, memiliki suatu sejarah di masa lampau, bagian lapisan umat tertentu. Kepekaan terhadap Gereja setempat sangat cocok dengan kepekaan khusus dari manusia modern.

  1. Penyesuaian dan kesetiaan dalam ungkapan

Gereja –Gereja setempat, yang secara mendalam dibangun bukan hanya oleh orang-orang tapi juga oleh aspirasi-aspirasi, kekayaan dan pembatasan, cara-cara berdoa, mengasihi, cara melihat hidup dan dunia, yang membedakan kelompok yang ini dan yang itu, yang mempunyai tugas mengasimilasikan hakekat pesan Injil dan menyampaikannya, tanpa mengkhianati sedikit pun kebenaran yang hakiki, di dalam bahasa yang dipahami oleh orang-orang tertentu ini, dan menyampaikannya dalam bahasa tersebut.

  1. Keterbukaan terhadap Gereja Universal
  2. Harta iman yang tak mungkin berubah
  3. Tugas yang bermacam-macam
  4. Pengganti Petrus
  5. Para Uskup dan Para Imam
  6. Kaum Rohaniwan-Rohamiwati
  7. Kaum awam
  8. Keluarga
  9. Kaum muda
  10. Para pelayan yang bermacam-macam

 

 

 

BAB VII

SEMANGAT EVANGELISASI

 

  1. Seruan yang mendesak
  2. Di bawah karya Roh Kudus
  3. Saksi-saksi hidup, yang otentik
  4. Mencari kesatuan
  5. Hamba-hamba kebenaran
  6. Dijiwai oleh kasih
  7. Dengan semangat Para Orang Kudus

 

 

 

REFLEKSI

 

Dalam buku Evangelii Nuntiandi ini saya menemuka arti sesungguhnya dari pewartaan Injil serta isi dari pewartaan itu, pewartaan atau Evangelisasi merupakan suatu karya pewartaan untuk semua orang yang belum mendengar kabar baik tentang Yesus, dalam pewartaan itu, yang harus diwartakan adalah Injil Tuhan. Dalam melakukan pewartaan saya juga dapat mengetahui bahwa pewartaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: kesaksian hidup, katekese, dimana katekese merupakan tugas utama yang akan saya terima nantinya ketika saya selesai sekolah di tempat ini, di dalam buku ini saya juga mengetahui bahwa evangelisasi diberikan kepada setiap manusia yang berada di dunia ini, dan dalam melakukan itu yang pertama harus dilakukan adlah kesaksian hidup, dimana saya sebagai orang Katolik harus bisa hidup dan bertindak sesuai dengan jiwa dan semangat Katolik, dan dalam memberikan kesaksian juga saya dapat memahami bahwa, hanya dengan apa yang kita lakukan dan apa yang kita perbuat dapat membuat orang banyak mengikuti Kristus yang kita wartakan. Saya ingin belajar dengan sungguh dan belajar dengan sungguh agar  saya dapat memberi kesaksian tentang Kristus, saya berbuat dan bertindak sesuai dengan kepribadian Katolik yang benar dan saya juga ingin menjadi seorang Katolik sejati, dan tidak pernah takut untuk mewartakan Injil Tuhan dimanapun saya berada, saya ingin agar orang lain juga mendapat kabar baik dari Kristus, Sang Penebus.

 

 

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kateketik Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s